Jumat, 10 April 2020

Mengenal Obat Carrimycin yang Digunakan China untuk Covid-19

 Obat Carrimycin menambah daftar panjang obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan infeksi virus Corona (Covid-19). Setelah Remdesivir, Chloroquine, serta Lopinavir dan Ritonavir, China menggunakan obat Carrimycin untuk mengatasi Covid-19.

Carrimycin merupakan obat yang baru disetujui oleh badan pengawas produk medis China pada Juni 2019 lalu. Obat ini dikembangkan oleh tim yang dikepalai Profesor Yiguang Wang dari Institute of Medicinal Biotechnology bersama Shenyang Tonglian Group Co. Ltd. China memegang hak kekayaan intelektual obat ini.

Carrimycin dibuat untuk mengobati infeksi saluran pernapasan atas. Obat ini memiliki sifat antibakteri yang kuat. Para ahli di China lantas mencoba menggunakan obat ini untuk pasien positif virus corona.

Rumah Sakit Youan di Beijing telah memulai penelitian terkait penggunaan Carrimycin. Studi fase 4 sudah dipublikasikan di Clinicaltrials.gov pada 27 Februari lalu.

Peneliti melihat kemanjuran dan keamanan Carrimycin untuk Covid-19 dengan menguji efektivitasnya pada 520 pasien yang tersebar di sejumlah rumah sakit di China. Pasien ini berada pada rentang usia 18-70 tahun dengan gejala ringan, sedang, dan berat

Peneliti akan melihat penurunan gejala berupa demam, radang paru, dan keberadaan virus di tubuh.

Profesor Yiguang Wang yang mengembangkan obat ini dipercaya menjadi pemimpin penelitian ini. Pemerintah China ikut membiayai penelitian ini.

Hingga saat ini, peneliti masih menganalisis efektivitas obat Carrimycin untuk Covid-19. Hasil penelitian diperkirakan keluar dalam beberapa pekan ke depan.

Obat Ivermectin Diklaim Bisa Bunuh Virus Corona dalam 48 Jam

Penelitian terbaru menunjukkan obat Ivermectin dapat membunuh virus corona penyebab Covid-19 dalam waktu 48 jam. Ivermectin adalah obat anti-parasit yang tersedia di seluruh dunia.

Studi kolaboratif dari Monash University dan Doherty Institute ini baru saja dipublikasikan di Antiviral Research (3/4).

Sekelompok peneliti Australia itu menemukan bahwa satu dosis obat Ivermectin dapat menghentikan virus corona SARS-CoV-2 yang tumbuh dalam sel kultur. Obat itu secara efektif menghapus semua bahan genetik virus dalam waktu 48 jam.


"Kami menemukan bahwa bahkan dosis tunggal pada dasarnya dapat menghapus semua virus selama 48 jam dan bahkan pada 24 jam ada pengurangan yang sangat signifikan dalam hal itu," kata pemimpin penelitian ini Kylie Wagstaff, dikutip dari keterangan pers di Eurek Alert.

Wagstaff menjelaskan, mekanisme Ivermectin membunuh virus tidak diketahui secara pasti. Namun, kemungkinan Ivermectin bekerja menghentikan virus dengan melemahkan kemampuan sel inang.

Wagstaff mengatakan bahwa penelitian ini dilakukan secara in vitro atau di dalam laboratorium sehingga uji coba klinis pada orang perlu dilakukan sebelum digunakan secara luas.

Dalam waktu dekat, Wagstaff berencana melanjutkan penelitian dengan tujuan mencari dosis yang tepat untuk manusia.

"Ivermectin sangat banyak digunakan dan merupakan obat yang aman. Kami perlu mencari tahu berapa dosis yang efektif pada manusia, itu adalah langkah berikutnya," kata Wagstaff.

Wagstaff menyebut obat Ivermectin dapat menjadi alternatif saat vaksin virus corona belum ditemukan.

Ivermectin adalah obat anti-parasit yang terbukti efektif secara in vitro terhadap beragam virus termasuk HIV, Dengue, Influenza, dan Zika. Wagstaff dan peneliti lain dalam studi ini merupakan para ahli yang sudah meneliti Ivermectin terhadap sejumlah virus sejak lebih dari satu dekade.

Metode Lama dan Harapan Baru bagi Pasien Covid-19

Metode pengobatan lama yakni penggunaan plasma darah memberikan harapan baru bagi pasien positif Covid-19. Cara ini mulai kembali dikembangkan oleh beberapa negara.

Setelah penelitian oleh para ahli di Cina, sistem di Rumah Sakit Mount Sinai di New York juga mulai menguji perawatan tersebut guna memulihkan kondisi pasien Covid-19.

Pengobatan plasma darah pasien yang sudah sembuh dari Covid-19 disebut menjanjikan untuk mempercepat penyembuhan orang yang terinfeksi virus corona jenis baru (SARS-CoV-2). Mount Sinai dilaporkan telah menyediakan serum pemulihan yang berasal dari lebih 20 pasien Covid-19 yang mendonorkan darah.


"Kami memiliki begitu banyak pasien yang sakit. Kami berharap ini menjadi titik tolak sehingga bisa mempercepat pemulihan pasien," ungkap dokter Jeffrey Jhang, Direktur Medis Laboratorium Klinis dan Layanan Transfusi di Mount Sinai Health System seperti dilaporkan NBC News.

Terapi plasma konvalesen telah lama digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Pendekatan ini digunakan selama epidemi flu pada 1918 dan 1957 serta wabah yang disebabkan SARS, H1N1 dan Ebola.

Sementara dalam kasus Covid-19 ini, guna mempercepat pengujian pengobatan plasma darah, lebih dari 40 institusi kesehatan mengerjakan proyek dan mengumpulkan plasma dari pasien yang pulih. Jhang mengatakan, Mount Sinai telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) untuk mendukung tes ini.

Tes yang sedang berlangsung kini mengidentifikasi antibodi dari pasien. Dokter mengatakan, peningkatan antibodi bisa didapat dari efek pengobatan dengan plasma darah.

"Sementara tes lain mengukur, seberapa banyak antibodi yang dihasilkan. Hal ini penting, karena dengan begitu kami dapat mengidentifikasi donor dengan jumlah antibodi yang tinggi kemungkinan akan lebih besar manfaatnya bagi pasien penerima plasma tersebut," Jhang menjelaskan.

Namun begitu uji coba pengobatan Covid-19 dengan plasma darah ini masih menghadapi tantangan. Jhang membeberkan, timnya masih perlu menunggu lebih banyak pasien lagi yang pulih. Dan selanjutnya, studi juga harus mengembangkan respons terhadap kekebalan penyakit sebelum kembali mengumpulkan plasma.

Sepekan sebelumnya, FDA mengeluarkan pedoman baru untuk pengujian pengobatan plasma. Otoritas pengawasan makanan dan obat ini menyatakan, penyedia layanan kesehatan harus meningkatkan uji klinis sebelum mereka menerapkan metode ini secara teratur.

Para peneliti John Hopkins juga telah menerima izin dari FDA untuk menguji efek dari penyembuhan menggunakan plasma darah bagi orang yang sehat. Tes ini bertujuan melihat bagaimana pengobatan ini meningkatkan sistem kekebalan tubuh orang yang berisiko tinggi terpapar virus penyebab Covid-19. 

Mengenal Obat Carrimycin yang Digunakan China untuk Covid-19

 Obat Carrimycin menambah daftar panjang obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan infeksi virus Corona (Covid-19). Setelah Remdesivir, Chloroquine, serta Lopinavir dan Ritonavir, China menggunakan obat Carrimycin untuk mengatasi Covid-19.

Carrimycin merupakan obat yang baru disetujui oleh badan pengawas produk medis China pada Juni 2019 lalu. Obat ini dikembangkan oleh tim yang dikepalai Profesor Yiguang Wang dari Institute of Medicinal Biotechnology bersama Shenyang Tonglian Group Co. Ltd. China memegang hak kekayaan intelektual obat ini.

Carrimycin dibuat untuk mengobati infeksi saluran pernapasan atas. Obat ini memiliki sifat antibakteri yang kuat. Para ahli di China lantas mencoba menggunakan obat ini untuk pasien positif virus corona.

Rumah Sakit Youan di Beijing telah memulai penelitian terkait penggunaan Carrimycin. Studi fase 4 sudah dipublikasikan di Clinicaltrials.gov pada 27 Februari lalu.

Peneliti melihat kemanjuran dan keamanan Carrimycin untuk Covid-19 dengan menguji efektivitasnya pada 520 pasien yang tersebar di sejumlah rumah sakit di China. Pasien ini berada pada rentang usia 18-70 tahun dengan gejala ringan, sedang, dan berat

Peneliti akan melihat penurunan gejala berupa demam, radang paru, dan keberadaan virus di tubuh.

Profesor Yiguang Wang yang mengembangkan obat ini dipercaya menjadi pemimpin penelitian ini. Pemerintah China ikut membiayai penelitian ini.

Hingga saat ini, peneliti masih menganalisis efektivitas obat Carrimycin untuk Covid-19. Hasil penelitian diperkirakan keluar dalam beberapa pekan ke depan.