Kamis, 12 Maret 2020

Siapa Sangka, Taman Cantik Ini Dulunya Gunung Sampah

Korea Selatan punya seribu cara untuk memikat wisatawan. Seperti Haneul Park, sebuah taman di atas bukit Seoul yang dahulu adalah gunung sampah.
Awalnya saya dan teman seperjalanan tidak memasukkan Haneul Park ke dalam itinerary (ringkasan catatan perjalanan) karena sebelum tahun 2017 tempat ini tidak begitu populer di kalangan wisatawan mancanegara termasuk Indonesia. Akan tetapi menjelang keberangkatan kami pada Oktober 2017 semakin banyak selebgram Korea dan juga tanah air yang memosting foto di taman ini. Kami pun menjadi tertarik untuk mengunjunginya juga.

Ternyata rute menuju Haneul Park tidaklah sulit, kami hanya perlu naik subway line 6 lalu turun di World Cup Stadium Station dan ambil exit 1. Berjalan menyusuri sekitaran Stadium, kami disuguhi pemandangan musim gugur yang indah. Dedaunan pohon ginko yang menguning dan pohon maple yang memerah beterbangan sebelum berguguran ke tanah. Udara pun berhembus dengan segar di suhu antar 12-15 derajat celcius.

Lokasi Haneul Park ada di puncak bukit, meski bisa ditempuh dengan jalan kaki (dengan menaiki 291 anak tangga) kami memutuskan menggunakan bis saja untuk menghemat energi. Ongkosnya 3.000 won atau sekitar 36.000 rupiah per orang untuk perjalanan bolak-balik.

Sesampainya di puncak Haneul Park, selain berfoto dengan pohon eulalia, kita juga bisa melihat pemandangan menakjubkan kota Seoul termasuk Han River, Seoul N Tower, dan Gunung Bukhansan dari kejauhan. Sambil menikmati pemandangan kota Seoul, kita bisa duduk santai di bangku-bangku nyaman di bibir bukit.

Saya rekomendasikan mengunjungi Haneul Park di sore hari saat menjelang sunset karena perpaduan eulalia berwarna keemasan dengan langit senja yang memerah saya jamin akan menjadi suatu pemandangan yang tidak akan terlupakan.

Di balik keindahan Haneul Park, siapa yang menyangka jika taman indah ini dulunya adalah gunung sampah setinggi 98 meter. Awalnya Haneul Park adalah dataran biasa yang biasa ditanami kacang tanah dan shorgum. Kemudian karena dijadikan tempat pembuangan sampah, lama kelamaan membentuk bukit sampah yang semakin meninggi.

Untung saja pada tahun 1993, pemerintah kota Seoul menghentikan pembuangan sampah di tempat ini lalu merubahnya menjadi taman ekologi. Kini Haneul Park menjadi objek wisata yang dikunjungi ribuan wisatawan setiap harinya.

Pemerintah kita sepertinya harus banyak belajar dari pemerintah Korea Selatan terutama dalam hal penataan kota-kota di Indonesia. Bahkan gunung sampah pun jika dibersihkan lalu disulap menjadi  tempat menarik bisa mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit bagi negara dan warganya.

Monster Building, Lokasi Syuting Transformers di Hong Kong

Kawasan Quarry Bay atau yang dikenal dengan old Hong Kong begitu populer di kalangan turis. malah, sempat jadi lokasi syuting film Transformers.
Banyak traveler yang memilih Hong Kong untuk dijadikan destinasi liburan untuk tujuan belanja dan mengunjungi taman bermain Disneyland ataupun Ocean Park. Kelap-kelip lampu hingga hingar bingar Hong Kong sangat menarik bagi traveller yang menginginkan suasana kota yang hidup terutama di saat malam hari. Gedung pencakar langit dan bangunan-bangunan bertingkat lainnya sangat umum ditemukan di Hong Kong. Namun, terdapat satu kawasan yang menarik perhatian untuk saya kunjungi yaitu kawasan Quarry Bay.

Kawasan Quarry Bay terkenal dengan adanya 'monster building,' yaitu 5 rangkaian bangunan rumah susun padat penduduk yang terdiri dari Oceanic Mansion, Montane Mansion, Fook Cheong Building, Yick Cheong Building dan Yick Fat Building. Untuk ke tempat ini saya naik MTR dan turun di stasiun Quarry Bay kemudian keluar lewat Exit A dan tinggal menyusuri Kings Road.

Masuk ke kawasan ini tidak dikenakan biaya tertentu, tapi cukup memakan banyak waktu untuk sampai ke tempat ini. Namun, berhubung saya adalah seorang flashpacker yang suka berfoto berlatar belakang tempat-tempat yang estetik dan instagrammable, rasa lelah tidak menjadi hambatan.

Sebelumnya, saya mengetahui kawasan ini dari film kesukaan saya yaitu Transformers. Yap, benar sekali Quarry Bay ini menjadi salah satu lokasi syuting dari film Transformers : Age of Extinction yang rilis tahun 2014. Gara-gara film ini, saya jadi penasaran untuk mengunjungi Quarry Bay untuk melihat langsung bangunan-bangunan komplek perumahan tersebut. Apalagi tempat ini berada di Asia dan terjangkau. Saya juga bertemu beberapa turis juga yang berkunjung tempat ini akibat film yang sama. Melihat langsung lokasi film Hollywood merupakan salah satu wishlist saya yang berhasil terkabul. 

Menjaga Gunung-gunung Papua Lewat Papua Mountaineering Association

Bukan hanya pesisir pantai, wilayah gunung-gunung di Papua sejatinya menarik untuk dijelajahi. Apalagi, Papua punya puncak tertinggi di negeri ini.

Lewat pelajaran Geografi di masa sekolah, kita diajarkan tentang bentang alam Indonesia. Jika menyebut Papua, salah satu bentang alam yang familiar di telinga adalah Pegunungan Jayawijaya.

Tak ayal, Pegunungan Jayawijaya terbentang panjang. Berada di bagian tengah Pulau Papua, dari timur sampai ke barat. Di sana pula, terdapat beberapa puncak-puncak gunung yang jadi impian para pendaki. Sebut saja Puncak Carstensz, Puncak Jaya, Puncak Trikora dan masih banyak lagi.

Beberapa puncaknya memiliki fenomena unik. Puncak Jaya misalnya, memiliki bentangan es abadi. Apalagi Puncak Carstensz, suatu impian para pendaki untuk berdiri di sana yang juga merupakan Seven Summits dunia!

Namun rupanya, belum ada regulasi pendakian yang jelas. Kesannya masih sulit terjamah, butuh biaya besar dan segi keamanan dipertanyakan. Maka itu, kini dibentuklah Papua Mountaineering Association (PMA) Asosiasi Pendaki dan Pemandu Gunung Papua.

"Lewat PMA, kami ingin menjaga gunung-gunung di Papua. Juga, kami ingin menjadikan gunung-gunung di Papua sebagai destinasi wisata yang mana nantinya akan menjadi sumber pendapatan ekonomi bagi orang-orang Papua," kata ketua PMA, Maximus Tipagau kepada detikTravel, Senin (14/1/2019).

Maximus menjelaskan, Sabtu (12/1) kemarin, PMA sudah bertemu dengan beberapa stakeholder pariwisata di Papua seperti ASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies) Papua, HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Papua, Dinas Pariwisata Provinsi Papua hingga FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia).

Menurut Maximus, kini sudah saatnya gunung-gunung Papua harus dijaga dan dirawat sebaik mungkin. Khususnya Puncak Carstensz dan sekitarnya, yang mana lebih banyak pendaki luar negeri dibanding pendaki Indonesia yang datang ke sana.

"Permasalahan Puncak Carstensz dari tahun 1971 sampai hari ini belum beres dalam hal keamanan, regulasi dan pajak kepada pemerintah daerah maupun pusat. Mau sampai kapan kita menunggu kalau bukan sekarang saatnya orang-orang Papua lebih peduli terhadap tanah kelahirannya," papar Maximus.

"Kami menggandeng pihak Dinas Pariwisata, ASITA dan lainnya supaya sama-sama kita membangun pariwisata Papua lewat wisata minat khusus pendakian gunung. Potensi wisata gunung di Papua sangat besar, bahkan ada fauna-fauna yang cuma ada di sini dan tidak ada di tempat lain," sambungnya.

Ke depannya, Papua Mountaineering Association akan menjaga habitat alam di gunung-gunung Papua melalui berbagai kegiatan. Untuk pengembangan wisata pendakian gunung, nantinya pihak ASITA dapat membantu memasarkan. Sementara untuk regulasi pendakian, Papua Mountaineering Association dan Dinas Pariwisata Provinsi Papua akan lebih giat mengajak Pemerintah Provinsi Papua untuk terus berdiskusi.

"Kami akan terus memberikan informasi tentang potensi wisata di gunung-gunung Papua khususnya Carstensz, membuat pelatihan menjadi guide kepada orang-orang Papua dan lainnya. Kami terbuka dengan asosiasi pendaki gunung-gunung lain di Indonesia untuk saling bertukar pikiran," tutup Maximus.