Jumat, 11 September 2020

Hindari Makanan Ini Kalau Nggak Pengin Cepat Tua

- Siapa yang tak suka dengan makanan olahan? Sosis, nugget, hingga mi instan merupakan makanan olahan yang digemari banyak orang.
Namun, ada baiknya mulai saat ini kamu perlu berpikir dua kali untuk mengonsumsi makanan tersebut. Hal ini karena, makanan olahan disebut bisa membuatmu menjadi lebih cepat tua jika terlalu sering dikonsumsi.

Dikutip dari Times of India, berbagai macam olahan ini adalah makanan yang mengandung banyak gula, tepung, minyak, dan lemak.

Hal ini pun telah dibuktikan oleh para peneliti dari Universitas Navarra di Pamplona, Spanyol. Dalam studi tersebut, mereka mempelajari sampel DNA dari 886 orang berusia 20 tahun ke atas dengan rata-rata peserta berusia 67 tahun.

Disebutkan dalam studi tersebut, orang yang mengonsumsi dua sampai tiga porsi makanan olahan dalam sehari lebih berisiko 29-40 persen memiliki tolemere yang pendek, daripada mereka yang makan kurang dari dua porsi dalam sehari.

Telomere merupakan bagian dari DNA yang berfungsi untuk melindungi dan menjaga kromosom agar tetap stabil. Seiring bertambahnya usia, sel-sel tubuh akan membelah diri dan telomere menjadi lebih pendek.

Peneliti juga menemukan, orang yang lebih sering mengonsumsi buah-buahan dan sayuran memiliki tolemere yang lebih panjang dan terhindar dari risiko penyakit kronis.

Maka dari itu, sebaiknya kamu perlu menerapkan berbagai macam pola hidup sehat agar terhindar dari penuaan dini dan risiko terkena penyakit, di antaranya sebagai berikut:

- Batasi konsumsi makanan olahan hanya seminggu sekali.

- Perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran.

- Olahraga secara rutin dan cobalah melakukan aktivitas fisik minimal 190 menit dalam setiap minggu.

Ratusan Ribu Pasien Sembuh Corona Masih Alami Gejala COVID-19 Berbulan-bulan

Beberapa pasien sembuh Corona bukan berarti tidak lagi merasakan gejala COVID-19 seperti awal-awal terinfeksi. Fenomena yang dinamakan 'long-COVID-19' membuat para pasien masih harus berjuang dengan gejala COVID-19 pasca sembuh.
Salah satu data yang diungkap pada beberapa pasien di Inggris, ada sekitar 300 ribu orang yang mengaku merasakan gejala COVID-19 berkepanjangan, lebih dari sebulan, demikian lapor BBC International. Dari 300 ribu orang tersebut, ada 60 ribu orang yang dilaporkan merasakan gejala COVID-19 selama lebih dari tiga bulan.

Data ini diungkapkan oleh Tim Spector, guru besar epidemiologi genetika dari King's College London. Seperti yang diceritakan Elly MacDonald, 37 tahun, dari Surbiton.

Ia pertama kali merasakan gejala COVID-19 saat sedang berlatih untuk 'London Marathon' 21 Maret silam. Lebih dari lima bulan kemudian, dia masih merasakan sesak napas dan kelelahan ekstrim.

"Saya hanya ingin hidup saya kembali," keluh Elly.

Sementara itu kisah lain diceritakan Meredith 22 tahun. Ia mulanya tidak merasa khawatir ada risiko terinfeksi virus Corona. Namun pada akhirnya ia dinyatakan terinfeksi COVID-19 saat pertengahan April menunjukkan gejala.

"Saya masih muda, bugar dan sehat ... walaupun terinfeksi, saya memperkirakan saya akan sembuh dengan cepat," kata Meredith yang hobi bersepeda.

"Saya mengalami radang tenggorokan dan demam. Saya biasa bersepeda enam hari dalam satu pekan. Setelah mengalami gejala terkena virus Corona, saya mencoba latihan bersepeda seperti sedia kala, namun setelah itu saya terkapar," ungkap Meredith.

"Saya tak bisa berdiri, saya sesak napas, dan otot-otot terasa sangat sakit...," katanya.

Gejala yang Meredith alami juga ternyata tidak hilang dengan cepat, meski ia dinyatakan telah bebas dari virus Corona. "Saya berbicara dengan dokter dan mereka mengatakan memang ada pasien-pasien yang terus saja menunjukkan gejala-gejala COVID-19 setelah dinyatakan bebas dari virus. Dokter mengatakan, pasien istirahat saja dengan cukup," kata Meredith.
https://indomovie28.net/street-society-2/

Pemerintah Atur WFH-WFO Fleksibel Sesuai Zona Risiko COVID-19, Ini Rinciannya

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sekaligus Ketua Tim Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartanto, mengatakan untuk menekan angka penularan virus Corona, sektor perkantoran diharapkan memberlakukan kembali jam kerja yang fleksibel. Ia juga menyebut pemerintah akan kembali memberlakukan WFH atau work from home bagi ASN.
"Kalau pekerja di perkantoran tetap dipersiapkan flexible working, jadi ada yang kerja di rumah, ada yang kerja di kantor. Nanti tentu persentasenya akan ditentukan," ungkap Airlangga dalam siaran pers di kanal YouTube BNPB Indonesia, Kamis (10/9/2020).

Berikut kriteria WFO yang diatur dalam Perubahan Sistem Kerja ASN berdasarkan zona risiko SE MenPANRB 67/2020:
1. Instansi pemerintah yang berada pada zona kab/kota tidak terdampak atau tidak ada kasus, persentase WFO paling banyak 100 persen.

2. Instansi pemerintah yang berada pada zona kab/kota berkategori risio rendah, persentase WFO paling banyak 75 persen.

3. Instansi pemerintah yang berada pada zona kab/kota berisiko sedang, persentase WFO paling banyak 50 persen.

4. Instansi pemerintah yang berada pada zona kab/kota berisko tinggi, persentase WFO paling banyak 25 persen.

Airlangga juga mengatakan akan melakukan operasi sebagai langkah pengetatan kedisiplinan masyarakat terhadap protokol kesehatan.

"Kegiatan produktif tentunya dilakukan dgn protikol kesehatna yang ketat. sektor produktif tetap berjalan dan mendorong kampanye menjaga jarak, menghindari kerumunan," pungkasnya.

Hindari Makanan Ini Kalau Nggak Pengin Cepat Tua

- Siapa yang tak suka dengan makanan olahan? Sosis, nugget, hingga mi instan merupakan makanan olahan yang digemari banyak orang.
Namun, ada baiknya mulai saat ini kamu perlu berpikir dua kali untuk mengonsumsi makanan tersebut. Hal ini karena, makanan olahan disebut bisa membuatmu menjadi lebih cepat tua jika terlalu sering dikonsumsi.

Dikutip dari Times of India, berbagai macam olahan ini adalah makanan yang mengandung banyak gula, tepung, minyak, dan lemak.

Hal ini pun telah dibuktikan oleh para peneliti dari Universitas Navarra di Pamplona, Spanyol. Dalam studi tersebut, mereka mempelajari sampel DNA dari 886 orang berusia 20 tahun ke atas dengan rata-rata peserta berusia 67 tahun.

Disebutkan dalam studi tersebut, orang yang mengonsumsi dua sampai tiga porsi makanan olahan dalam sehari lebih berisiko 29-40 persen memiliki tolemere yang pendek, daripada mereka yang makan kurang dari dua porsi dalam sehari.

Telomere merupakan bagian dari DNA yang berfungsi untuk melindungi dan menjaga kromosom agar tetap stabil. Seiring bertambahnya usia, sel-sel tubuh akan membelah diri dan telomere menjadi lebih pendek.

Peneliti juga menemukan, orang yang lebih sering mengonsumsi buah-buahan dan sayuran memiliki tolemere yang lebih panjang dan terhindar dari risiko penyakit kronis.

Maka dari itu, sebaiknya kamu perlu menerapkan berbagai macam pola hidup sehat agar terhindar dari penuaan dini dan risiko terkena penyakit, di antaranya sebagai berikut:

- Batasi konsumsi makanan olahan hanya seminggu sekali.

- Perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran.

- Olahraga secara rutin dan cobalah melakukan aktivitas fisik minimal 190 menit dalam setiap minggu.
https://indomovie28.net/kakegurui-2/