Beberapa negara kembali membuka aktivitas sekolah dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Hal ini untuk menghindari penyebaran virus Corona COVID-19.
Jerman, Vietnam, bahkan Inggris kembali membuka sekolah di tengah pandemi Corona. Apa saja yang berubah di sekolah dan bagaimana mereka memastikan anak-anak aman saat melakukan aktivitasnya di sekolah?
1. Jerman
Salah satu sekolah di Jerman menerapkan swab test kepada siswa siswinya. Hasil tes Corona nantinya dikirim lewat email. Protokol kesehatan yang umumnya dilakukan di Jerman sebagai berikut.
- Melakukan swab test
- Lorong sekolah hanya dipakai satu arah saja
- Wajib pakai masker
- Siswa di ruangan kelas dibatasi
- Waktu mengajar dibagi dua gelombang
- Jarak kursi antara siswi satu dengan lainnya berjauhan sejauh 1,5 sampai 2 meter
- Jendela tetap dibuka untuk sirkulasi udara
"Kami menghargai program ini, karena membantu siswa merasa aman di kelas dan memungkinkan orang tua dan pengasuh lainnya untuk bekerja tanpa harus juga merawat anak-anak mereka selama hari kerja," jelas Hammermeister, siswa 17 tahun di Neustrelitz, kota kecil di Jerman, kepada New York Times.
2. Inggris
Mengutip BBC, beberapa sekolah dasar di Inggris telah dibuka kembali dan pembukaan sekolah bagi semua usia murid rencananya akan dibuka pada akhir Juni. Apa saja new normal yang diterapkan di sana?
- Satu ruangan tidak boleh lebih dari 15 siswa
- Murid terpisah sejauh 2 meter
- Cuci tangan teratur selama 20 detik
- Dilarang berbagi peralatan buku atau mainan
- Orang tua tidak boleh berkumpul di gerbang
- Menerapkan sistem satu arah di sekitar gedung sekolah sehingga meminimalisir seringnya terjadi kontak
- Jendela dipastikan selalu terbuka untuk mendorong aliran udara
3. Vietnam
Mengutip Vox News, Vietnam, negara yang melakukan tes massal dan pelacakan kontak yang agresif untuk tangani wabah Corona menggunakan metode serupa untuk membuka kembali sekolah. Setelah terjeda tiga bulan, 22 juta siswa di Vietnam diperbolehkan kembali sekolah dengan beberapa syarat seperti berikut.
- Melewati pemeriksaan suhu
- Memakai masker sepanjang hari saat berada di sekolah
- Tidak diizinkan mengikuti kegiatan sekolah jika demam
- Difasilitasi masker
- Melakukan sanitasi (cuci tangan)
- Jaga jarak
Beberapa orang mungkin merasa mengenakan masker selama berjam-jam tidak praktis, tetapi Pham Anh Kiet yang berusia 11 tahun bersekolah di Hanoi, tidak merasa keberatan. "Saya merasa aman ketika saya mengenakan masker dan memeriksa suhu tubuh saya, saya tidak takut terinfeksi virus Corona," kata Anh Kiet kepada Agence France-Presse (AFP) beberapa waktu lalu.
Curhat Ibu Melahirkan Saat Pandemi, Tekor Harus Bayar Tes Swab dan Biaya APD
Perjuangan ibu melahirkan di saat pandemi virus Corona ternyata tidak main-main. Hal ini dirasakan Delfi (27). Kontrol kehamilan di salah satu rumah sakit rujukan COVID-19 membuatnya was-was. Sempat tidak konsultasi selama dua bulan karena takut terjadi penularan virus Corona.
Tak ingin mengambil risiko, ia kemudian mencari rumah sakit dan klinik khusus ibu dan anak yang aman untuk bersalin. Namun ia dihadapkan dengan keadaan lain karena beberapa RSIA yang dikunjunginya menerapkan SOP seluruh persalinan harus caesar.
"Jadi semua harus caesar kecuali udah pembukaan 10 baru ditolongin. Beberapa RS juga udah nerapin protokol COVID-19 kan jadi harus swab, rontgen paru, cek darah, beli APD which is aku harus persiapin dana lagi kurang lebih 4 juta ditambah caesar jadi ya cadangan harus ada Rp 50-an juta lah," tutur Delfi saat berbincang dengan detikcom, Kamis (4/6/2020).
Keadaan tersebut tentu memberatkan terlebih suaminya yang ternyata dirumahkan akibat pandemi virus Corona. Akhirnya Delfi memutuskan mencari klinik lain yang ramah di kantong dan tak jauh dari rumah meski belum yakin akan bersalin di sana karena tak percaya diri bisa melahirkan normal.
"Qadarullah di usia kandunganku 35 week aku flek akhirnya harus bedrest seminggu. Tapi dalam seminggu itu di hari ketiga udah kontraksi akhirnya ke klinik dekat rumah aja dan dokter di sana bilang dalam dua hari sepertinya sudah bisa lahiran normal.
"Akhirnya lahiran deh di klinik itu alhamdulillah masih bisa didampingi suami. tapi waktu itu nggak pakai masker, boro-boro deh," lanjutnya.
Tapi drama selanjutnya terjadi. Pas hari ke-7, anaknya kuning karena bilirubinnya tinggi dan harus dirawat sinar. Delfi harus ke klinik berbeda yang mewajibkan ibu hamil untuk melakukan tes swab dan beli APD.
"Karena aku belum tes swab tapi anakku udah urgent harus ditangani, jadi aku pake APD lengkap deh kayak perawat. Parah sih, dari hamil, melahirkan, sampai cek ke dokter pun sulit banget sekarang," kenangnya.
http://cinemamovie28.com/uq-holder-episode-3/