Memupuk rasa toleransi bisa traveler mulai dengan berwisata ke berbagai tempat ibadah di Jakarta Utara. Kita bisa belajar soal sejarah juga di sini.
Para traveler, khususnya yang tinggal di seputar Jakarta, jika belum memiliki rencana untuk menghabiskan waktu di akhir pekan, ada salah satu alternatif untuk menikmati akhir pekan dengan efektif yaitu dengan wisata Kebhinekaan.
Dengan kegiatan wisata ini, selain bisa belajar tentang tempat-tempat bersejarah di kota Jakarta, kita juga bisa belajar untuk semakin memperdalam rasa toleransi di antara sesama umat beragama.
Saya berkesempatan untuk mengikuti wisata Kebhinekaan di wilayah Cilincing, Jakarta Utara yang diadakan oleh komunitas Wisata Kreatif Jakarta, pada hari Sabtu tanggal 5 Januari 2019 yang lalu, dipandu oleh Ibu Ira dari tim Wisata Kreatif Jakarta sebagai pemandu wisatanya.
Dalam buku Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta, karya A. Heuken Sj, Jakarta, dalam perjalanan panjangnya sebagai sebuah kota, ada banyak hal yang yang mewarnai sejarah maupun kehidupannya sekarang: Ada Tugu Hindu, Gereja Belanda untuk orang-orang Portugis beragama Protestan, Mesjid, Klenteng Tionghoa.
ebagai kota Pelabuhan, Jakarta sudah bercorak internasional sejak masih disebut Sunda Kelapa. Sejak berabad-abad yang lalu orang dari berbagai macam latar belakang suku, budaya dan agama sudah berinteraksi di tempat ini dan dalam sejarah kota ini orang-orang dalam berbagai macam latar belakang tersebut berinteraksi dengan damai dan tanpa prasangka (A. Heuken Sj, 1997: 13).
Interaksi sejak berabad-abad yang lalu tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Salah satu tempat di Jakarta yang sedikit banyak bercerita tentang interaksi keberagaman itu ada di wilayah Cilincing Jakarta Utara.
Cilincing, wilayah di pesisir Jakarta Utara-yang dalam kesehariannya hiruk-pikuk dengan kepadatan kendaraan-kendaraan berat pengangkut petikemas, memiliki beberapa rumah peribadatan dalam lokasi yang relatif berdekatan. Hal ini membuktikan bahwa toleransi itu sudah lama ada dan tetap bertahan hingga hari ini.
Beberapa rumah Ibadat ada di wilayah ini, seperti: Gereja Tugu, Gereja Katolik Salib Suci, Vihara Lalitavistara, Pura Segara, Masjid Al Alam Cilincing, Pura Dalem Purna Jati dan lain-lain. Beberapa di antara rumah Ibadah itu bahkan ada yang sudah berusia ratusan tahun dan menjadi Cagar Budaya DKI Jakarta.
Dalam tulisan ringan ini akan membahas pengalaman mengikuti walking tour pada tanggal 5 Januari 2019 yang lalu ke lokasi rumah-rumah Peribadatan: Vihara Lalitavistara, Pura Segara, Masjid Al Alam Cilincing, dan Pura Dalem Purna Jati Tanjung Puri Cilincing.
1. Vihara Lalitavistara
Tempat peribadatan pertama yang dikunjungi adalah sebuah Klenteng yang disebut-sebut sebagai salah satu Kelenteng yang tertua di Jakarta. Klenteng ini telah dikembangkan dengan bangunan Vihara yang disebut dengan nama Vihara Lalitavistara. Terletak di Jl. Cilincing Lama I No.5 RT.7/RW.4, Cilincing, Jakarta Utara.
Dalam Buku Tempat-Tempat bersejarah di Jakarta dituliskan bahwa pada abad ke-16 secara berkala Banten disinggahi oleh pedagang-pedagang Tionghoa yang menjadi saingan kuat pedagang-pedagang Portugis, Belanda dan Inggris di sana (A. Heuken, Sj, 1997: 173). Pedagang dan pelaut dari Tionghoa tersebut tentu pernah singgah dan berlabuh di wilayah-wilayah pesisir Pulau Jawa, salah satunya adalah wilayah Cilincing.
Menurut penuturan pengurus Vihara yang memandu kami, para pedagang dan pelaut itu tentu memiliki kebutuhan untuk menjaga identitas spiritualnya, salah satunya adalah dengan membangun Klenteng di mana mereka bisa berkumpul dan berdoa dalam keyakinan dan tradisi mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar