Sabtu, 21 Desember 2019

Peran TNI dalam Mengajar Anak-anak di Perbatasan Indonesia

Kurangnya tenaga pengajar di perbatasan Indonesia bukan lagi hal baru. Untuk tetap melanjutkan perjuangan, TNI menjadi guru pengganti di garda utara Indonesia.

Selama seminggu, detikcom bersama Bank BRI melakukan ekspedisi tentang pulau perbatasan Indonesia. Alam yang sulit dan cuaca ekstrem sudah menjadi teman akrab bagi penduduk Miangas.

Keadaan yang sulit ini jugalah yang menjadi alasan bagi para pendidik untuk tinggal di Miangas. Fakta yang cukup pahit harus dihadapi, Miangas kekurangan guru.

Untuk terus membantu kegiatan belajar-mengajar, TNI AD dan AL berinisiatif menjadi tenaga mengajar tambahan di SD, SMP, SMK Miangas.

"Jadi dari sekolah kekurangan tenaga pendidik dan waktu kita membawakan materi, anak-anak terlihat antusias dan semangat. Dari situ kita inisiatif untuk jadi tenaga pendidik," ujar Praka Teguh Prayitno.

Sejak pertama kali bertugas di Miangas, Teguh sudah mengabdikan diri untuk mengajar di SD dan SMP Miangas. Ia mulai bertugas di SD kelas 4, 5, dan 6 sejak dari bulan Februari.

"Saya mengajar matematika di SD dan SMP. Kalau mengajar saya mobile di kelas mana saja yang tidak ada gurunya. Kalau ada kelas yang kosong saya bantu mengajar," ucap Teguh.

Sebelum mengajar, Teguh harus mempersiapkan materi untuk besok. Materi yang diberikan diselingi dengan permainan supaya kelas tidak bosan dan tegang.

"Contohnya penyelesaian soal yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Supaya mereka lebih mengerti dan paham," tambah Teguh.

Memanggul tanggung jawab pengajar bukanlah hal gampang. Siswa yang rewel dan sulit di atur menjadi bumbu dalam pengabdian. Belum lagi kurangnya sarana dan prasarana seperti alat praktikum untuk siswa.

Namun demikian, mengajar menjadi kegiatan pelipur lara di balik sepinya pulau ini. Mendekatkan diri dengan anak-anak dan orang tua membuat hubungan TNI dan masyarakat semakin kuat.

"Saya mau mengajar sampai tugas di sini selesai, karena sudah jadi rutinitas kegiatan pos sehari-hari," kata Teguh.

Mengenal Area Lintas Batas Negara di Utara Indonesia

 Miangas di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara bukan cuma sekedar pulau eksotis. Berada di ujung utara Indonesia, Miangas jadi perbatasan dengan Filipina.

detikcom bersama Bank BRI melakukan ekspedisi Miangas untuk melihat kehidupan masyarakat di perbatasan. Bukan cuma sekedar perbatasan negara, Miangas adalah Border Cross Area.

Mari mulai dengan kedekatan Miangas dan Filipina sejak dulu. Sebagai pulau yang lebih dekat dengan Filipina, Miangas cukup bergantung pada Filipina.

Tak hanya sekedar berdagang dan memenuhi kebutuhan bahan pokok, Miangas dan Filipina sudah menali persaudaraan lewat perkawinan. Namun kegiatan ini mulai berkurang sejak ditetapkannya Border Cross Area.

"Border Crossing Area (BCA) atau Daerah Lintas Batas, untuk Kabupaten Talaud, Miangas menjadi check poinnya," ujar Sepno Lantaa, Camat Khusus Miangas.

Unsur dari BCA adalah camat, angkatan laut, imigrasi, bea cukai dan karantina. BCA mulai berdiri di Indonesia sejak 1975. Tugas utama dari BCA adalah mengawasi lalu lintas manusia dan perdagangan barang.

Sejak itu lalu lintas dan perdagangan mulai ketat. Dalam seminggu hanya ada satu-dua pelintas yang datang dengan menggunakan pamboat atau perahu motor tempel.

Untuk masuk ke dalam daerah lintas batas atau BCA pun tak sembarangan, traveler. Kalau biasanya kamu hanya butuh paspor untuk kunjungan ke luar negeri, BCA membutuhkan lebih dari itu yaitu Kartu Lintas Batas (KLB).

Mega Proyek Pariwisata Arab Saudi (2)

3. Proyek Laut Merah

Proyek ini dilakukan di kota pesisir Umluj dan Al Wajh dengan luas 30.000 Kilometer persegi. Ini adalah kawasan dengan pulau-pulau cantik, lanskap gurun, harta bersejarah dan arkeologi dan gunung berapi yang tidak aktif.

Proyek ini akan menjadi resor serba guna yang sepenuhnya terintegrasi, mewah, dan serba guna di Timur Tengah. Rancangan kawasan ini juga fokus dengan warisan budaya dan konservasi yang menyediakan 8.000 kamar hotel.

Sepanjang 200 Km wilayah ini meliputi pantai yang masih alami dan lanskap gurun yang luas yang kaya akan kekayaan arkeologi kuno. Tak hanya itu, nantinya mereka juga akan membangun pulau buatan dan menanam 15 juta tanaman seluas 100 hektar.

Destinasi ini tak hanya menawarkan resor dan pemandangan pulau. Di sini juga terdapat kehidupan laut yang melimpah dan penyelaman kelas dunia.

4. Amaala

Masih berada di kawasan sepanjang Laut Merah, Provinsi Tabuk proyek ini berbatasan dengan Kota Neom dan Proyek Laut Merah. Proyek ini akan membantu pengembangan pusat pariwisata baru di Arab Saudi.

Pengembangan ini akan menambah 2.500 kamar hotel, 700 villa dan perumahan pribadi dan area ritel dengan 200 outlet. Amaala juga akan menampilkan akademi seni guna mengembangkan seniman muda dari Arab Saudi.

Area seluas 3.000 kilometer persegi nantinya akan punya bandara sendiri dan menargetkan pelancong mewah. Nantinya kawasan ini juga dilengkapi dengan pembangunan untuk pendidikan, infrastruktur, y=taman dan perumahan.

5. Qiddiya

Qiddiya dibangun menjadi destinasi hiburan, olahraga dan budaya unggulan Arab Saudi. Proyek ini berada di pinggiran Riyadh dan menjadi pusat hiburan pertama kerajaan dan terbesar di dunia.

Pembangunan Qiddiya ditargetkan selesai di 2023. Ini akan menjadi rumah bagi roller coaster tercepat di dunia dan ragam wahana lainnya. Serta mencakup juga fasilitas olahraga dan taman safari.

Proyek Qiddiya telah dimulai sejak April 2018 lalu dan sedang dikembangkan dalam tiga fase. Tahun ini ditargetkan untuk meluncurkan Qiddiya Experience Center dan dimulainya pembangunan fase satu.

Arab Saudi rumah bagi 5 Warisan Budaya UNESCO

Tak hanya berbau dengan nuansa mewah saja, Arab Saudi juga mengutamakan aspek budaya dan kekayaan arkeologi yang dimilikinya. Terdapat 5 situs UNESCO yang berada di wilayah Arab Saudi.

- Rock Art yang berusia 10.000 tahun di Hail
- Al Ahsa, oasis terbesat di dunia
- Situs arkeologi Al Hijr
- Benteng Distrik At-Turaif
- Kota Tua Jeddah

Arab Saudi punya daya tarik misterius

Dilansir dari CNN travel, Laura Alho seorang Influencer asal Finlandia mengatakan bahwa Arab Saudi punya daya tarik yang luar biasa. Arab Saudi punya budaya yang kaya, sarat sejarah, dan beragam bentang alam.

Tentu saja pernyataan dari Alho ini sekaligus menepis stigma bahwa Arab Saudi hanya tentang minyak dan gurun pasir tandus saja.

Begitu juga dengan pengakuan Marc Nouss, seorang fotografer asal Paris yang telah berkunjung ke Arab Saudi dua kali. Dia berkunjung ke gurun bersejarah Al-Ula dan pegunungan Al-Soudah.

"Kebaikan orang yang tinggal di sana adalah poin utama. Saya sering bepergian ke beragam negara, dan tidak menemukan hal seindah di dua tempat di atas. Saya mendengar Arab Saudi akan membuka pariwisatanya, dan saya yakin ini akan berhasil karena mereka sangat kaya akan budaya dan sejarah," ungkapnya.