Kini, hampir setiap bandara memiliki pusat informasi turis (Tourist Information Center). Bandara Silangit yang sedang tahap penyempurnaan juga punya untuk membantu wisatawan.
Tetapi, ada yang berbeda saat detikcom berkunjung ke Tourist Information Center ini. Bentuknya mobile, bukan berada di dalam bangunan bandara.
Pengunjung harus menaiki tangga kecil untuk mencapai ke atas. Ada 2 petugas yang memghampiri, menyapa dengan ramah.
"Selamat datang," ujar mereka saat detikcom berkunjung Kamis, (4/4/2019).
Tourist Information Center ini juga dilengkapi dengan sejumlah fasilitas. Seperti TV yang berisi informasi tentang Silangit dan destinasi wisata Indonesia, aneka brosur tempat wisata Indonesia sampai 'layar bujet'.
Layar Bujet ini bisa dibilang cukup unik. Traveler bisa memasukkan bujet dan destinasi yang diinginkan.
"Gampang caranya, nanti bisa memasukkan bujet yang dimiliki dan destinasi yang dituju. Nanti ke luar itinerary yang pas di kantong," ujar Lily, salah satu petugas Tourist Information Center.
Selain itu, juga ada sejumlah brosur mengenai berbagai destinasi di Tanah Air. Mulai dari Bagian Barat, Tengah dan Timur. Lengkap dengan sejumlah atraksi hingga penginapan.
Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengutarakan bahwa Tourist Information Center yang bersifat mobile ini baru ada di Bandara Silangit, Siborong-borong, Sumatera Utara. Namun akan dibuat di dalam bangunan jika Bandara Silangit sudah disempurnakan.
"Belum ada. Di luar tetap ada yang mobile, nanti kalau terminalnya sudah jadi, dalam bandara Silangit juga ada Tourist Information Center," ujar Arief.
Ritual Ceng Beng di Cirebon, Ziarah Kubur & Memanggil Arwah Leluhur
Ceng Beng juga dilakukan di Cirebon. Ini merupakan tradisi ziarah kubur yang sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam.
Sejumlah warga etnis Tionghoa di Cirebon mengikuti ritual Ceng Beng di area Pemakaman Kutiong, Jalan Jendral Sudirman, Kota Cirebon, Jabar. Ceng Beng merupakan tradisi ziarah kubur ke makam leluhur.
Tradisi ini sudah ada sejak ribuan tahun silam. Doa dilantunkan, sesaji disuguhkan, seperti nasi, ayam, buah-buahan dan lainnya. Aroma dupa menyelimuti sesaji. Pembacaan doa ritual Ceng Beng dipimpin seorang vajracharya.
"Tradisi ini sudah ribuan tahun. Berawal dari kisah nyata tentang pencarian makam leluhur. Kemudian dilanjutkan hingga saat ini. Ceng Beng dilakukan setiap 5 April," ucap juru bicara panitia ritual Ceng Beng Kota Cirebon, Halim Eka Wardana kepada awak media, Sabtu (6/4/2019).
Usai ritual, dikatakan Halim, warga etnis Tionghoa akan menaruh dupa di makam. Sementara itu, untuk Tionghoa pemeluk Nasrani mengganti dupanya dengan bunga.
"Ini sebuah tradisi dan kepercayaan kita untuk saling menghormati. Menghormati leluhur atau pendahulu kita," ucapnya.
Lebih lanjut, Halim menerangkan Ceng Beng berasa dari bahasa Hokian yang artinya terang benderang, yang kemudian disimbolkan dengan membersihkan dan mempercantik makam leluhur.
"Tradisi ini merupakan ajaran Konghucu, berbakti kepada orangtuanya. Bukan saat mereka masih hidup, sudah dimakamkan pun harus tetap kita doakan dan hormati," ucap Halim.
"Selain menjadi media doa, ritual ini juga untuk memanggil arwah leluhur ikut menyantap hidangan yang disajikan. Pemanggilan arwah ini dilakukan oleh vajracharya, yang sekaligus memimpin doa," tambah Halim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar