Kamis, 05 Maret 2020

Memupuk Toleransi dengan Wisata Keliling Jakarta Utara

Memupuk rasa toleransi bisa traveler mulai dengan berwisata ke berbagai tempat ibadah di Jakarta Utara. Kita bisa belajar soal sejarah juga di sini.

Para traveler, khususnya yang tinggal di seputar Jakarta, jika belum memiliki rencana untuk menghabiskan waktu di akhir pekan, ada salah satu alternatif untuk menikmati akhir pekan dengan efektif yaitu dengan wisata Kebhinekaan.

Dengan kegiatan wisata ini, selain bisa belajar tentang tempat-tempat bersejarah di kota Jakarta, kita juga bisa belajar untuk semakin memperdalam rasa toleransi di antara sesama umat beragama.

Saya berkesempatan untuk mengikuti wisata Kebhinekaan di wilayah Cilincing, Jakarta Utara yang diadakan oleh komunitas Wisata Kreatif Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 5 Januari 2019 yang lalu, dipandu oleh Ibu Ira dari tim Wisata Kreatif Jakarta sebagai pemandu wisatanya.

Dalam buku Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta, karya A. Heuken Sj, Jakarta, dalam perjalanan panjangnya sebagai sebuah kota, ada banyak hal yang yang mewarnai sejarah maupun kehidupannya sekarang: Ada Tugu Hindu, Gereja Belanda untuk orang-orang Portugis beragama Protestan, Mesjid, Klenteng Tionghoa.

ebagai kota Pelabuhan, Jakarta sudah bercorak internasional sejak masih disebut Sunda Kelapa. Sejak berabad-abad yang lalu orang dari berbagai macam latar belakang suku, budaya dan agama sudah berinteraksi di tempat ini dan dalam sejarah kota ini orang-orang dalam berbagai macam latar belakang tersebut berinteraksi dengan damai dan tanpa prasangka (A. Heuken Sj, 1997: 13).

Interaksi sejak berabad-abad yang lalu tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Salah satu tempat di Jakarta yang sedikit banyak bercerita tentang interaksi keberagaman itu ada di wilayah Cilincing Jakarta Utara.

Cilincing, wilayah di pesisir Jakarta Utara-yang dalam kesehariannya hiruk-pikuk dengan kepadatan kendaraan-kendaraan berat pengangkut petikemas, memiliki beberapa rumah peribadatan dalam lokasi yang relatif berdekatan. Hal ini membuktikan bahwa toleransi itu sudah lama ada dan tetap bertahan hingga hari ini.

Beberapa rumah Ibadat ada di wilayah ini, seperti: Gereja Tugu, Gereja Katolik Salib Suci, Vihara Lalitavistara, Pura Segara, Masjid Al Alam Cilincing, Pura Dalem Purna Jati dan lain-lain. Beberapa di antara rumah Ibadah itu bahkan ada yang sudah berusia ratusan tahun dan menjadi Cagar Budaya DKI Jakarta.

Dalam tulisan ringan ini akan membahas pengalaman mengikuti walking tour pada tanggal 5 Januari 2019 yang lalu ke lokasi rumah-rumah Peribadatan: Vihara Lalitavistara, Pura Segara, Masjid Al Alam Cilincing, dan Pura Dalem Purna Jati Tanjung Puri Cilincing.

1. Vihara Lalitavistara

Tempat peribadatan pertama yang dikunjungi adalah sebuah Klenteng yang disebut-sebut sebagai salah satu Kelenteng yang tertua di Jakarta. Klenteng ini telah dikembangkan dengan bangunan Vihara yang disebut dengan nama Vihara Lalitavistara. Terletak di Jl. Cilincing Lama I No.5 RT.7/RW.4, Cilincing, Jakarta Utara.

Dalam Buku Tempat-Tempat bersejarah di Jakarta dituliskan bahwa pada abad ke-16 secara berkala Banten disinggahi oleh pedagang-pedagang Tionghoa yang menjadi saingan kuat pedagang-pedagang Portugis, Belanda dan Inggris di sana (A. Heuken, Sj, 1997: 173). Pedagang dan pelaut dari Tionghoa tersebut tentu pernah singgah dan berlabuh di wilayah-wilayah pesisir Pulau Jawa, salah satunya adalah wilayah Cilincing.

Menurut penuturan pengurus Vihara yang memandu kami, para pedagang dan pelaut itu tentu memiliki kebutuhan untuk menjaga identitas spiritualnya, salah satunya adalah dengan membangun Klenteng di mana mereka bisa berkumpul dan berdoa dalam keyakinan dan tradisi mereka.

Satonda, Si Mungil Cantik dari Sumbawa (2)

Bahkan menurut sebuah penelitian, biota dan segala hal yang ada di dalam Danau Satonda mirip dengan lautan pada zaman purba karena banyaknya material strimalit yang hanya ada sekitar 3,4 miliar tahun lalu dan tidak pernah ditemukan lagi sekarang.

Jika dihubungkan dengan cerita rakyat, sebenarnya pulau satu ini adalah pulau larangan atau pulau terkutuk dan tidak diperbolehkan siapapun untuk mendiaminya karena Pulau Satonda merupakan tempat pengasingan Puteri Dae Minga yang dulunya diperebutkan oleh banyak orang dari berbagai kerajaan. Karena seringnya terjadi pertikaian antara orang-orang yang ingin mempersunting sang putri, maka Putri Dae Minga sengaja diasingkan di pulau tersebut.

Ada satu lagi hal unik di Satonda yaitu keberadaan Pohon Kalibuda atau orang sering menyebutnya 'Pohon Harapan'. Orang orang lokal di sini masih percaya akan hal hal yang sedikit tak masuk diakal seperti pohon Kalibuda yang bisa mengabulkan keinginan.

Jadi setiap ada keinginnan, mereka datang ke danau ini dan mengantungkan batu di pohon sambil memanjatkan doa kepada sang leluhur. Nah jikalau doa mereka terkabul, mereka akan kembali ke pohon itu dan melepas sesuatu yang dulu digantungkan sambil menggelar upacara syukuran kecil.

Puas duduk duduk santai di pinggiran danau kami ingin melihat Danau dari sudut yang berbeda. Kamipun segera berjalan menyusuri jalur setapak kecil yang akan mengantarkan kami di sebuah bukit sebelah kanan danau.

Tak bisa dianggap enteng jalur yang kita lalui sangat menanjak tajam apalagi ditambah dengan udara pesisir yang panas dan lembab sukses membuat peluh keluar tanpa bisa terkontrol. Walaupun lelah pemandangan yang disuguhkan cukup membuat mata segar. Gradasi warna air di pesisir Pulau Satonda sungguh indah dilihat dari ketinggian tempat kita berjalan.

15 menit saja jalanan curam sudah menemui ujungnya berganti dengan jalur datar membelah hutan. Dan ketika hutan sudah menemui ujung pemandangan terbuka langsung menyambut. Nampak di depan mata keindahan Danau Satonda yang semakin nampak nyata dari ketinggian.

Sisi bukit sebelah kanan dari Satonda ini mempunyai sebuah padang rumput yang cukup luas dan terlihat kontras jika dibandingkan dengan bukit yang ada diseberangnya yang nampak lebih lebat pepohonannya yang menjulang tinggi.

Walaupun menurut informasi pulau kecil ini sudah dikelola oleh swasta dengan dibangunnya resort dengan segala fasilitasnya, namun ketenangan dan keasrian Satonda nampak masih terawat dengan baik.

Tepat di tengah Pulau terdapat sebuah danau air asin yang membuat Satonda ini cukup ikonik. Danau ini dahulu diduga sebagai kawah dari Gunung Satonda yang kini sudah tak aktif lagi.

Fakta ini cukup bisa diterima karena bukit bukit yang mengelilinginya pun berbentuk seperti sebuah kaldera gunung berapi. Sementara air asin yang ada di danau berasal dari Tsunami yang terjadi akibat letusan gunung Tambora pada tahun 1815 silam.

Hanya butuh 5 menit saja berjalan dari dermaga hingga tiba di tepian danau. Lagi lagi hanya sepi dan ketenangan yang menyambut kami. Jika diamati air danau berwarna sangat gelap sekilas hampir berwarna hitam. Cukup seram membayangkan kedalaman danau air asin ini.

Menurut informasi yang beredar, danau ini beberapa kali diteliti oleh beberapa pakar. Kadar asin dari danau di Pulau Satonda ini sampai sekarang masih menjadi misteri. Asal dari air laut ini pun menjadi perdebatan panjang apakah memang berasal dari Tsunami? atau ada sebuah lubang di bawah sana yang memungkinkan air laut dari luar merembes ke dalam? Itu hal yang masih menjadi misteri.