Kamis, 06 Februari 2020

Pulau Jeju Wisatanya Lengkap, Bikin Nggak Mau Pulang

Wisata alam, budaya sampai sejarah ada di Pulau Jeju. Inilah destinasi wisata di Korea Selatan yang bikin nggak mau pulang.

Menghabiskan akhir minggu ke luar negeri selalu menjadi pengalaman seru karena jauhnya jarak serta mepetnya waktu membuat kita harus benar-benar merencanakan liburan dengan efisien dan efektif. Dengan waktu dan dana terbatas saya harus berputar otak agar mendapatkan tiket dan hotel yang murah selama di Jeju. Jeju menjadi pilihan buat saya yang sudah bosan traveling di dalam negeri, juga karena tiket pesawat sedang mahal-mahalnya.

Selain itu di Jeju banyak variasi obyek wisata mulai dari wisata alam, budaya, sejarah hingga kulinernya. Setiba di Jeju, cuaca dingin langsung menyergap dengan suhu sekitar 4 derajat Celcius. Di sana hanya ada transportasi bus kota, namun enaknya semua bis sudah tersedia WiFi jadi kita tinggal buka aplikasi peta dan cari rute bis terdekat menuju tujuan. Selain bis, hampir di semua halte, tempat wisata, dan tempat umum tersedia WiFi gratis sehingga saya tak perlu lagi menyewa WiFi atau mengganti kartu SIM.

Karena waktu sudah agak sore, hari pertama saya hanya bisa mengunjungi pantai Yongduam Rock yang terkenal karena batuannya berwarna hitam seperti bekas tumpahan magma dari gunung Halla atau Hallasan yang merupakan gunung tertinggi di Korea. Malamnya saya sempatkan waktu untuk mengelilingi Dongmun Market yang terkenal dengan barang-barang murah serta makanan khas Koreanya.

Esoknya saya langsung ke tujuan utama yaitu mendaki Gunung Halla atau disebut Halla-san dalam bahasa Korea. Berhubung usia sudah tua, saya tidak mendaki ke puncak utamanya (Baerokdam) tapi ke puncak lain yang jaraknya tak jauh dari gerbang Eorimok yaitu puncak Seongpanak. Jaraknya lumayan juga jalan kaki dari halte di tepi jalan 1100 Highway ke pintu gerbang Eorimok sekitar 1 km, ditambah dari pintu gerbang ke puncak sekitar 1,3 km bolak-balik.

Setelah puas menikmati puncak Seongpanak, saya kembali turun menuju ke Seogwipo, kota terbesar kedua setelah Jeju City. Di sini terdapat kompleks wisata Jungmun Resort yang di dalamnya terdapat beberapa obyek wisata musium seperti Musium Teddy Bear, Musium Believe It or Not, dan Mueium K-Pop.

Selain itu juga ada wisata pantai dan air terjun, namun karena sudah sore saya hanya sempat ke Musium K-Pop saja. Selesai menikmati sajian musik di musium K-Pop, saya berangkat menuju ke sebuah desa tradisional dimana terdapat rumah-rumah kuno khas Korea. Namun di perjalanan saya harus berganti bis di Terminal Seogwipo.

Sambil menunggu bis ke tujuan akhir, saya jalan-jalan di belakang terminal, ternyata terdapat stadion Jeju yang menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea. Tak terasa setengah jam berkeliling stadion termasuk melihat Musium Erotis di bagian bawah stadion, perjalanan dilanjutkan menuju Seongeup Folk Village dengan transit di kota kecil Seongeup untuk berganti bis. Walau kota kecil namun tersedia juga wifi di halte bisnya sehingga saya bisa memperkirakan naik bis apa ke desa tradisional tersebut.

Sayangnya waktu sudah mendekati Maghrib ketika tiba di sana dan bagian dalamnya sudah tutup sehingga saya hanya bisa melihat-lihat dari luarnya saja. Namun rumah-rumahnya masih bisa difoto dengan jelas walau kurang cahaya. Rumah tradisionalnya sendiri terbuat dari tumpukan batu dengan atap rumbia dan berkumpul dalam satu kompleks tertentu.

Hari terakhir saya kembali ke Dongmun Market untuk berbelanja oleh-oleh sebelum pulang ke Jakarta. Di sini produk kosmetik harganya murah sehingga mata jadi gelap untuk memborong beberapa kantong masker wajah yang menjadi oleh-oleh favorit. Sayangnya hanya produk kosmetik yang murah, lainnya termasuk makan cukup mahal di sini.

Sekali makan bisa habis 150 ribu Rupiah sehingga untuk mengirit saya hanya makan roti di siang hari dan makan berat malam harinya. Sorenya saya kembali terbang ke Jakarta dengan membawa kenangan indah walau kunjungannya terlalu singkat, hanya efektif dua hari saja namun sudah mengitari setengah dari pulau Jeju. Suatu saat saya akan kembali lagi bersama keluarga untuk mengunjungi pulau tersebut.

Kota Tua di Pekanbaru, Dulu Seram Kini Berwarna-Warni (2)

Keunikan acara itu karena menyatukan banyak elemen sejarah dan modern. Sebanyak tujuh komunitas mural di Pekanbaru juga ikut berkolaborasi dengan PHW dalam rangkaian RiauFest 2019. Komunitas tersebut antara lain Doodleart Pekanbaru, Kumaga, Komik Riau, Sikari, Hikaru, Urban Sketchers Pekanbaru, dan Peviart.

Seniman mural juga mulai membuat mural sepanjang 140 meter di dermaga tua Pelindo 1 yang juga menjadi lokasi penyelenggaraan RiauFest. Selama ini kawasan dermaga itu dibiarkan begitu saja sejak kapal tak lagi bersandar di sana.

Kawasan ini sangat berdekatan dengan Pasar Bawah Pekanbaru. Kawasan Pelindo malam hari hanya ada pemandangan yang gelap. Biasanya ada beberapa nongkrong di tepi pelabuhan hanya untuk memancing yang kadang sambil pacaran.

Kini, dengan adanya komunitas tersebut, mencoba menyulap kawasan pelabuhan yang sudah lama vakum dijadikan kawasan objek wisata.

Pengunjung RiauFest bisa melakukan 'Jelajah Kampung Bandar'. Panitia akan mengajak pengunjung untuk menelusuri kembali jejak sejarah Kota Pekanbaru yang terasa kental peninggalan arsitekturnya di area sepanjang tepian Sungai Siak.

Rute Jelajah Kampung Bandar ada sejumlah pemberhentian (check point), antara lain Rumah Singgah Sultan Siak, Rumah Tinggi (Rumah Tenun), Bandar Mural, Cerita Kampung Bandar, Massive Ground Mural Painting, Pusat Kuliner (sajian kuliner dan Nuansa Nostalgia), dan Pentas Kreatif Melayu.

Area pentas kreatif Melayu untuk penampilan musik dan hiburan lainnya akan berlokasi di area pelabuhan tua Pelindo1 dengan latar belakang langsung terlihat Jembatan Marhum Bukit. Panggung berkonsep terbuka itu menampilkan Freza and Friends, Wan Dance Studio membawakan koreografi Bokal, dan bintang utamanya Geliga Jazz featuring Bintang Indrianto, Kadek Rihardika (Fusionstuff), dan Bonita (Bonita & the Hus Band). Acara hiburan ini dibuka sejak pada Kamis (11/4) malam.

Meski sempat terkendala karena hujan turun jelang acara, pengunjung RiauFest merasa terhibur dengan penampilan musik terutama bintang utamanya. Pelantang suara dari Madas juga berhasil mengeluarkan ambiens dari tiap lagu yang dimainkan para musisi.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Riau, Fahmizal Usman pun mengaku sangat mengapresiasi iven tersebut.

"Kami sangat mengapresiasi kegiatan-kegiatan seperti Riau Festival ini, karena keuntungannya banyak. Dapat membantu pemerintah dalam mengembangkan sektor pariwisata dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Apa lagi di sini, masyarakat dilibatkan langsung, seperti mereka bisa berjualan," kata Fahmizal.

Harapan dari musisi bintang tamu agar Riau Festival bisa digelar secara rutin tiap tahun karena dinilai sangat unik.

"Saya terpukau karena sejarah lokasi kampungnya ternyata ini kampung pertama di Pekanbaru, tidak banyak orang yang tahu. Maunya dengan acara ini diangkat lagi, itu bagus banget," kata gitaris Kadek Rihardika.

Kampung Bandar, kawasan kota tua di Pekanbaru, Riau kini berubah. Dulunya terkesan menyeramkan, tapi kini jadi kinclong dan berwarna-warni.

Kampung Bandar dan pelabuhan tua Pelindo kini terlihat lebih hidup dan jauh dari kesan kuno dan menyeramkan karena penyelenggaraan Riau Festival 2019 pada 11 April. Kawasan kota tuanya Pekanbaru di tepi Sungai Siak ini menjadi potensi wisata yang lekat dengan kehidupan warga dan sejarah masa lalu di dalamnya.

Warga Kampung Bandar terlihat antusias menyambut penyelenggaraan Riau Festival mulai dari memperbaiki jembatan kayu yang rusak, membuat lukisan di area pelabuhan, hingga ikut berjualan makanan saat acara.

"Senang karena nampak bersih, rapi jadinya. Saya bilang dinding (rumah) bapak dicat saja, sekarang jadi nampak semarak Kampung Bandar ini," kata warga Kampung Bandar, Pak Itam kepada detikcom, Jumat (12/4/2019).