Jumat, 07 Februari 2020

Ritual Ceng Beng di Cirebon, Ziarah Kubur & Memanggil Arwah Leluhur

Ceng Beng juga dilakukan di Cirebon. Ini merupakan tradisi ziarah kubur yang sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam.

Sejumlah warga etnis Tionghoa di Cirebon mengikuti ritual Ceng Beng di area Pemakaman Kutiong, Jalan Jendral Sudirman, Kota Cirebon, Jabar. Ceng Beng merupakan tradisi ziarah kubur ke makam leluhur.

Tradisi ini sudah ada sejak ribuan tahun silam. Doa dilantunkan, sesaji disuguhkan, seperti nasi, ayam, buah-buahan dan lainnya. Aroma dupa menyelimuti sesaji. Pembacaan doa ritual Ceng Beng dipimpin seorang vajracharya.

"Tradisi ini sudah ribuan tahun. Berawal dari kisah nyata tentang pencarian makam leluhur. Kemudian dilanjutkan hingga saat ini. Ceng Beng dilakukan setiap 5 April," ucap juru bicara panitia ritual Ceng Beng Kota Cirebon, Halim Eka Wardana kepada awak media, Sabtu (6/4/2019).

Usai ritual, dikatakan Halim, warga etnis Tionghoa akan menaruh dupa di makam. Sementara itu, untuk Tionghoa pemeluk Nasrani mengganti dupanya dengan bunga.

"Ini sebuah tradisi dan kepercayaan kita untuk saling menghormati. Menghormati leluhur atau pendahulu kita," ucapnya.

Lebih lanjut, Halim menerangkan Ceng Beng berasa dari bahasa Hokian yang artinya terang benderang, yang kemudian disimbolkan dengan membersihkan dan mempercantik makam leluhur.

"Tradisi ini merupakan ajaran Konghucu, berbakti kepada orangtuanya. Bukan saat mereka masih hidup, sudah dimakamkan pun harus tetap kita doakan dan hormati," ucap Halim.

"Selain menjadi media doa, ritual ini juga untuk memanggil arwah leluhur ikut menyantap hidangan yang disajikan. Pemanggilan arwah ini dilakukan oleh vajracharya, yang sekaligus memimpin doa," tambah Halim.

Di tempat yang sama, salah seorang warga bernama Tjiong Mey Lie (63) mengatakan setiap tahun rutin mengikuti ritual Ceng Beng. Menurutnya, setiap anak memiliki kewajiban mendoakan orang tuanya.

"Kita doakan leluhur kita, atau orangtua kita. Ini makam kedua orangtua. Karena orang yang sudah meninggal itu tidak bisa berdoa, jadi kita yang mendoakan mereka," ucap Mey Lie usai berziarah di makam orang tuanya. 

Kemenpar Paparkan 9 Strategi Pemasaran Wisata RI ke Media Filipina

Media terbesar di Filipina, The Philippine Star mendatangi dan melakukan interview terhadap Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Wawancara dilakukan di booth Kemenpar dalam World Travel Expo yang diselenggarakan di SMX Convention Centre, Manila, Filipina.

The Philippine Star adalah sebuah portal berita atau surat kabar digital yang paling popular di Filipina dan berada di bawah naungan PhilStar Media Group. Jangkauannya yang luas membuat media ini berkomitmen untuk menyajikan berita dalam Bahasa Inggris.

Dalam event yang berlangsung pada 5-7 April 2019, booth Indonesia tampil mewah dan besar dengan ikon Kapal Phinisi. Wawancara Kemenpar pun diwakilkan langsung oleh Asdep Pemasaran I Regional III Muhammad Ricky Fauziyani.

Dalam wawancara, Ricky mengatakan pihaknya mempunyai 9 strategi dalam memasarkan pariwisata Indonesia ke wisatawan mancanegara. Hal itu terangkum dalam klasifikasi kelas ordinary, extra ordinary, dan super extra ordinary. Kelas ordinary meliputi branding, advertising, dan selling. Lalu kelas extra ordinary membahas soal insentif akses, hot deals, dan CDM. Sedangkan kelas super extra ordinary berkenaan dengan border tourism, tourism HUB, dan LCT.

