Kamis, 21 November 2019

Mau Terbang Buktikan Bumi Datar, Eh Gagal karena Pemanas Air

Kisah Mike Hughes, seorang penganut Bumi datar, yang ingin membuktikan bahwa planet ini tidak bulat dengan roket buatannya sendiri berakhir antiklimaks.

Mulanya, pria yang berprofesi sebagai driver limosin tersebut dijadwalkan untuk meluncur pada Senin (12/8) waktu setempat di wilayah Amboy, Gurun Mojave, California, Amerika Serikat. Tetapi karena ada kesalahan teknis, Mike gagal terbang.

Dikutip dari Space, Kamis (15/8/2019), kesalahan teknis yang dimaksud adalah pada pemanas air yang ia beli dari situs jual-beli Craigslist. Alat itu sejatinya berfungsi untuk memicu agar roket rakitan Mike, yang ditenagai uap, dapat lepas landas.

Menurut juru bicara Mike Hughes, Darren Shuster, pemanas yang dibeli seharga USD 325 atau sekitar Rp 4,6 jutaan itu tidak mampu memanaskan air hingga 200 derajat Celcius -- suhu yang dibutuhkan untuk membuat uap agar dapat mendorong roket Mike mencapai ketinggian 5.000 kaki atau 1.500 meter yang ditargetkan.

Akibat kejadian ini, pria berusia 63 tahun itu menunda peluncuran hingga Sabtu (17/8). Yang menarik, upaya Mike dalam menepis tidak ada lengkungan Bumi saat dilihat ketinggian itu mendapat sponsor dari sebuah aplikasi pencari kencan.

"Saya menghargai dukungan, cinta, dan kegembiraan dari semua orang dan penundaan tidak akan menghentikan misi saya - roket yang sudah terpasang dan perlu ada menambal kebocoran, jadi akhir pekan harus bisa," ungkap Mad Mike, begitu julukan yang melekat kepadanya.

Sekedar informasi, sebelumnya Mad Mike berhasil meluncur dengan roket buatannya itu hingga menyentuh 572 meter dari permukaan Bumi. Keberhasilan itulah yang membulatkan tekadnya untuk mencapai ketinggian lebih jauh lagi agar dapat membuktikan keyakinannya bahwa Bumi tidaklah bulat.

Pandangan Unik Soal Bumi dari Para Mantan Penganut Flat Earth

Mungkin jarang terdapat cerita yang menjelaskan seorang penganut paham Bumi datar 'tobat' dan berpaling dari teori konspirasi tersebut. Meski jarang, namun bukan berarti kisah tersebut tidak ada sama sekali.

Salah satunya terjadi pada James Buckley. Aktor asal Inggris yang identik dengan perannya di serial The Inbetweeners itu baru-baru ini menyatakan bahwa ia sudah kembali memercayai bahwa Bumi itu bulat dalam sebuah wawancara.

Walau sudah 'tobat', bukan berarti ia sudah tidak memiliki pandangan yang unik mengenai Planet Biru ini. Pandangan unik itu terlihat saat Buckley menganalogikan Bumi sebagai bola bubur.

"Pertama, saya pikir itu (Bumi) bulat, lalu saya diberi tahu bahwa Bumi berbentuk datar. Kemudian saya mulai berpikir bahwa Bumi memang datar, lalu sekarang (saya menyatakan) bulat lagi," ujarnya.

"Jadi saya menemukan teori bahwa Bumi sebenarnya kental dan bergelombang. Saya membayangkannya sebagai sebuah bola bubur yang memiliki gaya gravitasi," katanya menambahkan, sebagaimana detikINET kutip dari Lad Bible, Sabtu (8/6/2019). https://bit.ly/2QypOVY

Aneh, tapi tidak sepenuhnya salah

Cara Buckley dalam mengandaikan bentuk Bumi memang lucu, tapi sejatinya ada poin penting yang berusaha disampaikannya. Selain planet ini memang bulat dan memiliki gravitasi, ada temuan yang memang menunjukkan Bumi itu 'kental dan bergelombang'.

Untuk menjelaskan hal itu, kita perlu menarik waktu mundur terlebih dahulu. Tidak terlalu jauh, hanya sampai ke 2011 lalu. Pada saat itu, European Space Agency (ESA) berhasil memetakan Bumi berdasarkan gaya gravitasi yang tersebar di seluruh dunia.

Model buatan ESA sekilas memang menunjukkan bahwa Bumi tampak bergelombang, dan terkesan lunak seperti tanah liat yang mudah dibentuk. Mungkin, ketimbang menggunakan kata 'kental', Buckley seharusnya mengatakannya sebagai 'lembek' agar lebih sesuai dengan model Bumi tersebut.

Kala itu, dalam situs resminya, ESA menjelaskan bahwa penelitian mereka ini bertujuan untuk memahami lebih lanjut bagaimana kerja Bumi. Salah satu fungsi dari model tersebut adalah untuk mengukur sirkulasi laut, perubahan permukaan air laut, dan dinamika es di daerah kutub. Dengan kata lain, model ini berguna dalam mengukur dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global.

Lantas, mengapa model itu memperlihatkan Bumi yang tampak bergelombang dan lunak? Pasalnya, ESA memberikan detail mengenai ketinggian di masing-masing permukaan Bumi, makanya tampak berundak-undak.

Butuh dua tahun bagi mereka untuk membuat model itu. Dalam prosesnya, mereka menggunakan satelit Gravity Field and Steady-State Ocean Circulation Explorer (GOCE) yang mengorbit Bumi dan merekam struktur mantel planet ini. https://bit.ly/2KDWcm4

Misteri Ratusan Kerangka di Himalaya Makin Dalam

 Roopkund adalah sebuah danau terpencil di Himalaya wilayah India di ketinggian sekitar 5.000 meter, yang sudah lama menarik perhatian arkeolog. Pasalnya, di sana ada banyak kerangka manusia, jumlahnya diperkirakan 800 orang. Kini, misterinya malah makin dalam.

Studi terkini yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications mencoba membongkar apa yang terjadi di 'Danau Kerangka' itu. Tapi hasilnya malah menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.

Dikutip detikINET dari National Geographic, pada awal tahun 2000, riset DNA mengindikasikan orang-orang yang meninggal di Roopkund adalah keturunan Asia Selatan. Mereka diduga kehilangan nyawa dalam sebuah peristiwa tunggal pada sekitar tahun 800.

Dalam studi terbaru yang menganalisa 38 kerangka, ada 23 orang keturunan Asia Selatan, tapi mereka meninggal secara sporadis dalam satu atau beberapa event berbeda antara tahun 700 sampai 1000.

Anehnya, 14 korban meninggal dalam peristiwa terpisah dalam jarak waktu begitu jauh, yaitu di sekitar tahun 1800. Dan yang lebih aneh, mereka bukan dari Asia Selatan melainkan Mediterania. Tepatnya dari Yunani dan Kreta. Tidak ada satupun dari kerangka yang diteliti punya hubungan satu sama lain.

Jadi, kenapa ada sekelompok orang dari Mediterania sampai ada di sana dan apa penyebab mereka tewas? Para periset belum dapat mengetahuinya.

"Kami gagal menjawab kenapa orang Mediterania bepergian ke danau ini dan apa yang mereka lakukan," ucap Niraj Rai, arkeolog dari Birbal Sahni Institute of Palaeosciences yang ikut serta dalam riset ini.

"Mungkin ini adalah misteri yang lebih pelik dari sebelumnya. Tidak bisa dipercaya karena tipe keturunan yang kami temukan di sekitar sepertiga individual sangat tidak biasa di bagian dunia ini," kata David Reich, ahli genetik Harvard.

Penyebab kematian ratusan orang di danau terpencil yang sama itu masih tetap misteri. Kematian karena kekerasan dikesampingkan karena tidak ada senjata ditemukan atau tanda-tanda peperangan. Para korban juga dalam keadaan sehat ketika meninggal sehingga penyebabnya bukan wabah penyakit. https://bit.ly/2XyHSR7

Ada teori bahwa mereka terjebak cuaca buruk dan meninggal dunia. Mitos lokal menyebutkan, mereka adalah peziarah yang karena hal tertentu membuat dewa marah, lalu dihukum hingga tewas. Namun semua teori yang sejauh ini telah dimunculkan belum memuaskan.

Juli 2019 Cetak Rekor Suhu Terpanas Sepanjang Masa

Juli 2019 adalah bulan paling panas yang pernah tercatat sepanjang masa. Itu adalah kepastian dari lembaga cuaca Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Seperti biasa, mereka mencatat temperatur udara setiap bulan dan membandingkannya dengan data ratusan tahun ke belakang sampai 1880.

Dikutip detikINET dari Live Science, Minggu (18/8/2019), rata-rata suhu global Juli kemarin 0,95 derajat Celcius lebih tinggi dibanding rata-rata temperatur abad ke-20 di angka 15,8 derajat Celcius. Juga lebih tinggi 0,03 derajat Celcius dibanding rekor sebelumnya pada Juli 2016.

Rekor temperatur udara itu tak terlalu mengejutkan mengingat ada gelombang panas masif melanda Eropa dan Greenland tempat miliaran ton es mencair. Masih menurut NOAA, es di area Arktik dan Antartika juga mencapai rekor terendah dalam 41 tahun terakhir.

Temperatur rata-rata paling tidak normal terjadi di Alaska, Kanada barat dan Rusia tengah, di mana suhu paling tidak 2 derajat Celcius lebih hangat.

Aktivitas manusia dituding menjadi penyebab makin panasnya suhu Bumi. Misalnya penggunaan bahan bakar minyak yang tak terkendali serta penggundulan hutan.

"Gas rumah kaca memerangkap panas di atmosfer, yang mengandung konsekuensi. Membakar bahan bakar fosil mengubah arah masa depan planet kita. Bagaimana masyarakat menanggulanginya adalah tantangan besar," cetus James Butler dari NOAA. https://bit.ly/337Pb3m