Kamis, 08 April 2021

Pengumuman! Dipastikan Tak Ada Kaitan Golongan Darah dengan Risiko COVID-19

 Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa orang dengan golongan darah A lebih rentan terhadap COVID-19. Sementara golongan darah O, B, atau AB disebut lebih 'kebal' dari infeksi penyakit ini.

Meski begitu, sebagian besar peneliti mengaku temuan ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan kaitan antara golongan darah dengan risiko keparahan penyakit akibat COVID-19.


Dikutip dari WebMD, sebuah studi terbaru menegaskan bahwa tak ada hubungan antara golongan darah A, B, AB, atau O dengan risiko infeksi virus Corona. Penelitian ini dilakukan kepada hampir 108.000 pasien di 24 rumah sakit dan 215 klinik di Utah, Idaho, dan Nevada.


Penelitian yang dipimpin oleh Dr Jefrey Anderson dari Intermountain Medical Center Heart Institute di Murray, Utah, ini pun telah diterbitkan di JAMA Network Open pada 5 April lalu.


"Sejak awal pandemi ini, ada kaitan yang didalilkan antara golongan darah dan kerentanan penyakit," kata Dr Amesh Adalja, seorang sarjana senior di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins, yang tidak berperan dalam penelitian tersebut.


"Dari penelitian besar ini, tampak bahwa tak ada hubungan antara golongan darah dan kerentanan atau keparahan," lanjutnya.


Para peneliti mengatakan bahwa laporan awal dari China menunjukkan golongan darah dapat memengaruhi risiko COVID-19. Kemudian studi dari Italia dan Spanyol juga mendukung hal tersebut.


Namun, studi lain yang berasal dari Denmark dan Amerika Serikat menunjukkan hasil yang beragam dan bertentangan.\ 


Sementara hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari puluhan ribu pasien yang diteliti hampir 11.500 di antaranya dinyatakan positif COVID-19, sedangkan sisanya negatif. Oleh karena itu, mereka menegaskan bahwa golongan darah tak memainkan peran penting apa pun dalam risiko tertular COVID-19.


"Saya selalu mengatakan bahwa semua golongan darah ini tidak berarti apa-apa," kata Dr Aaron Glatt, ketua departemen kedokteran dan ahli epidemiologi di rumah sakit Mount Sinai South Nassau di Oceanside, New York, yang juga tidak terlibat dalam penelitian ini.


"Sudah cukup banyak hal yang membuat orang takut jika mereka memiliki satu jenis golongan darah, yang diyakini lebih rentan tertular. Tidak pernah ada perbedaan praktis," lanjutnya.


Glatt pun mengatakan bahwa pada penelitian sebelumnya hanya menemukan sejumlah kebetulan acak, yang mungkin tak ada kaitannya antara tingkat keparahan COVID-19 dengan golongan darah.


"Beberapa orang melihat begitu banyak variabel yang berbeda dan salah satunya adalah golongan darah. Mereka melihat bahwa beberapa orang mengalami kondisi yang lebih buruk dengan golongan darah tertentu, tetapi penelitiannya bertentangan, akan masuk akal jika itu acak," tuturnya.

https://tendabiru21.net/movies/the-blackest-day/


Mendadak Hobi Gowes gara-gara Pandemi? Hati-hati Kolaps, Ikuti Saran Ini


Di tengah pandemi COVID-19, olahraga bersepeda jadi tren masyarakat kota. Kerap kali di akhir pekan, jalan besar ikut diramaikan oleh para pegowes. Namun rupanya, bersepeda tak boleh dilakukan sembarangan.

Ketua Harian Forum Masyarakat Sepeda Indonesia Nikko Priambodo menjelaskan, persiapan bersepeda wajib disesuaikan tujuan dan motifnya lebih dulu. Jika tidak terbiasa berolahraga dengan sepeda, memaksakan diri gowes dalam durasi lama dan jarak jauh justru bisa menimbulkan risiko cedera.


"Intinya dalam melakukan aktivitas bersepeda, pola pikir kita pertama adalah kenali tujuan kita untuk apa. Barulah kita bisa mengetahui indikatornya karena setiap orang berbeda," ujar Nikko dalam webinar oleh Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Kamis (8/4/2021).


Kerap kali, aktivitas bersepeda sebenarnya berbasis kegemaran jalan-jalan, foto-foto, atau sekedar berkumpul dengan teman-teman. Hal inilah yang bikin banyak pesepeda 'dadakan' lengah soal persiapan.


Menurut Nikko, persiapan bersepeda tak hanya soal kesiapan fisik. Pemanasan berupa gerak tubuh sebelum gowes jelas penting. Namun, sejumlah aspek teknis juga perlu diperhatikan. Di antaranya, ukuran sepeda dan track.

https://tendabiru21.net/movies/darkest-day/

Gejala Hipersomnia, Kondisi yang Diidap Echa 'Putri Tidur' di Kalsel

 Siti Raisa Miranda alias Echa menjadi perbincangan lagi karena kondisi yang membuat dirinya bisa tidur selama berhari-hari. Kondisinya ini dikaitkan dengan sindrom langka, sindrom Kleine-Levin, yang merupakan penyakit hipersomnia periodik yang bisa membuat pengidapnya tidur dalam waktu lama.

Gadis 17 tahun asal Banjarmasin Kalimantan Selatan ini sudah 13 hari terbaring di tempat tidur. Ia sempat dirawat di RSUD Dr Ansari Saleh, namun dibawa pulang karena hasil pemeriksaan menunjukkan kondisinya 'normal-normal saja'.


Ini bukan kali pertama Echa jadi perbincangan terkait kondisinya tersebut. Pada 2017, Echa juga sempat viral dikaitkan dengan Kleine-Levin Syndrome atau sindrom putri tidur. Sindrom ini ditandai dengan hipersomnia sebagai gejala utama.


Hipersomnia sendiri adalah kondisi yang membuat seseorang merasakan mengantuk yang berlebihan di siang hari. Kondisi ini masih bisa terjadi meski penderitanya sudah tidur dalam waktu yang lama.


Apa penyebabnya?

Dikutip dari Healthline, penyebab dari hipersomnia tergantung pada jenisnya, yaitu hipersomnia primer dan sekunder.


Hipersomnia primer diduga disebabkan adanya masalah pada sistem otak yang mengontrol fungsi tidur dan bangun seseorang. Sementara hipersomnia sekunder bisa disebabkan karena kondisi yang menyebabkan kelelahan atau kurang tidur.


Misalnya seperti sleep apnea yang bisa menyebabkan hipersomnia karena kesulitan bernapas di malam hari, sehingga memaksa orang untuk bangun berkali-kali. Selain itu, bisa disebabkan oleh beberapa obat hingga cedera kepala.


Apa saja gejala hipersomnia?

Umumnya, gejala hipersomnia adalah munculnya rasa lelah secara terus-menerus. Orang dengan hipersomnia masih akan merasa mengantuk meski sudah tidur siang sepanjang hari dan sulit untuk bangun.


Selain itu, ada beberapa gejala hipersomnia lain yang mungkin bisa juga muncul, seperti:


Merasa kekurangan energi

Mudah marah

Sering merasa resah dan gelisah

Kehilangan selera makan

Kemampuan berpikir atau berbicara lambat

Kesulitan dalam mengingat

https://tendabiru21.net/movies/broken-vows-2/


Pengumuman! Dipastikan Tak Ada Kaitan Golongan Darah dengan Risiko COVID-19


Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa orang dengan golongan darah A lebih rentan terhadap COVID-19. Sementara golongan darah O, B, atau AB disebut lebih 'kebal' dari infeksi penyakit ini.

Meski begitu, sebagian besar peneliti mengaku temuan ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan kaitan antara golongan darah dengan risiko keparahan penyakit akibat COVID-19.


Dikutip dari WebMD, sebuah studi terbaru menegaskan bahwa tak ada hubungan antara golongan darah A, B, AB, atau O dengan risiko infeksi virus Corona. Penelitian ini dilakukan kepada hampir 108.000 pasien di 24 rumah sakit dan 215 klinik di Utah, Idaho, dan Nevada.


Penelitian yang dipimpin oleh Dr Jefrey Anderson dari Intermountain Medical Center Heart Institute di Murray, Utah, ini pun telah diterbitkan di JAMA Network Open pada 5 April lalu.


"Sejak awal pandemi ini, ada kaitan yang didalilkan antara golongan darah dan kerentanan penyakit," kata Dr Amesh Adalja, seorang sarjana senior di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins, yang tidak berperan dalam penelitian tersebut.


"Dari penelitian besar ini, tampak bahwa tak ada hubungan antara golongan darah dan kerentanan atau keparahan," lanjutnya.


Para peneliti mengatakan bahwa laporan awal dari China menunjukkan golongan darah dapat memengaruhi risiko COVID-19. Kemudian studi dari Italia dan Spanyol juga mendukung hal tersebut.


Namun, studi lain yang berasal dari Denmark dan Amerika Serikat menunjukkan hasil yang beragam dan bertentangan.\ 

https://tendabiru21.net/movies/broken-vows/