Senin, 08 Februari 2021

Pengalaman Ari Lasso dan Tim Terinfeksi COVID-19, Alami Gejala Beda-beda

 Penyanyi Ari Lasso dalam video terbaru di kanal Youtubenya membagikan cerita ketika ia terinfeksi virus Corona COVID-19. Ari Lasso ditemani dua anggota timnya yang lain berbagi cerita tentang beragam gejala unik COVID-19 saat mereka jatuh sakit.

"COVID ini setiap orang punya ciri serangan masing-masing... Kita bukan ahli kesehatan, ahli kedokteran, tapi kita bercerita berdasarkan pengalaman pribadi," kata Ari Lasso seperti dikutip dari ARI LASSO TV pada Senin (8/1/2021).


Anggota pertama, sang manajer Yunski bercerita awalnya merasakan gejala mirip sakit flu yaitu radang tenggorokan. Awalnya sempat percaya diri mengalami gejala ringan, namun beberapa hari kemudian muncul gejala pencernaan yang semakin parah hingga tidak bisa makan dan akhirnya Yunski harus dirawat di rumah sakit.


"Awalnya gaya, seperti yang saya liat di Wisma Atlet, (pasien) COVID ketawa-ketawa, bisa olahraga, makan enak. Saya juga gitu, beranggapan seperti itu," kata Yunski.


"Hari keempat isoman baru itu udah enggak bisa ngerasain makanan... Mencium bau ketek pun enggak bisa. Hari kelima sudah hilang semua," lanjut Yunski yang mengaku masih perlu waktu untuk pulih setelah dinyatakan sembuh.


Sementara itu sang pemain bass, Ruddy, mengaku gejala pertama yang dialami adalah demam menggigil. Muncul juga rasa nyeri di seluruh badan.


"Saya demam, badannya sakit banget memang. Sakit banget. Sini ngilu, sini ngilu, semualah pokoknya," ungkap Ruddy.


Untuk Ari Lasso sendiri ia merasakan gejala hampir mirip dengan Ruddy, yaitu demam tinggi yang naik turun dan nyeri di seluruh badan. Hanya saja yang berbeda adalah Ari menunjukkan tanda-tanda gangguan fungsi pernapasan dan darah.


"Hasil CT scan thorax dan (pemeriksaan -red) darahnya kurang bagus. Infeksinya tinggi makanya kok 11 hari enggak turun-turun demam," kata Ari.


"Aku (napasnya) pendek-pendek. Jadi begitu ambil napas panjang itu enggak bisa, batuk, batuknya menyakitkan. Coba tes oximeter rendah," pungkasnya.


Dikutip dari situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala COVID-19 memang bisa beragam. Gejala yang paling umum adalah demam, batuk, dan rasa lelah.


Gejala lain infeksi COVID-19 menurut WHO meliputi:

1. Rasa nyeri

2. Radang tenggorokan

3. Diare

4. Konjungtivitis (mata merah karena peradangan)

5. Sakit kepala

6. Penurunan atau hilangnya fungsi indra pengecap dan penciuman

7. Bintik-bintik merah atau ruam di kulit

8. Meriang

9. Mual dan muntah

10. Pilek

11. Gangguan tidur


Gejala serius dari infeksi COVID-19 yang perlu diwaspadai meliputi:


1. Sulit bernapas atau napas pendek

2. Nyeri sesak di dada seperti tertekan

3. Sulit berbicara atau bergerak

4. Kebingungan (delirium)

5. Hilangnya nafsu makan


"Orang-orang dari segala usia yang mengalami demam dan atau batuk-batuk sampai sulit bernapas, sesak di dada, hingga kesulitan berbicara atau bergerak maka segera cari bantuan medis," tulis WHO.

https://movieon28.com/movies/the-host-2/


Kenali Efek Penyalahgunaan Ekstasi, Narkoba yang Diamankan dari Ridho Rhoma


Pedangdut Ridho Rhoma ditangkap di sebuah apartemen di Jakarta atas dugaan penyalahgunaan narkoba. Saat digeledah, polisi menemukan barang bukti ekstasi padanya.

"Saat kita lakukan penggeledahan terhadap MR alias RR ada barang bukti narkotika jenis ekstasi sebanyak 3 butir," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, di Mako Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Jalan Pelabuhan Nusantara II, Jakarta Utara, Senin (8/2/2021).


Ekstasi atau methylenedioxymethamphetamine (MDMA) merupakan salah satu jenis narkoba yang memiliki bentuk tablet berwarna-warni dengan logo bermacam-macam.


"Kebanyakan tablet makenya ditelan, biasa digigit-gigit dulu sih. Ada juga yang serbuk, tapi banyakan mah tablet. Orang biasa pake sedikit-sedikit dulu misal 1/4 tablet dulu atau 1/2 tablet, tapi buat yang udah biasa sekali neken (nelen) ada yang sampai 2 tablet," kata dr Hari Nugroho peneliti dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) beberapa waktu lalu.

https://movieon28.com/movies/the-child-remains/

Ridho Rhoma 2 Kali Kena Kasus Narkoba, Ini Pemicu Kambuh Usai Rehabilitasi

 Pedangdut Ridho Rhoma kembali terjerat kasus narkoba. Ia ditangkap polisi pada Kamis (4/2/2021), dengan barang bukti ekstasi. Dalam pengakuannya, ia meminta maaf karena tidak bisa melawan ketergantungannya terhadap narkotika.

"Saya ingin menyampaikan saya memohon maaf atas kegagalan saya tidak berusaha melawan adiksi saya," kata Ridho Rhoma kepada wartawan di Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (8/2/2021).


Sebelumnya, Ridho juga pernah terjerat kasus narkoba pada 25 Maret 2017. Ia divonis hukuman penjara 10 bulan dan rehabilitasi di RSKO (Rumah Sakit Ketergantungan Obat) Cibubur selama 6 bulan 10 hari.


Dikutip dari Addiction Center ada hal yang menjadi pemicu kekambuhan. Banyak mantan pecandu yang sering kembali ke lingkungan tempat mereka pernah menggunakan narkoba.


Selain itu, pikiran, perasaan, situasi, baru, bahkan lagu juga bisa kembali mengingatkan seseorang untuk menggunakan narkoba lagi.


Adapun beberapa faktor yang bisa mempengaruhi mantan pecandu untuk kembali mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu. Berikut 5 faktor penyebabnya yang disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, dr Diah Setia Utami, SpKJ.

https://movieon28.com/movies/one-remains/


1. Jenis zat

Jenis zat narkotika juga bisa meningkatkan risiko kambuhnya mantan pecandu. Ada dua jenis yang paling disalahgunakan, yaitu jenis opioid dan ATS (amphetamin dan stimulan).


"Opioid itu heroin atau morfin. Sementara ATS yang paling sering digunakan adalah ganja atau sabu," tutur dr Diah yang pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) pada detikcom, beberapa waktu lalu.


2. Komplikasi medis

Mantan pecandu yang memiliki gangguan kesehatan, terutama kejiwaan juga rentan kambuh. Gangguan jiwa ini bisa menyebabkan kerusakan otak karena faktor genetik dan bawaan yang sudah diidap sebelum menggunakan narkoba.


"Misalnya sebelum pakai narkoba pasien sudah dari awalnya sangat depresi, atau ternyata pasien mengidap bipolar. Ketika fase manik ingatnya narkoba, ketika depresi apalagi yang diingat narkoba. Tentunya kemungkinan untuk kambuh lebih besar," tuturnya.


3. Tingkat penggunaan

Tingkatan pengguna narkoba dibagi atas tiga klasifikasi, yaitu experimental user, recreational user, dan addict user. Jika pengguna direhabilitasi tidak tepat pada sasarannya, itu bisa mendorongnya untuk kambuh lagi.


Untuk itu, dr Diah menyarankan untuk melakukan rehabilitasi sesuai dengan tingkatan penggunaan narkoba orang tersebut.


"Nah kalau dia sudah addict tapi diberikan pengobatan layaknya experimental user, tentu tidak tepat. Kemungkinan untuk kambuhnya juga lebih besar karena proses rehabilitasinya tidak sesuai," jelasnya.


4. Kurang dukungan keluarga

Kurangnya dukungan keluarga juga sangat bisa membuat mantan pecandu narkoba kambuh lagi. Menurut dr Diah, keluarga harus tau apa itu kecanduan atau adiksi dan bisa menerima mantan pecandu tersebut.


"Tapi kalau keluarga nggak dukung, sedikit-sedikit dituduh maling kalau ada barang hilang, sering curiga, ya pecandu akan merasa tidak dihargai dan tak betah di rumah. Ujung-ujungnya kembali bergaul dengan teman-teman lama dan kembali menjadi pengguna narkoba," kata dr Diah.


5. Faktor sosial lain

Faktor lainnya juga bisa berpengaruh dari lingkungan masyarakat. Jika mereka sering menerima stigma negatif dari lingkungan seperti sulit mendapatkan pekerjaan, bisa membuat mereka kambuh lagi.


"Ya kalau nggak dapat kerja dia nganggur. Ketika menganggur, banyak waktu luang, otak jadinya lebih mudah mengingat sensasi-sensasi menyenangkan yang membuatnya merindukan kembali penggunaan zat-zat narkotika," ujar dr Diah.

https://movieon28.com/movies/the-remains-from-the-shipwreck/