Senin, 06 April 2020

London Lockdown, Orang Ini Menyamar Jadi Tanaman Demi Bisa Keluar Rumah

Di tengah pandemi virus Corona, warga justru menunjukkan aksi-aksi konyol karena tak bisa keluar rumah. Seperti yang satu ini.
Lockdown (penguncian wilayah) menjadi menjenuhkan bagi sebagian warga. Salah seorang warga London bahkan rela menyamar menjadi tanaman untuk bisa keluar rumah. Aksinya pun tertangkap kamera oleh tetangganya yang bernama Nicholas Murray dan Madeline Maidavies, menurut Daily Mail. Video tiktok @maddiedavies.x dibagikan kembali oleh aku twitter @tbvhanis.

maisarah
@tbvhanis
This is how Mont Kiara’s pipol jogging soon since ppl keep coming for their necks 

Video terlekat
9.334
17.10 - 26 Mar 2020
Info dan privasi Iklan Twitter
10,7 rb orang memperbincangkan tentang ini


Dengan sesekali berjongkok dan bersembunyi di belakang tanaman lain, orang yang terlihat seperti semak-semak ini terlihat sangat lucu menggunakan kostum berwarna hijau mirip dedaunan. Saat memastikan tak ada orang yang melihat, dia pun lari menyeberangi jalanan.

Pasangan ini juga membagikan aksi si tetangga saat pulang membawa plastik berwarna oren. Saking takutnya, orang ini sampai berbaring di jalanan agar tidak ketahuan.

Tentu hal ini menjadi hiburan bagi Nicholas dan Madeline, serta orang-orang yang melihat video ini.

"Saya tidak berharap video ini menjadi viral dan mendapat 16,5 juta tayangan. Sementara di masa sulit ini kami ingin membawa senyum," kata Nick kepada Mirror.

Wisata Ditutup, Relawan Beri Makan Ratusan Monyet Grojogan Sewu

Taman Wisata Alam Grojogan Sewu di Karanganyar terpaksa ditutup sementara akibat virus corona. Relawan pun sukarela memberi makan monyet di sana.
Taman Wisata Alam Grojogan Sewu, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, ditutup sebagai imbas pandemi virus Corona atau COVID-19. Penutupan ini ternyata berdampak pada nasib ratusan ekor monyet penghuni obyek wisata tersebut.

Camat Tawangmangu, Rusdianto mengungkapkan, terdapat sekitar 150 ekor monyet yang hidup di hutan sekitar obyek wisata Grojogan Sewu. Pada hari biasa, kawanan monyet ini banyak mendapatkan makanan dari pengunjung. Namun sejak obyek wisata ini ditutup 18 Maret lalu, praktis tidak ada lagi pengunjung yang memberi makan kawanan monyet tersebut.

"Ada satu dua ekor (monyet) yang sempat merambah perkampungan. Tapi itu biasa, belum sempat menjarah makanan. Nah, sebagai langkah antisipasi, kami mengumpulkan relawan dan warga untuk mencari solusi untuk kondisi kawanan monyet ini. Karena di dalam sudah tidak ada makanan, agar nanti tidak ngerusuhi (mengganggu) masyarakat," ujar Rusdianto, dihubungi detikcom, Sabtu (4/4/2020).

Rusdianto melanjutkan, pihaknya kemudian mengundang berbagai pihak terkait kondisi kawanan monyet Grojogan Sewu tersebut. Pihaknya meminta kerjasama pedagang buah Pasar Tawangmangu, untuk menyisihkan buah tak layak jual untuk diberikan kepada kawanan monyet Grojogan Sewu.

"Jadi mekanismenya tiap hari kita kumpulkan buah-buah tersebut. Kita sortir kemudian diberikan kepada kawanan monyet ini. Kita rangkul seluruh relawan di Tawangmangu, untuk bisa membantu memberikan makanan kepada kawanan kera tersebut," kata Rusdianto.

Dulu Dicerca, Kini Gaya Hidup 'Hikikomori' ala Jepang Dielukan

Jauh sebelum pandemi corona menyerang, Jepang mempunyai gaya hidup 'hikikomori' atau mengurung diri dan main game di kamar. Dulu dihina, sekarang dielukan.
Tak hanya ramai di Indonesia, pandemi corona juga menjadi perhatian di Negeri Sakura Jepang. Seperti di sini, Pemerintah Jepang pun sudah mengimbau warganya untuk melakukan isolasi diri demi mencegah penyebaran virus corona.

Beragam upaya pun dilakukan, termasuk mempropagandakan kembali gaya hidup 'hikikomori' yang sempat dikritik karena dianggap sangat anti sosial. Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Senin (6/4/2020), dalam bahasa Jepang 'hikikomori' berarti menyendiri atau membatasi diri seperti diberitakan media SoraNews24.

Sedangkan menurut Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang, 'hikikomori' adalah istilah bagi orang-orang yang tidak ingin pergi keluar rumah. Dengan demikian, mengisolasi diri mereka dari masyarakat selama lebih dari enam bulan.

Dalam prosesnya, 'hikikomori' merupakan istilah untuk sebuah masalah sosial yang dipicu oleh gangguan mental (kecemasan dan depresi), wabah trend, kebiasaan berperilaku, lingkungan traumatik, pemasungan dan seterusnya.

Hanya di tengah pandemi corona seperti sekarang, Pemerintah Jepang melalui Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata (MLITT) membuat sebuah dewan khusus gawat darurat bertajuk 'Organisasi Studi Soliter dan Selibat' yang bertugas menerapkan strategi karantina diri.

Untuk menjalankan dewan khusus itu, Pemerintah Jepang pun menunjuk seorang pelaku 'hikikomori' bernama Dakura Maki asal Tokyo (34). Diketahui, Maki telah menerapkan gaya hidup itu selama 16 tahun lamanya di rumah orang tuanya. Singkat kata, Maki sudah 16 tahun tak keluar rumah.

London Lockdown, Orang Ini Menyamar Jadi Tanaman Demi Bisa Keluar Rumah

Di tengah pandemi virus Corona, warga justru menunjukkan aksi-aksi konyol karena tak bisa keluar rumah. Seperti yang satu ini.
Lockdown (penguncian wilayah) menjadi menjenuhkan bagi sebagian warga. Salah seorang warga London bahkan rela menyamar menjadi tanaman untuk bisa keluar rumah. Aksinya pun tertangkap kamera oleh tetangganya yang bernama Nicholas Murray dan Madeline Maidavies, menurut Daily Mail. Video tiktok @maddiedavies.x dibagikan kembali oleh aku twitter @tbvhanis.

maisarah
@tbvhanis
This is how Mont Kiara’s pipol jogging soon since ppl keep coming for their necks 

Video terlekat
9.334
17.10 - 26 Mar 2020
Info dan privasi Iklan Twitter
10,7 rb orang memperbincangkan tentang ini


Dengan sesekali berjongkok dan bersembunyi di belakang tanaman lain, orang yang terlihat seperti semak-semak ini terlihat sangat lucu menggunakan kostum berwarna hijau mirip dedaunan. Saat memastikan tak ada orang yang melihat, dia pun lari menyeberangi jalanan.

Pasangan ini juga membagikan aksi si tetangga saat pulang membawa plastik berwarna oren. Saking takutnya, orang ini sampai berbaring di jalanan agar tidak ketahuan.

Tentu hal ini menjadi hiburan bagi Nicholas dan Madeline, serta orang-orang yang melihat video ini.

"Saya tidak berharap video ini menjadi viral dan mendapat 16,5 juta tayangan. Sementara di masa sulit ini kami ingin membawa senyum," kata Nick kepada Mirror.