Minggu, 01 Maret 2020

Kisah Penggembala Rusa dari Suku Terkecil Sedunia

Traveler anti mainstream pasti menyukai ini. Ini adalah kisah suku terkecil sedunia menjadi penggembala rusa di Mongolia.

Melansir BBC Capital, Rabu (5/2/2019), keberadaan mereka jauh di dalam hutan salju Mongolia. Menggembala rusa lebih dari sekedar pekerjaan karena merupakan budaya dan tradisi mereka.

"Yang kita miliki adalah rusa. Tujuan kami untuk bangun dan bekerja setiap hari adalah agar kami dapat membesarkan mereka," kata salah satu anggota suku, Dawaajaw Balanish.

Lokasi tepatnya ada di Provinsi Khovsgol, Mongolia bagian utara, sekitar 50 km selatan perbatasan Rusia. Kelompok etnis minoritas terkecil ini memiliki populasi sekitar 300 orang, bernama Suku Dukha.

Mereka hidup sebagai penggembala rusa di hutan salju atau taiga. Di musim dingin, taiga diselimuti salju tebal, pohon-pohon konifernya hanya tinggal dahan tanpa daun karena dingin yang menggigit dapat turun hingga ke suhu -50 derajat C.

Suku Dukha adalah suku nomaden, yang disebut sebagai Tsaatan dalam bahasa Mongolia berarti orang rusa. Tempat mereka tinggal mengikuti kebutuhan ternak mereka, bergerak di antara kamp musiman di kawasan taiga.

Rusa mampu cepat beradaptasi dengan cuaca sekitarnya dan selama musim panas, Suku Dukha mencari tempat yang lebih tinggi dan berangin. Di musim dingin, mereka pergi ke daerah-daerah di mana salju berlimpah.

Mereka secara tradisional tinggal di teepees, dikenal sebagai ortz, agar sesuai dengan gaya hidup nomaden mereka. Dibangun menggunakan kayu dan dibungkus dengan kain kanvas untuk berlindung.

Ortz dan semua yang ada di dalamnya dapat dikemas dengan cepat. Namun, kini, beberapa keluarga telah memilih untuk membangun kabin kayu di tempat musim dingin karena dingin yang mencekam.

Selama musim dingin, Suku Dukha mulai bekerja saat matahari terbit dengan minuman teh susu panas. Sambil menunggu salju mencair ke dalam air yang bisa diminum, para penggembala muncul dari ortz untuk mengumpulkan rusa untuk merumput dan tidak ditambatkan pada malam hari.

Anak rusa yang lebih muda masih liar. Rusa tua diikat ke pohon untuk mengatur anaknya. Rusa-rusa itu digiring ke padang rumput baru untuk mencari lumut.

Tidak mudah hidup di kawasan taiga, tidak ada sumber air, jadi air diambil dari salju atau es bersih selama musim dingin atau dari sungai di musim panas. Api adalah dalam ortz adalah penjaga kehangatan dari ekstremnya musim dingin.

Menggembala rusa secara nomaden juga dengan iklim yang keras mampu mendapat penghasilan pariwisata sehingga mereka dapat terus membesarkan rusanya. Namun kenyamanannya terbilang minimal.

Suku Dukha tidak membutuhkan banyak uang, mereka hidup dan bergantung sepenuhnya pada kekayaan hutannya. Pemerintah juga memberi mereka gaji bulanan, jumlahnya tergantung pada jumlah orang dewasa dalam keluarga.

Daging dibeli secara berkala dari Tsagaannuur, kota terdekat yang terletak sekitar dua jam perjalanan, meski warga Dukha juga terkadang hidup dari daging rusa. Seekor rusa dewasa berukuran besar dapat menjadi sumber bahan makanan sekeluarga bertahan hidup selama satu musim.

Musim panas membawa beberapa kegiatan baru, karena itu adalah waktu yang populer bagi wisatawan untuk mengunjungi kamp-kamp Suku Dukha dan belajar tentang kehidupannya. Suku Dukha menyewakan ortz dan kuda mereka, bekerja sebagai pemandu dan pengatur dan menjual kerajinan tangan yang diukir dari tanduk rusa gembalaannya.

Semua penghasilan mereka dari pariwisata disimpan untuk bertahan hidup melalui musim dingin yang ekstrem berikutnya. Turis adalah penghasilan sampingan dan meningkat setiap tahun, bahkan orang Mongolia sendiri juga melancong ke sana.

Penghasilan ini memungkinkan Suku Dukha fokus pada pemeliharaan ternak rusa. Mereka tidak akan tahan tinggal di kota di mana rusa tidak ada di sana.

Suku Dukha yang nomaden mampu menentukan sabana terbaik untuk rusa setiap tahunnya. Gaya hidupnya benar-benar diarahkan pada kebutuhan untuk memelihara ternak rusa yang sehat.

Suku Dukha memang sangat terkait hidupnya dengan alam dan yang paling penting dengan rusa. Keseharian mereka berkisar pada kebutuhan rusa, merumput, membawa mereka kembali di malam hari, memerah susu rusa dan pindah ke padang rumput baru sepanjang tahun. Secara umum, motivasi Suku Dukha tinggal dan bekerja dalam kawasan taiga adalah kebutuhan rusanya.

