Sabtu, 02 Mei 2020

Bukan Disemprot ke Tubuh, Gugus Tugas COVID-19 Ungkap Cara Pakai Disinfektan

Secara umum, cairan disinfektan bisa membersihkan virus pada permukaan benda-benda seperti di baju. Namun Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Prof Wiku B. Adisasmito, menyebut cairan disinfektan tidak akan melindungi Anda dari virus corona jika berkontak erat dengan orang sakit, jadi sifatnya hanya sementara.
"Disinfektan ini adalah senyawa kimia yang digunakan untuk proses dekontaminasi yang membunuh mikroorganisme, virus atau bakteri, pada objek permukaan benda mati seperti lantai, meja, atau permukaan lain yang sering disentuh, peralatan medis," sebut Prof Wiku dalam konferensi pers dalam jaringan di BNPB, Senin (30/3/2020).

Dalam rangka pencegahan COVID-19, penggunaan cairan disinfektan di area publik, pasar, tempat ibadah, sekolah, dan rumah makan, diperbolehkan namun tetap perlu memperhatikan kompsisi dan jenis bahan disinfektan. Tidak dianjurkan dilakukan secara berlebihan seperti fogging karena dapat menimbulkan iritasi kulit bahkan mengganggu pernapasan.

"Penggunaan disinfektan dengan ruang chamber atau penyemprotan langsung ke tubuh manusia tidak direkomendasikan karena berbahaya bagi kulit, mulut, dan mata," tegasnya.

"Penggunaan dengan UV light, dalam konsenteasi berlebihan, mempunyai potensi jangka panjang dalam menimbulkan kanker kulit," sambungnya.

Penggunaan cairan disinfektan yang paling tepat dilakukan spesifik pada lokasi dan benda-benda yaitu lantai, kursi, meja, gagang pintu, toblok lift, handle eskalator, mesin ATM, etalase, atau wastafel. Setelah menyemprotkan permukaan benda, sebaiknya satu menit, dilakukan pengelapan permukaan menggunakan sarung tangan.

Selain itu, Prof Wiku juga mengingatkan untuk selalu mencuci tangan, hindari menyentuh area wajah, dan segera mandi ketika sampai di rumah.

"Cuci pakaian dengan sabun, dan menyetrika lalu diberi cairan disinfektan saat disetrika," pungkasnya.

Kandungan Kalsium pada Pisang Baik untuk Tulang Si Kecil

Pisang merupakan buah yang bertekstur lembut dan mudah ditelan. Oleh karena itu, buah pisang kerap dijadikan makanan untuk bayi berusia 0-12 bulan. Ternyata selain mudah dikonsumsi, buah pisang juga memiliki beragam manfaat, khususnya agar Si Kecil tidak mengalami stunting.
Bayi yang berusia 0-12 bulan membutuhkan kalsium antara 200-250 mg/hari dan biasanya dapat dipenuhi oleh ASI dan MPASI. Head of Medical Kalbe Nutritionals, dr Muliaman Mansyur menjelaskan di dalam 100 gr pisang terdapat kurang lebih 100 mg kalsium. Selain itu, pisang juga diketahui mengandung nutrisi lain seperti protein, karbohidrat dan lemak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi makro Si Kecil.

Mengonsumsi 200 gr pisang dapat membantu memenuhi kebutuhan kalsium Si Kecil untuk meningkatkan tumbuh kembang Si Kecil. Pisang juga merupakan makanan yang dapat diperkenalkan sebagai MPASI karena teksturnya yang lembut sehingga mudah ditelan oleh Si Kecil.

"Kalsium adalah mineral yang dibutuhkan anak-anak bahkan sejak ia masih di dalam kandungan. Kalsium akan tetap dibutuhkan setelah ia lahir untuk membentuk tulang dan gigi yang kuat dan padat," ujar dr. Muliaman kepada detikcom baru-baru ini.

Apabila kandungan kalsium Si Kecil tak dipenuhi, bukan tidak mungkin pertumbuhan tulangnya menjadi lambat. Bahkan dalam kasus yang lebih serius, kepadatan dan kekuatan tulang Si Kecil bisa saja terganggu.

"Kalsium bahkan berperan mendukung kinerja saraf dan otot yang baik serta menjaga kesehatan organ lainnya," lanjut dr Muliaman.

Namun apabila Si Kecil masih berusia 1 tahun atau di bawahnya, bisa dicoba dengan memberikan pisang dalam bentuk puree terlebih dahulu agar Si Kecil belajar teksturnya. Sayangnya, proses pembuatan puree lumayan merepotkan sehingga bagi para ibu yang bekerja, tentu membutuhkan waktu untuk membuatnya. Kini, muncul inovasi produk puree buah yang praktis dan cocok untuk balita, yaitu Milna Nature Delight.

Termakan Hoax Metanol untuk Obat Corona, 300 Warga Iran Dikabarkan Tewas

Sejak Jumat lalu, jumlah kematian akibat virus corona COVID-19 di Iran mencapai 2.378 orang. Total kasus yang terinfeksi pun sudah mencapai angka 32.300 kasus.
Untuk mengatasi ini, masyarakat Iran percaya dengan mengkonsumsi alkohol dengan kandungan metanol di dalamnya, bisa menyembuhkan penyakit akibat virus corona. Tapi, hal ini malah menyebabkan banyak orang meninggal dunia.

Sebanyak 300 orang meninggal dunia karena informasi keliru tersebut. Dikutip dari Daily Star, ini juga menyebabkan lebih dari 1.000 orang sakit setelah mengkonsumsi zat beracun tersebut.

Kepercayaan akan metanol muncul karena zat tersebut digunakan sebagai campuran untuk hand sanitizer sebagai pembersih virus di tangan. Mereka percaya, bahwa dengan meminum larutan tersebut juga memiliki efek yang sama.

"Virus ini menyerang orang-orang yang keadaan tubuhnya buruk. Saat mereka terus mengkonsumsi ini, maka akan lebih banyak yang keracunan. Dan saat itulah virus bisa menginfeksi tubuh manusia," ujar ahli toksikologi klinis dari Oslo, Knut Erik Hovda.

Selain itu, dampak dari keracunan ini membuat jatah tempat tidur untuk para pasien virus corona terus berkurang. Bahkan, bocah berusia 5 tahun juga mengalami kebutaan akibat keracunan alkohol tersebut.

Bukan Disemprot ke Tubuh, Gugus Tugas COVID-19 Ungkap Cara Pakai Disinfektan

Secara umum, cairan disinfektan bisa membersihkan virus pada permukaan benda-benda seperti di baju. Namun Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Prof Wiku B. Adisasmito, menyebut cairan disinfektan tidak akan melindungi Anda dari virus corona jika berkontak erat dengan orang sakit, jadi sifatnya hanya sementara.
"Disinfektan ini adalah senyawa kimia yang digunakan untuk proses dekontaminasi yang membunuh mikroorganisme, virus atau bakteri, pada objek permukaan benda mati seperti lantai, meja, atau permukaan lain yang sering disentuh, peralatan medis," sebut Prof Wiku dalam konferensi pers dalam jaringan di BNPB, Senin (30/3/2020).

Dalam rangka pencegahan COVID-19, penggunaan cairan disinfektan di area publik, pasar, tempat ibadah, sekolah, dan rumah makan, diperbolehkan namun tetap perlu memperhatikan kompsisi dan jenis bahan disinfektan. Tidak dianjurkan dilakukan secara berlebihan seperti fogging karena dapat menimbulkan iritasi kulit bahkan mengganggu pernapasan.

"Penggunaan disinfektan dengan ruang chamber atau penyemprotan langsung ke tubuh manusia tidak direkomendasikan karena berbahaya bagi kulit, mulut, dan mata," tegasnya.

"Penggunaan dengan UV light, dalam konsenteasi berlebihan, mempunyai potensi jangka panjang dalam menimbulkan kanker kulit," sambungnya.

Penggunaan cairan disinfektan yang paling tepat dilakukan spesifik pada lokasi dan benda-benda yaitu lantai, kursi, meja, gagang pintu, toblok lift, handle eskalator, mesin ATM, etalase, atau wastafel. Setelah menyemprotkan permukaan benda, sebaiknya satu menit, dilakukan pengelapan permukaan menggunakan sarung tangan.

Selain itu, Prof Wiku juga mengingatkan untuk selalu mencuci tangan, hindari menyentuh area wajah, dan segera mandi ketika sampai di rumah.

"Cuci pakaian dengan sabun, dan menyetrika lalu diberi cairan disinfektan saat disetrika," pungkasnya.