Minggu, 22 Desember 2019

Kuliner Rekomendasi Khas Simeulue: Mie Lobster (2)

Pulau Simeulue dikenal akan lobster yang jadi hasil laut unggulannya. Namun, lobster pun kian sedap ketika diracik untuk olahan mie. Yummy!

Di sejumlah kota besar, umumnya kuliner berbahan baku lobster hanya dapat dijumpai di hotel mau pun restoran ternama dengan harga fantastis. Hanya di Simeulue, makanan berbahan lobster dapat dijumpai di rumah makan kaki lima pinggir jalan.

Tim detikcom dan Bank BRI melakukan kunjungan ke Pulau Simeulue yang masuk Provinsi Aceh pada 28 Agustus hingga 5 September 2019 lalu. Pada kunjungan itu, detikcom pun sempat menjajal kuliner mie lobster yang jadi andalan Simeulue.

Berbekal informasi dari warga setempat, detikcom pun bertandang ke rumah makan Mie Sinan di pusat Kota Sinabang. Menurut beberapa orang, rumah makan yang satu ini kerap menjadi tempat jamuan tamu Pemkab hingga wisatawan.

Dari segi ukuran, rumah makan yang satu ini memang terbilang standar. Presentasinya pun biasa, seperti layaknya rumah makan Aceh yang mulai menjamur di Jakarta. Hanya untuk soal rasa, wanginya sudah menyeruak sejak sebelum kami masuk ke dalam rumah makan.

Setelah duduk di tempat yang disediakan, pandangan pun beralih pada pilihan menu yang menempel di tembok. Tertulis aneka menu mie dengan berbagai bahan, contohnya seperti udang, cumi-cumi, kepiting hingga lobster. Tentunya kami memilih yang opsi terakhir.

Tak sampai situ, kami pun diperbolehkan memilih mie yang ingin diolah. Ada mie kuning khas Aceh, hingga mie instan rasa kari ayam. Masing-masing punya citarasa berbeda.

Sambil menunggu, kami pun berbincang dengan pemilik rumah makan yang bernama pak Adnan. Sambil memasak, ia pun berbagi sedikit cerita soal rumah makannya.

"Buka dari 2006. Ada cumi, lobster, kerang biasa, ada 9 macam menu," pungkas Adnan.

Dijelaskan oleh Adnan, harga makanan di tempatnya cukup beragam. Harganya berkisar dari 10 sampai 70 ribu per porsinya tergantung bahan olahan. Namun, ada kalanya cuaca buruk dan bahan baku tak tersedia.

"Ini kerupuk harusnya pakai kerupuk emping, tapi sedang habis stok. Jadi pakai kerupuk panda kalau kami bilang. Lihat saja, ada gambar pandanya kan?" ujar Adnan sambil menunjukan bungkus kerupuk.

Sedikit lama menunggu, mie lobster pun segera terhidang di hadapan kami. Presentasinya pun sangat khas mie Aceh, tampak kuah bumbu rempah berwarna merah dengan potongan lobster. Tak lupa juga garnish-nya yang terdiri dari irisan bawang merah dan kerupuk.

Tak cuma itu, pak Adnan bahkan memberikan bonus berupa beberapa potong olahan lobster yang telah dibumbui. Ketika sendok masuk ke mulut, rasa rempah khas Aceh yang sedikit pedas langsung terasa.

Kian sedap ketika dimakan dengan daging lobster yang empuk bukan main. Hanya saja makannya tak boleh buru-buru atau sambil ngobrol, kalau tersedak bisa panjang urusannya.

Seporsi mie lobster ini pun dihargai sekitar Rp 70 ribuan. Mie Sinan sendiri buka setiap hari dari pukul 10.00-00.00 WIB. Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

Tempat Ini Dijuluki Tanah yang Dibuat Tuhan Saat Sedang Marah

Kering, tandus, dan alam yang ekstrem, jadi kata yang kerap digambarkan untuk Skeleton Coast. Tanah yang dibuat saat Tuhan sedang marah, begitu julukannya.

Jangan harapkan menemui destinasi instagramable atau liburan santai di dalam artikel ini. Tak ada ijo royo-royo yang biasanya jadi pelarian bagi mata. Yang kali ini hadir adalah wisata ekstrem luar biasa dari tanah Afrika.

Melalui banyak sumber, Selasa (24/9/2019), detikcom mencoba untuk memberikan informasi pas untuk destinasi satu ini, Skeleton Coast. Bukan sembarang, ada makna penuh dari pemberian nama itu.

Mari mulai dari letak Skeleton Coast. Skeleton Coast berada di antara utara Namibia dan selatan Angola, Afrika Selatan. Penduduk aslinya disebut Saan atau Bushmen.

Nama Skeleton Coast tidak muncul begitu saja. Pemberian nama ini diperkenalkan oleh John Henry Marsh ke dalam bukunya yang mengisahkan kapal karam Dunedin Star. Buku yang terbit tahun 1944 ini akhirnya menjadi awal dari nama Skeleton Coast.

Beda dengan pelaut Portugis. Masa lalu laut yang penuh darah dengan perburuan paus membuat pelaut Portugis datang ke Namibia.

Persis seperti yang digambarkan Marsh, pesisir ini punya kekuatan luar biasa untuk menenggelamkan kapal sebelum sampai di pantainya. Dengan tergopoh-gopoh meninggalkan Namibia, pelaut Portugis menyebut pantai ini The Gates of Hell atau Gerbang Neraka.

Jauh sebelum bangsa lain datang, Bushmen sudah lebih dulu mencicipi keganasan Skeleton Coast. Tak ada yang tahan untuk tinggal di tanah ini. Kekeringan dan hawa panas yang menyengat menggambarkan murka Tuhan di dunia.

Bukan kutukan, tapi peringatan bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di tanah ini. Bushmen memberinya nama The Land God Made in Anger, atau Tanah yang dibuat Tuhan saat sedang marah.

Seburuk-buruknya julukan yang digambarkan tak bisa melepaskan rasa penasaran tentang Skeleton Coast. Melalui banyak cerita perjalanan, detikcom menemukan kilau dari Skeleton Coast.

Sekali lagi, bukan pantai cantik atau safari buatan. Skeleton Coast memberikan pengalaman ekstrem dan uji nyali bagi wisatawan yang datang.

Bayangkan pesisir luas yang dihantam dengan gulungan gelombang besar. Seluas 16.000 km, wisatawan harus puas dengan gurun yang menguntai sejak dari bibir pantai.

Tak ada barisan pohon kelapa. Yang terlihat adalah bangkai kapal sampai kerangka paus. Pernah ada pendataan, Skeleton Coast menyimpan sekitar 500 bangkai di pesisirnya.

Masyarakat setempat percaya bahwa kerangka-kerangka tersebut milik manusia. Pemandangan inilah yang mungkin membuat Marsh menyebut pesisir ini Skeleton Coast.

Pemandangan air laut biru tak bisa dinikmati dengan mudah. Seringkali kabut tebal menutupi lautan. Gelombang dan arus membuat siapa pun enggan untuk main basah-basahan.

Ada pun aktivitas yang terlihat adalah macan tutul, hyena atau pemangsa lain yang mencoba mengisi perut dengan kekayaan laut. Manusia sangat jarang terlihat di tempat ini.

Hal ini dikarenakan sangat sulitnya izin yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk wisatawan setiap tahunnya. Kalau bisa masuk, kekayaan alam Namibia siap menyambutmu!