Kamis, 02 April 2020

2.500 Turis Gugat Pejabat Austria karena Wabah Corona di Resor Ski

Sebuah resor ski di Austria menjadi penyebab wabah virus Corona semakin menyebar. Pasalnya, ribuan wisatawan terinfeksi setelah pulang dari wisata tersebut.
Seperti dilansir CNN Travel, Kamis (2/4/2020) pejabat Austria mendapat gugatan dari ribuan wisatawan setelah sebuah restoran dan bar populer di kota resor ski Austria, Ischgl, menyebabkan mereka terinfeksi virus Corona. Pihak berwenang di provinsi Tyrol dituduh bereaksi lambat terhadap tanda-tanda pertama dari wabah virus Corona, khususnya di Ischgl. Hal ini menjadi penyebab berkembangnya virus Corona di Eropa dan sekitarnya.

Asosiasi Perlindungan Konsumen Austria (VSV) mengatakan, pihak berwenang akan bertanggung jawab atas reaksi lambat yang dilakukan di awal pandemi. Lima hari pasca seruan, sekitar 2.500 orang mengajukan laporan kepada kantor kejaksaan umum di Innsbruck. Sekitar 80% di antaranya berasal dari Jerman.

Seperti cerita dari Henrik Lerfeld, salah satu wisatawan yang terinfeksi Corona setelah 4 hari pulang dari salah satu resor di Ischgl, Kitzloch. Tak hanya dia namun temannya yang pergi bersamanya ikut terinfeksi. Setelah itu, semakin banyak laporan kasus virus Corona dari resor ski, termasuk belasan bartender yang bekerja di sana.

Juru bicara jaksa kota Innsbruck, Hansjörg Mayr, mengkonfirmasi kepada CNN, mereka telah menerima laporan dan mengatakan polisi mulai menyelidiki kasus ini.

"Hampir semua laporan menyangkut Ishgl, sebagian besar orang dikarantina di rumah," kata Hansjörg Mayr.

"Jika Anda berada di resor ski Ischgl, Paznautal, St. Anton am Arlbeg, Solden atau Zilertal pada 5 Maret 2020 atau lebih baru dan tak lama kemudian didiagnosis terinfeksi virus Corona, maka Anda berhak mengklaim ganti rugi terhadap otoritas Tyrolean dan terhadap republik Austria. Asalkan kami dapat menghasilkan bukti kelalaian melalui laporan yang relevan dalam proses pidana," tulis VSV di situs webnya.

Dalam sebuah pernyataan kepada CNN, kantor jaksa penuntut umum telah menugaskan kantor polisi kriminal Tyrol untuk melakukan investigasi atas dugaan kelalaian yang membahayakan orang karena penyakit menular.

Ischgl dan desa-desa sekitarnya telah menarik sekitar 500.000 pengunjung setiap musim dingin, menarik tokoh-tokoh terkenal, seperti Paris Hilton, Naomi Campbell dan Bill Clinton pada tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Kementerian kesehatan Austria,Ada lebih dari 10.711 kasus virus Corona di Austria.

Belajar Aneka Hasil Perkebunan di Kusuma Agrowisata

Traveler bisa belajar mengenai perkebunan di Kusuma Agrowisata, kota Batu. Di sini terdapat museum yang memiliki aneka penelitian tumbuhan.
Salah satu kawasan agrowisata di kota Batu yang cukup lengkap adalah Kusuma Agrowisata Tidak hanya bisa memetik buah langsung di kebunnya, di tempat ini pengunjung juga bisa belajar mengenai perkebunan, tepatnya di museum yang terdapat di De Tjangkul, salah satu area di dalam kawasan Kusuma Agrowisata.

Mulai dari aneka hasil kebun, aneka jenis pupuk sampai alat yang dipergunakan untuk berkebun tersedia di sini. Bahkan di museum ini kita juga bisa menjumpai kacang macadamia, kacang termahal di dunia yang juga di budidayakan di Indonesia. Biji kacang macadamia bisa menghasilkan minyak yang digunakan untuk kosmetik. Selain itu rasanya juga sangat lembut.

Bahkan tidak jarang, mahasiswa tingkat akhir menjadikan kawasan Kusuma Agrowisata sebagai tempat mencari data untuk tugas akhir. Berbagai hasil penelitiannya pun juga bisa kita baca di museum ini traveler.

Memang ukuran museum nya tidak terlalu luas, namun ilmu yang diberikan sangatlah bermanfaat. Selain itu terdapat juga penjelasan mengenai cara bertanam apel, perawatan sampai proses panennya. Untuk masuk ke dalam museum tidak dikenakan tambahan biaya, cukup membayar tiket masuk di loket utama saja.

