Kamis, 08 April 2021

Gejala Hipersomnia, Kondisi yang Diidap Echa 'Putri Tidur' di Kalsel

 Siti Raisa Miranda alias Echa menjadi perbincangan lagi karena kondisi yang membuat dirinya bisa tidur selama berhari-hari. Kondisinya ini dikaitkan dengan sindrom langka, sindrom Kleine-Levin, yang merupakan penyakit hipersomnia periodik yang bisa membuat pengidapnya tidur dalam waktu lama.

Gadis 17 tahun asal Banjarmasin Kalimantan Selatan ini sudah 13 hari terbaring di tempat tidur. Ia sempat dirawat di RSUD Dr Ansari Saleh, namun dibawa pulang karena hasil pemeriksaan menunjukkan kondisinya 'normal-normal saja'.


Ini bukan kali pertama Echa jadi perbincangan terkait kondisinya tersebut. Pada 2017, Echa juga sempat viral dikaitkan dengan Kleine-Levin Syndrome atau sindrom putri tidur. Sindrom ini ditandai dengan hipersomnia sebagai gejala utama.


Hipersomnia sendiri adalah kondisi yang membuat seseorang merasakan mengantuk yang berlebihan di siang hari. Kondisi ini masih bisa terjadi meski penderitanya sudah tidur dalam waktu yang lama.


Apa penyebabnya?

Dikutip dari Healthline, penyebab dari hipersomnia tergantung pada jenisnya, yaitu hipersomnia primer dan sekunder.


Hipersomnia primer diduga disebabkan adanya masalah pada sistem otak yang mengontrol fungsi tidur dan bangun seseorang. Sementara hipersomnia sekunder bisa disebabkan karena kondisi yang menyebabkan kelelahan atau kurang tidur.


Misalnya seperti sleep apnea yang bisa menyebabkan hipersomnia karena kesulitan bernapas di malam hari, sehingga memaksa orang untuk bangun berkali-kali. Selain itu, bisa disebabkan oleh beberapa obat hingga cedera kepala.


Apa saja gejala hipersomnia?

Umumnya, gejala hipersomnia adalah munculnya rasa lelah secara terus-menerus. Orang dengan hipersomnia masih akan merasa mengantuk meski sudah tidur siang sepanjang hari dan sulit untuk bangun.


Selain itu, ada beberapa gejala hipersomnia lain yang mungkin bisa juga muncul, seperti:


Merasa kekurangan energi

Mudah marah

Sering merasa resah dan gelisah

Kehilangan selera makan

Kemampuan berpikir atau berbicara lambat

Kesulitan dalam mengingat

https://tendabiru21.net/movies/broken-vows-2/


Pengumuman! Dipastikan Tak Ada Kaitan Golongan Darah dengan Risiko COVID-19


Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa orang dengan golongan darah A lebih rentan terhadap COVID-19. Sementara golongan darah O, B, atau AB disebut lebih 'kebal' dari infeksi penyakit ini.

Meski begitu, sebagian besar peneliti mengaku temuan ini masih terlalu dini untuk menyimpulkan kaitan antara golongan darah dengan risiko keparahan penyakit akibat COVID-19.


Dikutip dari WebMD, sebuah studi terbaru menegaskan bahwa tak ada hubungan antara golongan darah A, B, AB, atau O dengan risiko infeksi virus Corona. Penelitian ini dilakukan kepada hampir 108.000 pasien di 24 rumah sakit dan 215 klinik di Utah, Idaho, dan Nevada.


Penelitian yang dipimpin oleh Dr Jefrey Anderson dari Intermountain Medical Center Heart Institute di Murray, Utah, ini pun telah diterbitkan di JAMA Network Open pada 5 April lalu.


"Sejak awal pandemi ini, ada kaitan yang didalilkan antara golongan darah dan kerentanan penyakit," kata Dr Amesh Adalja, seorang sarjana senior di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins, yang tidak berperan dalam penelitian tersebut.


"Dari penelitian besar ini, tampak bahwa tak ada hubungan antara golongan darah dan kerentanan atau keparahan," lanjutnya.


Para peneliti mengatakan bahwa laporan awal dari China menunjukkan golongan darah dapat memengaruhi risiko COVID-19. Kemudian studi dari Italia dan Spanyol juga mendukung hal tersebut.


Namun, studi lain yang berasal dari Denmark dan Amerika Serikat menunjukkan hasil yang beragam dan bertentangan.\ 

https://tendabiru21.net/movies/broken-vows/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar