Sabtu, 01 Agustus 2020

Apa yang Bikin Seks Terasa Menyenangkan? Riset Ini Mengungkap Jawabannya

 Kebanyakan orang biasanya akan merasa senang dan bahagia setelah bercinta. Apalagi jika melakukannya bersama orang atau pasangan yang sangat Anda cintai.

Tapi, apa Anda tahu apa sih yang bikin bahagia setelah berhubungan seks?

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology, perasaan senang, bahagia, bahkan hangat setelah berhubungan seks bukan hanya karena kegiatan itu sendiri. Tapi, itu juga disebabkan karena adanya rasa dekat secara emosional dengan pasangan Anda.

Rasa senang dan bahagia itu bisa muncul karena pelukan romantis saat tidur pasca-seks. Hal ini juga telah diteliti dengan melibatkan 335 orang secara acak.

Dikutip dari Maxim, mereka disurvei berdasarkan frekuensi seks, kepuasaan, dan banyaknya sentuhan kasih sayang yang diberikan. Sentuhan itu termasuk juga berciuman hingga berpelukan setelah seks.

Hasilnya, pasangan yang banyak melakukan sentuhan kasih sayang saat berhubungan seks memiliki rasa senang dan bahagia yang lebih tinggi daripada yang hanya sering berhubungan seks.

"Seks tidak hanya menguntungkan secara fisiologis atau hedonisnya. Tapi, karena adanya hubungan kasih sayang yang kuat dan berpikir lebih positif terhadap pasangannya lah yang membuat seks itu menyenangkan," kata peneliti seks, Anik Debrot.

Studi Mengatakan COVID-19 Tidak Menular ke Janin

 Hingga kini pengetahuan tentang COVID-19 terbilang minim, lantaran virus corona yang menjadi penyebabnya merupakan jenis baru. Beberapa waktu lalu dunia digemparkan dengan bayi berusia 30 jam sudah terkena COVID-19.
Lantas apakah COVID-19 bisa menular melalui janin?

Dikutip dari Live Science, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet, pada Rabu (12/2/2020), mengatakan kemungkinan COVID-19 tidak ditularkan selama masa kehamilan.

Namun penelitian ini masih berskala kecil dan hanya melibatkan wanita hamil pada trimester ketiga yang melahirkan melalui operasi caesar. Perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah hal ini juga berlaku pada wanita yang melahirkan secara normal.

"Kita harus terus memberikan perhatian khusus pada bayi yang baru lahir dari ibu dengan COVID-19," tulis Yuanzhen Zhang, seorang profesor di Rumah Sakit Zhongnan.

Dalam studi tersebut para peneliti melakukan analisis terhadap sembilan wanita hamil positif COVID-19, pada usia kandungan 36 hingga 39 minggu yang dirawat di rumah sakit di Wuhan, China.

Ketika kesembilan wanita itu melahirkan melalui operasi caesar, dokter mengumpulkan berbagai sampel seperti cairan ketuban, darah tali pusar, hingga air susu ibu (ASI). Semua sampel ini diambil di ruang operasi saat kelahiran, sehingga hasilnya pun akan lebih mendekati.

Hasilnya pun cukup mengejutkan, semua bayi yang baru lahir selamat dari COVID-19. Berbagai sampel dari cairan ketuban, darah tali pusar, dan ASI pun tidak ada yang terinfeksi virus corona.

Tak Perlu Karantina Sepulang dari Singapura, Checklist Lebih Disarankan

 Indonesia tidak mewajiban karantina sepulang dari Singapura. Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI), Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH, lebih menyarankan checklist yang berguna untuk penelusuran.
"Jadi tidak cukup hanya pakai thermal gun, saya kira kita bisa bikin beberapa ceklis di samping periksa demam itu di ceklis apa saja yang perlu ditanyakan seperti berapa lama di Singapura? Atau sebelum di Singapura dia kemana? Siapa tau sebelumnya dia dari China Selatan yang sudah endemik itu," kata Prof Ascobat kepada detikcom, Senin (17/2/2020).

"Beberapa ceklis tambahan mungkin 1 sampai 5, kalau tembus satu saja ok langsung diperiksa lebih lanjut," pungkasnya.

Beberapa negara seperti Israel mewajibkan self quarantine sepulang dari Singapura demi mengantisipasi penularan virus corona COVID-19. Indonesia untuk saat ini tidak menerapkan kebijakan serupa.

"Nggak ada (self quarantine) karena Singapura bukan melakukan karantina wilayah," sebut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Anung Sugihantono, kepada detikcom melalui pesan singkat, Senin (17/2/2020).
https://kamumovie28.com/sakurada-reset-part-i/

Netizen Sebut Health Alert Card Ribet dan Tak Efektif, Ini Kata Kemenkes

Di lini masa media sosial, banyak netizen mengeluhkan soal pengisian Health Alert Card atau kartu kewaspadaan kesehatan yang dianggap ribet dan tidak efektif dalam mengontrol dan mengawasi persebaran virus corona COVID-19 di Indonesia. Tidak sedikit juga penumpang yang mengeluh pengisian HAC terkesan sia-sia karena setelah pengisian mereka tidak dicek kesehatannya.
"Hal yang perlu dipahami adalah Health Alert Card itu early warning system. Terus kemudian mereka tidak diperiksa itu bukan berati pas mereka datang kita ukur tensinya, tekanan darahnya, nggak," kata Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, dr Achmad Yurianto, saat temu media di Kantor Kemenkes RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2020).

Perihal tidak dilakukannya pengecekan kesehatan, dr Yuri menyebut setiap yang datang dicek suhunya dengan alat thermal scanner dan thermal gun yang sudah tersedia di seluruh pintu masuk negara. Ketika ada satu orang, misalnya, yang menunjukkan gejala demam atau terlihat batuk, maka ia akan diarahkan ke pos kesehatan yang ada di bandara. Jika tidak ada gejala, pendatang melakukan pengisian HAC sebelum ke pos imigrasi.

"Ini yang seringkali mereka menerima kartu tidak dibaca atau saat dijelaskan, mereka tidak memperhatikan. HAC ini adalah early warning system terkait kemungkinan munculnya gejala keluhan yang mengarah ke COVID-19 sejak 14 hari selama kedatangannya di Indonesia," jelasnya.

Kartu kewaspadaan kesehatan diberikan kepada semua yang masuk ke Indonesia dengan harapan jika dalam 14 hari menunjukkan gejala COVID-19 seperti demam, sesak napas atau batuk untuk segera mengunjungi fasilitas kesehatan. Tujuan lain dari HAC adalah begitu fasilitas kesehatan menerima keluhan dari pemegang kartu, mereka akan menghubungi sistem peringatan dini melalui dinas kesehatan untuk mengaktifkan 100 rumah sakit rujukan.

"Kalau nggak ke faskes selama 14 hari sakit berarti tidak mematuhi apa yang kita sampaikan. HAC sekali lagi, membutuhkan kerjasama. Saya yakin kalau mereka sakit berat nggak ke faskes, berarti cari masalah," pungkas dr Yuri.

Apa yang Bikin Seks Terasa Menyenangkan? Riset Ini Mengungkap Jawabannya

 Kebanyakan orang biasanya akan merasa senang dan bahagia setelah bercinta. Apalagi jika melakukannya bersama orang atau pasangan yang sangat Anda cintai.

Tapi, apa Anda tahu apa sih yang bikin bahagia setelah berhubungan seks?

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology, perasaan senang, bahagia, bahkan hangat setelah berhubungan seks bukan hanya karena kegiatan itu sendiri. Tapi, itu juga disebabkan karena adanya rasa dekat secara emosional dengan pasangan Anda.

Rasa senang dan bahagia itu bisa muncul karena pelukan romantis saat tidur pasca-seks. Hal ini juga telah diteliti dengan melibatkan 335 orang secara acak.

Dikutip dari Maxim, mereka disurvei berdasarkan frekuensi seks, kepuasaan, dan banyaknya sentuhan kasih sayang yang diberikan. Sentuhan itu termasuk juga berciuman hingga berpelukan setelah seks.

Hasilnya, pasangan yang banyak melakukan sentuhan kasih sayang saat berhubungan seks memiliki rasa senang dan bahagia yang lebih tinggi daripada yang hanya sering berhubungan seks.

"Seks tidak hanya menguntungkan secara fisiologis atau hedonisnya. Tapi, karena adanya hubungan kasih sayang yang kuat dan berpikir lebih positif terhadap pasangannya lah yang membuat seks itu menyenangkan," kata peneliti seks, Anik Debrot.
https://kamumovie28.com/sinbad-the-fifth-voyage-2/