"Khusus pada destinasi, ada 3 strategi khusus yang kami terapkan, yaitu atraksi, akesibilitas, dan amenitas, atau yang biasa kita sebut dengan istilah 3A. Ketiganya penting sekali untuk dipenuhi. Bahwa pariwisata tidak akan berkembang tanpa adanya atraksi yang bisa dinikmati. Begitu pun jika akses menuju destinasi kurang memadai tentu akan menghambat kunjungan wisatawan. Sama halnya jika persoalan amenitas masih terbatas, perkembangan pariwisata akan tertatih dan pincang," jelasnya dalam keterangan tertulis, Minggu (7/4/2019).

Uniknya Tourist Information Center di Bandara Silangit

Kini, hampir setiap bandara memiliki pusat informasi turis (Tourist Information Center). Bandara Silangit yang sedang tahap penyempurnaan juga punya untuk membantu wisatawan.

Tetapi, ada yang berbeda saat detikcom berkunjung ke Tourist Information Center ini. Bentuknya mobile, bukan berada di dalam bangunan bandara.

Pengunjung harus menaiki tangga kecil untuk mencapai ke atas. Ada 2 petugas yang memghampiri, menyapa dengan ramah.

"Selamat datang," ujar mereka saat detikcom berkunjung Kamis, (4/4/2019).

Tourist Information Center ini juga dilengkapi dengan sejumlah fasilitas. Seperti TV yang berisi informasi tentang Silangit dan destinasi wisata Indonesia, aneka brosur tempat wisata Indonesia sampai 'layar bujet'.

Layar Bujet ini bisa dibilang cukup unik. Traveler bisa memasukkan bujet dan destinasi yang diinginkan.

"Gampang caranya, nanti bisa memasukkan bujet yang dimiliki dan destinasi yang dituju. Nanti ke luar itinerary yang pas di kantong," ujar Lily, salah satu petugas Tourist Information Center.

Selain itu, juga ada sejumlah brosur mengenai berbagai destinasi di Tanah Air. Mulai dari Bagian Barat, Tengah dan Timur. Lengkap dengan sejumlah atraksi hingga penginapan.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengutarakan bahwa Tourist Information Center yang bersifat mobile ini baru ada di Bandara Silangit, Siborong-borong, Sumatera Utara. Namun akan dibuat di dalam bangunan jika Bandara Silangit sudah disempurnakan.

"Belum ada. Di luar tetap ada yang mobile, nanti kalau terminalnya sudah jadi, dalam bandara Silangit juga ada Tourist Information Center," ujar Arief. 

Ritual Ceng Beng di Cirebon, Ziarah Kubur & Memanggil Arwah Leluhur

Ceng Beng juga dilakukan di Cirebon. Ini merupakan tradisi ziarah kubur yang sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam.

Sejumlah warga etnis Tionghoa di Cirebon mengikuti ritual Ceng Beng di area Pemakaman Kutiong, Jalan Jendral Sudirman, Kota Cirebon, Jabar. Ceng Beng merupakan tradisi ziarah kubur ke makam leluhur.

Tradisi ini sudah ada sejak ribuan tahun silam. Doa dilantunkan, sesaji disuguhkan, seperti nasi, ayam, buah-buahan dan lainnya. Aroma dupa menyelimuti sesaji. Pembacaan doa ritual Ceng Beng dipimpin seorang vajracharya.

"Tradisi ini sudah ribuan tahun. Berawal dari kisah nyata tentang pencarian makam leluhur. Kemudian dilanjutkan hingga saat ini. Ceng Beng dilakukan setiap 5 April," ucap juru bicara panitia ritual Ceng Beng Kota Cirebon, Halim Eka Wardana kepada awak media, Sabtu (6/4/2019).

Usai ritual, dikatakan Halim, warga etnis Tionghoa akan menaruh dupa di makam. Sementara itu, untuk Tionghoa pemeluk Nasrani mengganti dupanya dengan bunga.

"Ini sebuah tradisi dan kepercayaan kita untuk saling menghormati. Menghormati leluhur atau pendahulu kita," ucapnya.

Lebih lanjut, Halim menerangkan Ceng Beng berasa dari bahasa Hokian yang artinya terang benderang, yang kemudian disimbolkan dengan membersihkan dan mempercantik makam leluhur.

"Tradisi ini merupakan ajaran Konghucu, berbakti kepada orangtuanya. Bukan saat mereka masih hidup, sudah dimakamkan pun harus tetap kita doakan dan hormati," ucap Halim.

"Selain menjadi media doa, ritual ini juga untuk memanggil arwah leluhur ikut menyantap hidangan yang disajikan. Pemanggilan arwah ini dilakukan oleh vajracharya, yang sekaligus memimpin doa," tambah Halim.