Cerita WNI Tentang Keadaan Jepang Saat Ini

Efek virus Corona di Jepang tak terlalu terlihat. Beginilah cerita warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di sana. WNI yang membagikan cerita soal keadaan di Jepang adalah Anita Aulia Putri. Ia tinggal di Nagoya Jepang selama dua tahun terakhir.
"Awal mulanya virus Corona mulai terdeteksi di Jepang di bulan Januari, khususnya di Tokyo dan Kyoto. Dia yang terinfeksi pertama adalah orang China yang pulang kampung ke China, dua minggu demam dan kemudian diidentifikasi positif corona," kata Anita, Kamis (2/4/2020).

"Semenjak itu, pendatang seperti saya dan warga lokal membatasi eye contact dengan orang China," jelas dia.

Setelah kasus itu, puncak efek Corona di Jepang adalah ketika ada warga yang terinfeksi Corona setelah pulang dari Hawaii. Imbasnya adalah warga lokal semakin mawas diri dengan keluar rumah selalu menggunakan masker dan sering mencuci tangan.

"Soal transportasi, menurut saya berjalan seperti biasa. Hanya mereka yang keluar rumah selalu menggunakan masker dan cuci tangan menggunakan alkohol," jelas dia.

Anita menjelaskan saat Corona mulai bikin panik warga Jepang. Penduduk di sana juga bisa termakan hoaks hingga berujung panic buying.

"Sekitar pertengahan bulan Februari stok masker di Jepang sudah habis. Orang Jepang sempat panic buying, terutama tisu toilet. Karena mereka dapat kabar bahwa tisu toilet tidak akan diproduksi lagi," kata Anita.

"Mungkin mereka berpikir bahwa tisu toilet itu yang memroduksi China, dan di sana sudah mulai tutup, jadi bisa tidak diproduksi lagi. Jadi mereka beli banyak sampai habis nggak ada stok," imbuh dia.

Namun, meski sempat terjadi panic buying, ketersediaan bahan makanan sekitar tempat tinggalnya, yakni di Nagoya tergolong biasa saja.

Lebih lanjut, memasuki bulan Maret, pemerintah Jepang sudah jarang menayangkan orang-orang yang terkena Corona. Mereka mulai membahas tentang Olimpiade, kapan diselenggarakan kembali, dan persiapannya.

"Di China sendiri sudah mulai reda dan sembuh, jadi di Jepang juga melakukan aktivitas biasa. Tidak ada libur pekerja itu nggak ada sama sekali," jelas dia.

"Jadi, pikir mereka baik-baik melihat sakura di kerumunan. Namun, setelahnya ada 50 orang terkena Corona kata gubernur. Lalu pemerintah memberi arahan agar warga stay di rumah selama weekend," imbuh dia menegaskan.

Terakhir, Jepang akan melakukan lockdown jika warganya nggak mau mengikuti aturan, khususnya di Tokyo. Sedang di Nagoya, aktivitas bandara sudah ditutup per April ini.

2.500 Turis Gugat Pejabat Austria karena Wabah Corona di Resor Ski

Sebuah resor ski di Austria menjadi penyebab wabah virus Corona semakin menyebar. Pasalnya, ribuan wisatawan terinfeksi setelah pulang dari wisata tersebut.
Seperti dilansir CNN Travel, Kamis (2/4/2020) pejabat Austria mendapat gugatan dari ribuan wisatawan setelah sebuah restoran dan bar populer di kota resor ski Austria, Ischgl, menyebabkan mereka terinfeksi virus Corona. Pihak berwenang di provinsi Tyrol dituduh bereaksi lambat terhadap tanda-tanda pertama dari wabah virus Corona, khususnya di Ischgl. Hal ini menjadi penyebab berkembangnya virus Corona di Eropa dan sekitarnya.

Asosiasi Perlindungan Konsumen Austria (VSV) mengatakan, pihak berwenang akan bertanggung jawab atas reaksi lambat yang dilakukan di awal pandemi. Lima hari pasca seruan, sekitar 2.500 orang mengajukan laporan kepada kantor kejaksaan umum di Innsbruck. Sekitar 80% di antaranya berasal dari Jerman.

Seperti cerita dari Henrik Lerfeld, salah satu wisatawan yang terinfeksi Corona setelah 4 hari pulang dari salah satu resor di Ischgl, Kitzloch. Tak hanya dia namun temannya yang pergi bersamanya ikut terinfeksi. Setelah itu, semakin banyak laporan kasus virus Corona dari resor ski, termasuk belasan bartender yang bekerja di sana.

Juru bicara jaksa kota Innsbruck, Hansjörg Mayr, mengkonfirmasi kepada CNN, mereka telah menerima laporan dan mengatakan polisi mulai menyelidiki kasus ini.