Kamis, 06 Februari 2020

Penampakan Roller Coaster Macet, Penumpangnya Turun Jalan Kaki

Baru-baru ini heboh di Inggris, roller coaster di suatu taman rekreasi macet. Direkam oleh pengunjung lain, terlihat penumpangnya turun jalan kaki.

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Jumat (12/4/2019) peristiwa itu terjadi di Drayton Manor Theme Park, Staffordshire. Suatu wahana permainan roller coaster, bernama Shockwave macet saat sedang melaju di ketinggian.

Dalam rekaman video yang diposting oleh akun Twitter @GPT91, terlihat penumpang roller coaster tersebut turun dengan berjalan kaki. Untungnya juga, posisi roller coaster tidak dalam keadaan terbalik.

Petugas pun langsung membantu mengawal para penumpangnya dengan mengarahkan berjalan kaki di tangga di dekat trek roller coasternya. Dilaporkan, semua penumpang dalam keadaan selamat hanya terjadi sedikit kepanikan.

Pihak pengelola Drayton Manor Theme Park meminta maaf atas kejadian tersebut. Mereka berjanji untuk terus meningkatkan keamanan dan perawatan semua wahana permainan. Asal tahu saja, roller coaster Shockwave di sana sudah ada sejak tahun 1994.

Kota Tua di Pekanbaru, Dulu Seram Kini Berwarna-Warni

 Kampung Bandar, kawasan kota tua di Pekanbaru, Riau kini berubah. Dulunya terkesan menyeramkan, tapi kini jadi kinclong dan berwarna-warni.

Kampung Bandar dan pelabuhan tua Pelindo kini terlihat lebih hidup dan jauh dari kesan kuno dan menyeramkan karena penyelenggaraan Riau Festival 2019 pada 11 April. Kawasan kota tuanya Pekanbaru di tepi Sungai Siak ini menjadi potensi wisata yang lekat dengan kehidupan warga dan sejarah masa lalu di dalamnya.

Warga Kampung Bandar terlihat antusias menyambut penyelenggaraan Riau Festival mulai dari memperbaiki jembatan kayu yang rusak, membuat lukisan di area pelabuhan, hingga ikut berjualan makanan saat acara.

"Senang karena nampak bersih, rapi jadinya. Saya bilang dinding (rumah) bapak dicat saja, sekarang jadi nampak semarak Kampung Bandar ini," kata warga Kampung Bandar, Pak Itam kepada detikcom, Jumat (12/4/2019).

Menurut dia, berkat penyelenggaraan Riau Festival terasa manfaatnya untuk warga setempat. Daerah kota tua itu kini terlihat lebih rapi dan penuh warna. Ia merasa kebanggaan bagi warga ketika daerah itu menjadi lokasi Riau Festival, sebab rumah-rumah tua yang mulai rusak jadi diperbaiki.

"Kemarin nampak jelek sekali, nampak kayunya lapuk-lapuk. Sekarang nampak bersih, senang dan bangga jadinya karena ada gambar-gambar adat Melayu," kata Pak Itam.

Penyelenggara Riau Festival atau RiauFest 2019 menggunakan puing-puing rumah tua bekas kebakaran di Kampung Bandar jadi area pameran visual berupa foto dan mural.

Kampung Bandar merupakan daerah kota tuanya, jadi saksi bisu cikal bakal Pekanbaru yang pertama dibuka oleh Kesultanan Siak Sri Indrapura di tepi Sungai Siak. Peninggalan bersejarah hingga kini masih ada, namun pada awal 2018 belasan rumah yang usianya ada yang sudah seabad, terbakar di daerah itu dan kini tinggal menyisakan tapak rumah panggungnya saja.

Lokasi itu yang dijadikan tempat pameran foto dan mural yang tersebut menarik perhatian pengunjung hingga bintang tamu yang akan tampil, yakni bassis jazz nasional Bintang Indrianto.

"Saya terenyuh melihatnya karena ternyata lokasi pameran ini bekas rumah yang terbakar. Apalagi, itu rumah-rumah tua yang harusnya dilestarikan," kata Bintang Indrianto.

Ketua Panitia RiauFest 2019 dari Komunitas Pekanbaru Heritage Walk (PHW), Mike Agnesia Kemilau, mengatakan di festival itu terdapat lokasi yang diberi nama Bandar Mural. Area itu merupakan reruntuhan bekas kebakaran yang akan menjadi bagian dari instalasi 144 karya seni yang dipajang di sana.

Ia menjelaskan Riau Festival adalah acara yang menggabungkan wisata budaya atau heritage dengan pendekatan modern yang bisa diterima anak muda generasi milenial.

"Riau Festival tujuannya adalah membuat creator muda melihat dan mau mengembangkan heritage Pekanbaru dan Melayu dari kacamata mereka sendiri," katanya.

Rangkaian festival itu melibatkan warga setempat dan berbagai komunitas. Pekanbaru Heritage sebagai pelaksana RiauFest memilih lokasi Kampung Bandar karena daerah itu punya nilai sejarah tinggi sebagai cikal bakal Kota Pekanbaru sekarang.