Pada tahun 2011, Kementerian Lingkungan Hidup Mongolia membentuk kawasan lindung di dalam taiga dan membuat peraturan untuk melindungi keanekaragaman hayati dan sumber daya kawasan tersebut. Macan tutul salju, rusa kesturi dan beruang coklat hanyalah tiga dari banyak spesies dilindungi Mongolia.

Dalam buminya kaya akan mineral, seperti batu giok dan emas. Sebelum dilindungi, kawasan taiga itu penuh dengan orang luar yang ingin menambangnya.

Menginap di dalam Pesawat Boeing 747, Bagaimana Rasanya?

Bangunan hostel kekinian dengan berbagai fasilitas sudah umum ditemukan. Tapi, bagaimana kalau adanya di dalam armada pesawat raksasa?

Inilah Jumbo Jet Hostel, sebuah penginapan yang menggunakan armada pesawat tua Boeing 747-212B berukuran raksasa. Armada yang dibuat tahun 1976 dan sudah tidak digunakan ini, disulap menjadi sebuah hotel dengan berbagai fasilitas.

Ditelusuri detikTravel dari situs resminya, Kamis (7/2/2019) Jumbo Jet Hostel terletak di Ibukota Swedia, Stockholm. Tidak jauh dari bandara internasional Arlanda.

Awalnya, pemilik ingin mengembangkan bisnis hotel. Kemudian, ia mendengar ada sebuah bangkai pesawat tua yang dijual di Bandara Arlanda. Karena menurutnya strategis dan menjual, kemudian ia membangun hotel di armada tersebut.

Dulunya armada Boeing 747-212B ini dimiliki dan dioperasikan oleh maskapai Swedia bernama Transjet, yang bangkrut pada tahun 2002. Sebelumnya, armada ini awalnya dibuat untuk maskapai Singapore Airlines dan Pan Am.

Kini, hotel tersebut memiliki 33 kamar dengan sejumlah kelas di dalamnya. Jenis kamar berbeda, dengan total 76 tempat tidur secara keseluruhan ditambah luas ruangan 6x3 meter.

Traveler pun bisa memilih sesuai kebutuhan. Jika traveling beramai-ramai, bisa menggunakan jenis dorm dengan bunk bed yang dapat menampung hingga 4 orang. Ada juga jenis kamar standard dan suite, untuk pengalaman yang lebih eksklusif.

Penginapan juga memiliki kafe dan bar, untuk sekadar bersantai menikmati pengalaman yang berbeda. Jika traveler hanya ingin transit dan memiliki waktu minim, mungkin ini bisa jadi alternatif tempat menghabiskan waktu.

Apabila ingin menginap dan langsung pergi ke bandara, pihak hotel juga menyediakan shuttle transfer gratis ke bandara internasional Arlanda.

Nah, jika traveler mau coba menginap di sini, siapkan biaya SEK 550-SEK 1895 (Krona Swedia). Jika dalam rupiah, berkisar Rp 837 ribu-2,8 juta per malamnya.

Event Seru di Banyuwangi, Bersepeda Sambil Pesta Cokelat

Ajang sport tourism kembali hadir di Banyuwangi. Yang terdekat adalah event Chocolate Glenmore Run pada 16 Februari dan Chocolate Happy Cycling 17 Februari.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, event yang dipusatkan di kawasan wisata Doesoen Kakao, perkebunan Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi tersebut juga dirangkai dengan Chocolate Jazz & Food Festival.

"Kami ingin mengenalkan Glenmore sebagai salah satu penghasil kakao terbaik dunia. Kakao dari perkebunan Glenmore ini telah diekspor ke berbagai penjuru dunia dan menjadi bahan cokelat terbaik di dunia," kata Anas kepada wartawan, Kamis (7/2/2019).

Para peserta akan diajak menyusuri hamparan areal perkebunan kakao dan karet seluas 1.500 hektar. Selain menjelajahi kebun kakao sepanjang rute, para pelari dan pesepeda bisa menikmati kuliner berbahan cokelat yang diolah penduduk setempat.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Wawan Yadmadi menambahkan, kompetisi lari ini akan melombakan dua kategori, yakni 5 kilometer dan 10 kilometer. Para wisatawan juga bisa mengikuti kompetisi sepeda menaklukkan lintasan menantang dalam Chocolate Happy Cycling. Peserta akan melintasi rute sejauh 20,4 km dengan mengambil lokasi start dan finish yang sama, yaitu di Doesoen Kakao.

"Lintasan yang akan dilalui peserta 80 persen offroad. Setelah melewati jalur mulus di jalan lintas selatan, mereka akan memasuki jalanan terjal dan berbatu di pinggiran perkebunan cokelat yang rimbun. Tantangan akan semakin berat pada 2 kilometer terakhir saat peserta harus menaklukkan rute menanjak dan beraspal yang licin," terang Wawan.