Sejak Jumat lalu, jumlah kematian akibat virus corona COVID-19 di Iran mencapai 2.378 orang. Total kasus yang terinfeksi pun sudah mencapai angka 32.300 kasus.
Untuk mengatasi ini, masyarakat Iran percaya dengan mengkonsumsi alkohol dengan kandungan metanol di dalamnya, bisa menyembuhkan penyakit akibat virus corona. Tapi, hal ini malah menyebabkan banyak orang meninggal dunia.
Sebanyak 300 orang meninggal dunia karena informasi keliru tersebut. Dikutip dari Daily Star, ini juga menyebabkan lebih dari 1.000 orang sakit setelah mengkonsumsi zat beracun tersebut.
Kepercayaan akan metanol muncul karena zat tersebut digunakan sebagai campuran untuk hand sanitizer sebagai pembersih virus di tangan. Mereka percaya, bahwa dengan meminum larutan tersebut juga memiliki efek yang sama.
"Virus ini menyerang orang-orang yang keadaan tubuhnya buruk. Saat mereka terus mengkonsumsi ini, maka akan lebih banyak yang keracunan. Dan saat itulah virus bisa menginfeksi tubuh manusia," ujar ahli toksikologi klinis dari Oslo, Knut Erik Hovda.
Selain itu, dampak dari keracunan ini membuat jatah tempat tidur untuk para pasien virus corona terus berkurang. Bahkan, bocah berusia 5 tahun juga mengalami kebutaan akibat keracunan alkohol tersebut.
Bukan Disemprot ke Tubuh, Gugus Tugas COVID-19 Ungkap Cara Pakai Disinfektan
Secara umum, cairan disinfektan bisa membersihkan virus pada permukaan benda-benda seperti di baju. Namun Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Prof Wiku B. Adisasmito, menyebut cairan disinfektan tidak akan melindungi Anda dari virus corona jika berkontak erat dengan orang sakit, jadi sifatnya hanya sementara.
"Disinfektan ini adalah senyawa kimia yang digunakan untuk proses dekontaminasi yang membunuh mikroorganisme, virus atau bakteri, pada objek permukaan benda mati seperti lantai, meja, atau permukaan lain yang sering disentuh, peralatan medis," sebut Prof Wiku dalam konferensi pers dalam jaringan di BNPB, Senin (30/3/2020).
Dalam rangka pencegahan COVID-19, penggunaan cairan disinfektan di area publik, pasar, tempat ibadah, sekolah, dan rumah makan, diperbolehkan namun tetap perlu memperhatikan kompsisi dan jenis bahan disinfektan. Tidak dianjurkan dilakukan secara berlebihan seperti fogging karena dapat menimbulkan iritasi kulit bahkan mengganggu pernapasan.
"Penggunaan disinfektan dengan ruang chamber atau penyemprotan langsung ke tubuh manusia tidak direkomendasikan karena berbahaya bagi kulit, mulut, dan mata," tegasnya.
"Penggunaan dengan UV light, dalam konsenteasi berlebihan, mempunyai potensi jangka panjang dalam menimbulkan kanker kulit," sambungnya.
Penggunaan cairan disinfektan yang paling tepat dilakukan spesifik pada lokasi dan benda-benda yaitu lantai, kursi, meja, gagang pintu, toblok lift, handle eskalator, mesin ATM, etalase, atau wastafel. Setelah menyemprotkan permukaan benda, sebaiknya satu menit, dilakukan pengelapan permukaan menggunakan sarung tangan.
Selain itu, Prof Wiku juga mengingatkan untuk selalu mencuci tangan, hindari menyentuh area wajah, dan segera mandi ketika sampai di rumah.
"Cuci pakaian dengan sabun, dan menyetrika lalu diberi cairan disinfektan saat disetrika," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar