Kering, tandus, dan alam yang ekstrem, jadi kata yang kerap digambarkan untuk Skeleton Coast. Tanah yang dibuat saat Tuhan sedang marah, begitu julukannya.
Jangan harapkan menemui destinasi instagramable atau liburan santai di dalam artikel ini. Tak ada ijo royo-royo yang biasanya jadi pelarian bagi mata. Yang kali ini hadir adalah wisata ekstrem luar biasa dari tanah Afrika.
Melalui banyak sumber, Selasa (24/9/2019), detikcom mencoba untuk memberikan informasi pas untuk destinasi satu ini, Skeleton Coast. Bukan sembarang, ada makna penuh dari pemberian nama itu.
Mari mulai dari letak Skeleton Coast. Skeleton Coast berada di antara utara Namibia dan selatan Angola, Afrika Selatan. Penduduk aslinya disebut Saan atau Bushmen.
Nama Skeleton Coast tidak muncul begitu saja. Pemberian nama ini diperkenalkan oleh John Henry Marsh ke dalam bukunya yang mengisahkan kapal karam Dunedin Star. Buku yang terbit tahun 1944 ini akhirnya menjadi awal dari nama Skeleton Coast.
Beda dengan pelaut Portugis. Masa lalu laut yang penuh darah dengan perburuan paus membuat pelaut Portugis datang ke Namibia.
Persis seperti yang digambarkan Marsh, pesisir ini punya kekuatan luar biasa untuk menenggelamkan kapal sebelum sampai di pantainya. Dengan tergopoh-gopoh meninggalkan Namibia, pelaut Portugis menyebut pantai ini The Gates of Hell atau Gerbang Neraka.
Jauh sebelum bangsa lain datang, Bushmen sudah lebih dulu mencicipi keganasan Skeleton Coast. Tak ada yang tahan untuk tinggal di tanah ini. Kekeringan dan hawa panas yang menyengat menggambarkan murka Tuhan di dunia.
Bukan kutukan, tapi peringatan bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di tanah ini. Bushmen memberinya nama The Land God Made in Anger, atau Tanah yang dibuat Tuhan saat sedang marah.
Seburuk-buruknya julukan yang digambarkan tak bisa melepaskan rasa penasaran tentang Skeleton Coast. Melalui banyak cerita perjalanan, detikcom menemukan kilau dari Skeleton Coast.
Sekali lagi, bukan pantai cantik atau safari buatan. Skeleton Coast memberikan pengalaman ekstrem dan uji nyali bagi wisatawan yang datang.
Bayangkan pesisir luas yang dihantam dengan gulungan gelombang besar. Seluas 16.000 km, wisatawan harus puas dengan gurun yang menguntai sejak dari bibir pantai.
Tak ada barisan pohon kelapa. Yang terlihat adalah bangkai kapal sampai kerangka paus. Pernah ada pendataan, Skeleton Coast menyimpan sekitar 500 bangkai di pesisirnya.
Masyarakat setempat percaya bahwa kerangka-kerangka tersebut milik manusia. Pemandangan inilah yang mungkin membuat Marsh menyebut pesisir ini Skeleton Coast.
Pemandangan air laut biru tak bisa dinikmati dengan mudah. Seringkali kabut tebal menutupi lautan. Gelombang dan arus membuat siapa pun enggan untuk main basah-basahan.
Ada pun aktivitas yang terlihat adalah macan tutul, hyena atau pemangsa lain yang mencoba mengisi perut dengan kekayaan laut. Manusia sangat jarang terlihat di tempat ini.
Hal ini dikarenakan sangat sulitnya izin yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk wisatawan setiap tahunnya. Kalau bisa masuk, kekayaan alam Namibia siap menyambutmu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar