Kamis, 13 Februari 2020

Kisah Jembatan yang Dibangun dari Batu Bacan dan Mahal Harganya

Jembatan Batu Bacan di kampung ini sudah terkenal ke seluruh Indonesia. Kini sewindu sudah jembatan ini dilalui warga, tanpa ada satupun batu yang dicongkel!

Saat detikcom menyambangi jembatan ini, Senin (4/3/2019) pagi, batu-batu berharga itu tetap menempel di lantainya. Orang tua, muda, hingga bocah berlalu-lalang seolah tak menghiraukan betapa mahalnya benda yang mereka injak ini.

Batu-batu itu selalu diinjak kaki-kaki orang yang menyeberang dari arah Desa Amasing Kota ke Amasing Kota Utara, Labuha, Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Penduduk melewati jembatan 38 meter ini dengan pandangan lurus ke depan. Pagi itu hanya kami saja yang berjalan di atas jembatan sambil melihat ke bawah.

Terpantau, batu-batu di sini menancap kuat dan rata di konstruksi semen. Tak ada yang terlihat pecah, goyang, atau bekas congkelan. Ada satu sebab kenapa tak ada orang yang berani mencongkel batu ini.

"Tidak ada yang iseng mencongkel, soalnya ini yang bangun masyarakat sendiri," kata warga setempat bernama Aryadi (32), biasa dipanggil Yadi.

Bila orang-orang luar daerah menyebut ini sebagai Jembatan Batu Bacan, warga setempat sudah kadung akrab menyebut jembatan ini sebagai Jembatan Kabamas. Itu adalah nama lama sebelum jembatan ini direnovasi dan ditempeli batu berharga dari Pulau Kasiruta sejak 2011. Satu tokoh masyarakat bernama Muhammad Abusama mendanai, dan pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh warga.

Batu-batu segenggaman tangan yang menempel di lantai jembatan ini berwarna hijau, ada yang hijau muda dan ada yang hijau tua. Yadi mengatakan batu ini telah berubah warna menjadi semakin cerah dari waktu ke waktu, karena begitulah 'batu hidup' karakteristik khas Bacan yang dipahami warga, apalagi batu ini sering terpoles oleh langkah-langkah kaki penduduk. Dia menunjuk satu batu seukuran 3/4 mouse komputer yang tertanam di jembatan, warnanya hijau muda dengan sedikit gradasi gelap.

"Yang seperti ini mahal ini, Rp 15 juta bisa ini. Tapi tetap tidak ada yang mencongkel," kata Yadi.

Hanya pejalan kaki saja yang melewati jembatan berbentuk lengkung ini. Anak-anak melendot di pagar besi jembatan dan tiang penyangga atap seng. Di bawahnya ada Kali Inggoi yang langsung bermuara ke laut. Perahu-perahu bermesin tempel ditambatkan di pinggir-pinggir sungai. Di kejauhan terlihat atap limasan Masjid Kesultanan Bacan.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva. 

Hanoi yang Indah Tempat Pertandingan Kualifikasi Piala Asia U-23

Timnas Indonesia U-23 akan bertanding lawan Thailand di Hanoi, Vietnam. Suporter yang berangkat ke sana, bisa sekalian berwisata sebelum maupun sesudah pertandingan.

Sore ini, Timnas Indonesia U-23 akan memulai laga perdana Kualifikasi Piala Asia U-23 2020 dengan menghadapi Thailand di Hanoi. Traveler yang berangkat ke sana atau sudah tiba untuk menonton pertandingan tersebut, bisa memanfaatkan waktu malam usai pertandingan atau pun besok buat jalan-jalan di Hanoi. Pas sekali besok akhir pekan telah tiba.

Hanoi sendiri merupakan salah satu destinasi favorit di Vietnam. Banyak tempat wisata menarik yang bisa traveler jelajahi di sana. Dirangkum detikcom, Jumat (22/3/2019), berikut ini sejumlah objek wisata populer di Hanoi:

1. Hanoi Old Quarter

Traveling ke Hanoi rasanya kurang lengkap kalau belum berkunjung ke Hanoi Old Quarter. Traveler bisa jalan-jalan santai di kawasan kota tua, melihat jejeran bangunan kuno dan keseharian warga lokal di sana.

Kalau mau belanja suvenir pun bisa. Baik di kios kecil maupun toko, banyak pilihan barang yang bisa buat oleh-oleh. Cicipi pula aneka jajanan lokal di sini.

2. Pasar Dong Xuan

Tak jauh dari sekitaran Hanoi Old Quarter, ada salah satu pasar terbesar di Hanoi yang menjual berbagai kebutuhan hingga oleh-oleh. Namanya Dong Xuan Market alias Pasar Dong Xuan. Pasar 4 lantai ini pastinya bikin betah traveler yang doyan belanja.

Kaos, celana, kacamata, peralatan rumah tangga, kerajinan tangan dan lain sebagainya, semua ada. Harganya pun cukup bersahabat di kantong. Mau puas belanja suvenir di sini pun bisa lho. Pasar buka mulai pukul 07.00 pagi waktu setempat hingga tengah malam.

Inilah Sungai Paling Cantik di Dunia

Sungai paling cantik di dunia berada di Kolombia. Sungai berair jernih ini memiliki 5 warna cerah yang membuat siapapun terkesima.

Apa yang terbayang oleh mu jika disebutkan kata sungai? Berair coklat? Ada buaya atau sampah? Di pinggirannya sungai ada pemancing atau bangku-bangku taman? Semua itu tidak kamu temukan di sungai Kolombia ini.

Dikumpulkan detikcom, Jumat (22/3/2019) sungai ini bernama Cano Cristales. Sungai ini berada di dekat Kota La Macarena, Kolombia.

Pemandangan di sini sangatlah unik dan indah. Kamu akan melihat sungai ini memiliki lima warna cerah. Sejatinya, warna ini bukanlah dari aliran air, namun karena lumut yang tumbuh di dasar sungai.

Menurut otoriter lingkungan setempat, tanaman langka atau endemik yang menyebabkan beragam warna itu disebut 'macarenia xlavigera'. Tanaman inilah yang menghiasi dasar Sungai Cano Cristales sepanjang 100 Km.

Ada warna kuning, hitam, merah, hijau dan biru yang menghiasi aliran sungai. Karena fenomena 5 warna ini, sungai ini juga dijuluki 'Sungai Pelangi'. Selain itu, juga ada julukan Sungai yang Mengalir dari Surga', 'Sungai Lima Warna' dan 'Pelangi yang Mencair'.

Sungai paling cantik di dunia berada di Kolombia. Sungai berair jernih ini memiliki 5 warna cerah yang membuat siapapun terkesima.

Apa yang terbayang oleh mu jika disebutkan kata sungai? Berair coklat? Ada buaya atau sampah? Di pinggirannya sungai ada pemancing atau bangku-bangku taman? Semua itu tidak kamu temukan di sungai Kolombia ini.

Dikumpulkan detikcom, Jumat (22/3/2019) sungai ini bernama Cano Cristales. Sungai ini berada di dekat Kota La Macarena, Kolombia.

Pemandangan di sini sangatlah unik dan indah. Kamu akan melihat sungai ini memiliki lima warna cerah. Sejatinya, warna ini bukanlah dari aliran air, namun karena lumut yang tumbuh di dasar sungai.

Menurut otoriter lingkungan setempat, tanaman langka atau endemik yang menyebabkan beragam warna itu disebut 'macarenia xlavigera'. Tanaman inilah yang menghiasi dasar Sungai Cano Cristales sepanjang 100 Km.

Jika traveler liburan ke Kolombia dan ingin menuju sungai cantik ini, harus sedikit berjuang ya. Turis harus naik pesawat dari Kota Bogota, ibukota Kolombia menuju La Macarena yang punya bandara kecil. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan naik mobil dan trekking menelusuri hutan.

Adapun waktu terbaik untuk datang dan menikmati keindahan sungai ini yaitu Juli-Desember. Di saat musim panas inilah, alga dan lumut tumbuh semakin banyak dengan warna yang beragam.

Kisah Jembatan yang Dibangun dari Batu Bacan dan Mahal Harganya

Jembatan Batu Bacan di kampung ini sudah terkenal ke seluruh Indonesia. Kini sewindu sudah jembatan ini dilalui warga, tanpa ada satupun batu yang dicongkel!

Saat detikcom menyambangi jembatan ini, Senin (4/3/2019) pagi, batu-batu berharga itu tetap menempel di lantainya. Orang tua, muda, hingga bocah berlalu-lalang seolah tak menghiraukan betapa mahalnya benda yang mereka injak ini.

Batu-batu itu selalu diinjak kaki-kaki orang yang menyeberang dari arah Desa Amasing Kota ke Amasing Kota Utara, Labuha, Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Penduduk melewati jembatan 38 meter ini dengan pandangan lurus ke depan. Pagi itu hanya kami saja yang berjalan di atas jembatan sambil melihat ke bawah.

Terpantau, batu-batu di sini menancap kuat dan rata di konstruksi semen. Tak ada yang terlihat pecah, goyang, atau bekas congkelan. Ada satu sebab kenapa tak ada orang yang berani mencongkel batu ini.

"Tidak ada yang iseng mencongkel, soalnya ini yang bangun masyarakat sendiri," kata warga setempat bernama Aryadi (32), biasa dipanggil Yadi.

Bila orang-orang luar daerah menyebut ini sebagai Jembatan Batu Bacan, warga setempat sudah kadung akrab menyebut jembatan ini sebagai Jembatan Kabamas. Itu adalah nama lama sebelum jembatan ini direnovasi dan ditempeli batu berharga dari Pulau Kasiruta sejak 2011. Satu tokoh masyarakat bernama Muhammad Abusama mendanai, dan pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh warga.

Batu-batu segenggaman tangan yang menempel di lantai jembatan ini berwarna hijau, ada yang hijau muda dan ada yang hijau tua. Yadi mengatakan batu ini telah berubah warna menjadi semakin cerah dari waktu ke waktu, karena begitulah 'batu hidup' karakteristik khas Bacan yang dipahami warga, apalagi batu ini sering terpoles oleh langkah-langkah kaki penduduk. Dia menunjuk satu batu seukuran 3/4 mouse komputer yang tertanam di jembatan, warnanya hijau muda dengan sedikit gradasi gelap.

"Yang seperti ini mahal ini, Rp 15 juta bisa ini. Tapi tetap tidak ada yang mencongkel," kata Yadi.