Sabtu, 01 Februari 2020

Pasangan Ini Selamat dari Sarang Buaya Setelah Menulis HELP

Sepasang kekasih diselamatkan dari pedalaman Australia setelah menulis kata 'HELP' di lumpur. Kata bermakna permintaan tolong inilah yang menarik perhatian kru pencari.

Colen Nulgit (20) dan pacarnya Shantelle Johnson (18) pergi memancing pada hari Minggu di sungai di Taman Nasional Keep River di Wilayah Utara dekat perbatasan dengan Australia Barat. Ada buaya air asin di semua saluran air atau sungai di sekitar taman, menurut pemerintah Northern Territory.

Tetapi Nulgit mengatakan, di hari mereka memancing berubah menjadi tempat menginap semalam. Mereka tidak bisa tidur karena kendaraannya terjebak dalam lumpur.

Dilansir CNN Travel, Kamis (25/4/2019), Nulgit mengatakan mereka telah melihat jejak buaya di daerah itu sebelumnya. Dan, ketika air naik dan matahari terbenam, mereka semakin takut tersapu oleh gelombang besar atau diserang oleh buaya atau dingo.

"Buaya-buaya di sini, mereka tidak takut pada manusia, mereka tidak takut pada apa pun. Makanan makanan untuk mereka. Apa pun itu jenisnya," katanya.

Di kota asal mereka Kununurra, 1,5 jam berkendara dari taman nasional itu, ibu Johnson menelepon polisi ketika mereka tidak bisa kembali malam itu. Lalu, Nulgit mengatakan mereka meringkuk di bawah selembar kain di dalam mobil, tidak bisa tidur.

Mereka menulis kata 'HELP' dalam huruf kapital yang besar di lumpur kering dengan tiang pagar sekitar pukul 04.00, Senin (15/4). Mereka berharap dapat menarik perhatian dari pesawat yang lewat.

Namun Nulgit mengaku khawatir jika terdampar untuk waktu yang lama. Beruntung, polisi Kununurra mengoordinasikan sebuah kelompok pencarian menggunakan sebuah pesawat dari perusahaan setempat untuk menemukan pasangan itu.

Nulgit mengatakan dia dan Johnson menyalakan api setelah mereka mendengar pesawat untuk membantu menarik perhatian. Setelah 26 jam, mereka akhirnya selamat!

"Jika mereka tidak menyalakan api dan memberi tahu anggota keluarga perincian kapan mereka berangkat dan perkiraan waktu pulang, pasangan itu mungkin belum ditemukan," kata polisi itu dalam sebuah pernyataan.

Nulgit mengatakan petualangan itu tidak akan menghalangi mereka untuk bertualang lagi. Di lain hari mereka harus memiliki peralatan yang belum dimiliki sebelumnya.

"Saya hanya bersyukur untuk semua orang yang datang membantu dan keluar untuk mencari kami. Kita beruntung selamat dan keluar dari itu," katanya.

Pohon Kambing Maroko yang Ikonik, Ternyata Bohongan?

Ada yang ikonik di Maroko, namanya pohon kambing. Tapi ternyata, fenomena rumornya hanya tipuan untuk menarik wisatawan.

Diintip detikcom dari berbagai sumber, Kamis (25/4/2019) fenomena pohon kambing sebenarnya hal yang biasa. Maroko punya pohon argan yang menghasilkan buah manis untuk dimakan oleh kambing.

Sesekali, kambing akan naik ke pohon untuk makan buah argan. Hal ini menjadi menarik dimata wisatawan, bahkan ikonik.

Akhirnya banyak wisatawan yang berburu foto dengan kambing di pohon argan. Melihat ini sebagai peluang bisnis, para peternak di Maroko pun mengambil kesempatan ini, seperti yang diselidiki oleh fotografer Aaron Gekoski.

Para peternak akan membawa kambing-kambinng muda untuk diletakkan di pohon argan. Satu-satu di setiap cabang, pohon argan tampak sangat menarik bagi wisatawan.

Peternak akan menunggu di bawah pohon dan membujuk wisatawan untuk berfoto dengan pohon kambing. Setelah itu, wisatawan akan diminta untuk membayar atraksi wisata tersebut.

Semakin banyak turis yang datang, peternak Maroko pun semakin kecanduan. Batang pohon argan diikat sehingga menjadi pijakan bagi kambing.

Kambing-kambing akan mulai diletakkan dari pagi sampai sore. Kadang para peternak akan membuat shift untuk menukar kambing yang kelelahan dengan yang baru.

Itu pun kalau sudah jatuh, baru diganti kambing yang baru. Kalau sial, kambing ini harus berdiri seharian di batang argan. Kasihan ya...

Hasilnya, banyak kambing yang stress dan kurus. Belum lagi diperparah dengan banyaknya wisatawan yang hilir mudik.

Kambing-kambing ini tidak mencari makan karena harus berdiri seharian di atas pohon. Sekali lagi, hanya untuk menarik wisatawan yang datang ke Rabat.

Belum lagi, ada kerugian yang dihasilkan karena meletakkan kambing di pohon argan. Kuku-kuku kambing yang berdiri seharian juga dinilai merusak cabang pohon argan.

Mengetahui hal ini, banyak aktivis yang mulai buka suara. Atraksi wisata ini dinilai kejam dan mengeksploitasi hewan. Bagaimana menurutmu, traveler?

Jumat, 31 Januari 2020

Melihat Aksi Pendekar Silat Bertarung di Atas Rakit

Sejumlah pendekar silat bertarung di atas rakit yang berada di pinggir Situ Sipatahunan. Ini untuk memeriahkan hari jadi Kabupaten Bandung.

Para pendekar silat itu bertarung dalam acara Festival Situ Sipatahunan 2019 yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, sekaligus memperingati Hari Jadi Kabupaten Bandung ke 378.

Meski bertarung di atas rakit yang berada di tengah genangan air, tanpa mengurangi sejumlah jurus andalan, mereka tetap bertarung dengan sengit dan bergantian mengalahkan lawan. Para pendekar yang kalah dalam pertarungan harus jatuh ke dalam genangan air.

Acara ini dibuka langsung oleh Bupati Bandung Dadang Mau Naser dan dihadiri oleh ratusan masyarakat Kabupaten Bandung.

Dadang mengatakan, Festival Situ Sipatahunan ini sudah diselenggarakan sebanyak tiga kali. "Ini acara yang ketiga kalinya. Diselenggarakan setiap tahun sebagai langkah untuk melestarikan Situ Sipatahunan," kata Dadang dalam sambutannya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Agus Firman mengatakan, acara ini digelar dengan mengusung tema seni dan budaya.

"Silat dilakukan di atas rakit, menampilkan potensi kuliner dan kesenian seperti benjang, debus, reog, karinding dan wayang golek," ujar Agus.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Disparbud Kabupaten Bandung dr Aten Sonadi menuturkan, Situ Sipatahunan memiliki potensi wisata tinggi.

"Situ Sipatahunan merupakan bagian penting sebagai budayanya. Ke depannya Sipatahunan akan menarik untuk dikunjungi, dan menjadi destinasi wisata Kampung Wisata Budaya yang merupakan inovasi masyarakat Baleendah yang dapat menjaga alam, seni dan budayanya," tuturnya.

Aten juga mengatakan, Situ Sipatahunan sudah enak dan laik dikunjungi. "Saya yakin ke depannya, Sipatahunan akan bisa menjadi pilihan obyek wisata dan bersaing dengan wisata lainnya yang ada di Kabupaten Bandung," pungkasnya.

Membersihkan Pesawat Waktunya Singkat, Penumpang Harus Sadar Diri

Kebersihan pesawat menjadi tanggung jawab petugas ground handling. Namun karena waktu membersihkannya singkat, penumpang juga harus sadar diri ya!

Hal itu terlihat pada postingan Instagram Angkasa Pura, ap_airports seperti dilihat detikcom, Minggu (28/4/2019). Lewat Instagram, Angkasa Pura sebagai pengelola lalu lintas udara dan bandara di Indonesia, sering memberikan edukasi seputar dunia aviasi.

Baru-baru ini, Angkasa Pura memposting soal 'Siapa yang Membersihkan Pesawat?'. Dijelaskan terdapat petugas ground handling yang akan membersihkan pesawatnya ketika sudah mendarat.

Mereka membersihkan bagian kabin sampai toilet di dalam pesawat. Namun, waktu membersihkannya pun tak lama.

Biasanya hanya sekitar 25-45 menit pesawat yang parkir di bandara kemudian terbang lagi. Waktu sesingkat itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar sampah-sampah terangkut. Sehingga membuat pesawat bersih dan penumpang pun nyaman.

Akan tetapi, ada baiknya penumpang pesawat juga sadar diri. Diharapkan dapat berperan dalam kebersihan di pesawat, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan terutama memperhatikan kebersihan di toilet.