Rabu, 20 November 2019

Mau Sate Kambing Tapi Takut Kanker? Dokter: Makan Aja Nggak Masalah!

Godaan sate kambing saat perayaan Idul Adha rasanya sayang untuk dilewatkan. Tapi berbagai penelitian mengaitkan daging merah dan bakar-bakaran dengan risiko kanker usus atau kolorektal.

Ahli kanker usus dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Toar JM Lalisang, SpB(K)BD, menegaskan untuk tidak berlebihan mengkhawatirkan hal itu. Menurutnya, ada banyak faktor lain yang mempengaruhi kanker usus.

"Makan saja, nggak ada masalah. Kan nggak setiap hari juga," katanya, ditemui di RSCM baru-baru ini.
Kalau semua nggak boleh, nanti orang nggak makan dong?
dr Toar JM Lalisang, SpB(K)BD - Ahli kanker kolorektal

Diakuinya, konsumsi daging merah memang dikenal sebagai salah satu faktor risiko kanker kolorektal. Namun sejumlah riset membuktikan, ada lebih banyak faktor lain yang berpengaruh.

"Dibandingkan di Padang, kanker kolorektal di Jawa justru lebih tinggi," kata dr Toar, menyinggung kebiasaan orang Padang yang banyak makan rendang sapi.

Demikian juga soal bakar-bakaran, sejumlah literatur memang menyebutnya sebagai penghasil karsinogenik atau penyebab kanker. Namun lagi-lagi, ada banyak faktor lain yang berpengaruh sehingga tidak perlu khawatir berlebihan.

"Kalau semua nggak boleh, nanti orang nggak makan dong," pungkas dr Toar. https://bit.ly/342W3R7

Tips Makan Daging Agar Tak Sakit Jantung dan Kolesterol

Olahan daging kambing dan sapi menjadi hidangan khas selama perayaan Idul Adha. Namun layaknya asupan lain, olahan kambing dan sapi berisiko bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.

Selain jumlah konsumsi, pilihan bumbu dan hidangan pendamping juga ikut berdampak pada kesehatan tubuh. Konsumsi sembarangan bisa meningkatkan kadar kolesterol, tekanan darah, dan membahayakan kesehatan jantung.

"Yang penting adalah makan secukupnya, jika sudah mengkonsumsi daging saat makan siang maka makan pagi dan malam bisa pilih menu lain. Selain itu perhatikan pilihan bumbu untuk memasak daging, jangan terlalu banyak garam supaya tidak meningkatkan tekanan darah," kata dokter ahli penyakit dalam konsultan kardiovaskular dr Eka Ginanjar, SpPD-KKV, FINASIM, FACP.

Tips lain adalah melengkapi asupan nutrisi lain dengan makan cukup sayur, buah, dan sumber protein lain. Untuk sumber protein, dr Eka menyarankan konsumsi ikan yang dimasak dengan gula, garam, dan lemak secukupnya.
Ikan saat ini tercatat sebagai salah satu jenis asupan terbaik.

Kelengkapan dan keseimbangan nutrisi memungkinkan kondisi kesehatan terus terjaga setiap hari. Hasilnya seseorang tidak mudah sakit atau terserang penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes. https://bit.ly/333Mujx

Menteri Kesehatan India Serius Kembangkan Urine Sapi untuk Obat Kanker

Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India, Ashwini Kumar Choubey mengatakan Kementerian Ayurveda, Yoga & Naturopati, Unani, Siddha, dan Homeopati (AYUSH), akan serius mengerjakan persiapan obat-obatan serta pengobatan kanker menggunakan urine sapi. Kementerian AYUSH ini memang bergelut di bidang pengobatan alternatif.

"Urine sapi dipersiapkan untuk menjadi beberapa jenis obat, terutama untuk pengobatan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, seperti kanker. Urine yang digunakan berasal dari beberapa jenis sapi lokal dan Kementerian AYUSH sangat serius menggarapnya. Saat ini pemerintah sedang mengerjakan perlindungan dan konservasi sapi," jelas Choubey.

Dikutip dari India Time, Choubey mengatakan diabetes dan kanker merupakan penyakit menular yang menjadi tantangan di seluruh dunia, dan pemerintah India memberikan kesempatan untuk membuat solusi dari permasalahan ini.

"Kami tidak dapat mengklaim untuk menghilangkan penyakit itu sepenuhnya. Tetapi, kami dapat mengendalikan penyakit tersebut. Untuk itu, Pemerintah India juga telah menetapkan batas waktu hingga 2030 untuk membuktikan dan melanjutkan penelitian ini," ujarnya.

Choubey juga mengatakan, bahwa Kementerian Kesehatan sedang mempelajari lebih lanjut proposal terkait penelitian ini untuk dimasukkan sebagai salah satu pengobatan kanker, di bawah Perdana Menteri Ayushman Bharat Jana Arogya Yojana (JAY). https://bit.ly/335skFI

Pertama Kalinya Studi Sebut Daging Ayam Berkaitan dengan Risiko Kanker

Biasanya, risiko tinggi kanker dikaitkan dengan konsumsi daging-dagingan merah. Namun sebuah penelitian yang dilakukan para peneliti Oxford University menemukan kaitan risiko kanker dengan konsumsi daging putih, seperti ayam.

Penelitian ini melacak 475.000 warga Inggris paruh baya dari tahun 2006 hingga 2014. Para peneliti menganalisis pola makan dan penyakit yang dikembangkan. Hasilnya, ada sekitar 23.000 orang yang mengembangkan penyakit kanker.

Untuk pertama kalinya, para peneliti mengatakan bahwa konsumsi ayam dikaitkan dengan kemungkinan risiko lebih tinggi terkena kanker limfoma non-Hodgkin, dan juga meningkatkan kanker prostat pada pria.

"Asupan unggas secara positif terkait dengan risiko melanoma ganas, kanker prostat, dan limfoma non-Hodgkin," kata peneliti dikutip dari The Sun.

Namun, penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Community Health tidak menjelaskan secara pasti apa kaitannya antara daging ayam dengan peningkatan risiko kanker, apa karena mengandung karsinogen atau metode memasak yang menjadi faktornya.

"Kaitan asupan unggas dengan kanker prostat dan limfoma non-Hodgkin masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut," tandas peneliti. https://bit.ly/2qjXBYo