Rabu, 05 Februari 2020

Kisah Muslim dan Hindu Bersatu Lawan Harimau Suruhan Setan

Ini adalah sebuah kisah toleransi antarumat beragama di Bangladesh. Umat Muslim dan Hindu bersatu mengatasi harimau buas yang diyakini suruhan setan

Melansir BBC Travel, Senin (14/4/2019) ini adalah cerita dari Taman Nasional Sundarbans, hutan bakau di delta Sungai Gangga yang lebat membentang di perbatasan Bengali di India dengan Bangladesh. Di Bengali, Sundarbans punya ratusan pulau dan membentang lebih dari 10.000 km2.

Rawa dan pulau berhutan lebat ini adalah rumah bagi sekitar 50 spesies mamalia, 315 jenis burung dan 59 jenis reptil. Yang paling terkenal dikenal sebagai salah satu habitat terakhir dari Harimau Royal Bengal. Taman nasional ini juga menjadi tempat wisata di Bangladesh.

Di seluruh Sundarbans, yang berjarak sekitar 300 km dari Dhaka lebih dari 4,5 juta penduduk Hindu dan Muslim bertahan hidup dengan memancing di sungai atau masuk ke dalam hutan mencari kayu dan madu. Buaya, ular dan harimau sering membunuh penduduk desa. Setiap tahun harimau bisa membunuh hingga 60 orang.

Satu hal yang menyatukan umat Hindu dan Muslim adalah Bonbibi. Orang Hindu menyebutnya sebagai, Dewi Hutan pelindung warga. Umat Muslim meyakininya sebagai seorang Muslim di Arab Saudi yang setelah pergi ke Makkah, memiliki kekuatan gaib yang membawanya 5.000 km dari Arab ke Sundarbans.

Ketika Bonbibi tiba, dia melihat hutan dipenuhi harimau pemakan manusia dan diperintah oleh setan bernama Dakshin Rai. Bonbibi mengalahkan Dakshin Rai dan menyelamatkan hidupnya setelah dia berjanji untuk berhenti membiarkan harimau membunuh orang.

Bonbibi menjadi penguasa tertinggi hutan dan sekarang disembah oleh umat Hindu. Sementara Dakshin Rai melarikan diri ke hutan yang gelap dan diyakini sekarang muncul dalam wujud seekor harimau buas.

Tidak seperti Hindu, umat Islam tidak menyembah Bonbibi. Tetapi hampir setiap desa di Sundarbans yang terbagi di India dan Bangladesh memiliki Kuil Bonbibi di pintu masuk desa Umat Islam membantu tetangga Hindunya dengan menyumbang uang untuk membeli susu, buah, permen dan persembahan lainnya untuk dewa.

Persembahan ini, yang dikenal sebagai bhog, diletakkan di kaki Kuil Bonbibi. Dalam tradisi Hindu, kata 'bibi' sering digunakan sebagai bagian dari nama keluarga perempuan muslim yang sakral.

Ada Festival Bonbibi setiap tahun, antara Januari dan Februari. Umat Hindu dan Muslim berkumpul di kuil mendengar kisah Bonbibi menaklukkan Dakshin Rai. Wanita berpuasa dari matahari terbit hingga senja, untuk melindungi keluarga mereka dari bahaya harimau.

"Saya mendengar ada konflik masyarakat di banyak tempat di negara ini. Tapi kami tidak punya masalah dengan teman-teman Hindu kami. Dalam festival keagamaan Islam, kami mengundang tetangga Hindu juga. Ini tradisi lokal," kata Hazarat Gazi, seorang warga Dayapur di Pulau Satjelia.

Setiap kali nelayan atau pengumpul madu pergi ke hutan, mereka berdoa kepada Bonbibi untuk mengambil seperlunya. Perempuan juga menaruh bunga kepada Bonbibi di hari-hari keberuntungan agar membawa berkah bagi rumah tangganya.

Sementara warga desa di pulau dataran rendah menempatkan sesajen puding beras di dekat tempat pemujaan sederhana yang dilindungi oleh atap jerami dan tiang bambu. Di desa dataran tinggi Dewi Bonbibi akan diletakkan berdiri di atas seekor harimau dan mengenakan karangan bunga yang rumit.

Tapi bukan artinya tidak ada konflik. Umat Hindu tidak senang nama Bibi dipakai wanita muslim. Sebagian kelompok umat muslim Bengali pun balik menentang penyembahan berhala Bonbibi. Niranian Raftan, seorang pemandu hutan dari Desa Jamespur di Pulau Satjelia, mengatakan masyarakat khawatir dengan orang yang melanggar sumpah pada Bonbibi dan menjadi serakah.

Sumber daya alam hutan semakin menipis dan menyebabkan peningkatan serangan harimau. Di Desa Mitrabari, desa nelayan, petani, pengumpul madu, banyak perempuan kehilangan suami dan putra mereka dalam serangan harimau Royal Bengal.

Penggundulan hutan, erosi tanah dan berkurangnya habitat, membuat Harimau Royal Bengal masuk ke desa dan menyerang warga. Warga desa dan petugas kehutanan menangkap harimau dengan panah bius dan melepaskannya kembali ke hutan.

Harimau Royal Bengal menyerang mangsanya dari belakang. Banyak pengumpul madu dan nelayan di Sundarbans mengenakan topeng di belakang kepala mereka.

Kini, masa depan harimau itu terancam punah ini dan juga dewinya. Tetapi, selama orang dan predator hidup berdampingan di Sundarbans, masih ada kemungkinan Bonbibi akan terus ada di sana, diam-diam mengawasi siapa saja yang mencari perlindungannya.