Roopkund adalah sebuah danau terpencil di Himalaya wilayah India di ketinggian sekitar 5.000 meter, yang sudah lama menarik perhatian arkeolog. Pasalnya, di sana ada banyak kerangka manusia, jumlahnya diperkirakan 800 orang. Kini, misterinya malah makin dalam.
Studi terkini yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications mencoba membongkar apa yang terjadi di 'Danau Kerangka' itu. Tapi hasilnya malah menimbulkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.
Dikutip detikINET dari National Geographic, pada awal tahun 2000, riset DNA mengindikasikan orang-orang yang meninggal di Roopkund adalah keturunan Asia Selatan. Mereka diduga kehilangan nyawa dalam sebuah peristiwa tunggal pada sekitar tahun 800.
Dalam studi terbaru yang menganalisa 38 kerangka, ada 23 orang keturunan Asia Selatan, tapi mereka meninggal secara sporadis dalam satu atau beberapa event berbeda antara tahun 700 sampai 1000.
Anehnya, 14 korban meninggal dalam peristiwa terpisah dalam jarak waktu begitu jauh, yaitu di sekitar tahun 1800. Dan yang lebih aneh, mereka bukan dari Asia Selatan melainkan Mediterania. Tepatnya dari Yunani dan Kreta. Tidak ada satupun dari kerangka yang diteliti punya hubungan satu sama lain.
Jadi, kenapa ada sekelompok orang dari Mediterania sampai ada di sana dan apa penyebab mereka tewas? Para periset belum dapat mengetahuinya.
"Kami gagal menjawab kenapa orang Mediterania bepergian ke danau ini dan apa yang mereka lakukan," ucap Niraj Rai, arkeolog dari Birbal Sahni Institute of Palaeosciences yang ikut serta dalam riset ini.
"Mungkin ini adalah misteri yang lebih pelik dari sebelumnya. Tidak bisa dipercaya karena tipe keturunan yang kami temukan di sekitar sepertiga individual sangat tidak biasa di bagian dunia ini," kata David Reich, ahli genetik Harvard.
Penyebab kematian ratusan orang di danau terpencil yang sama itu masih tetap misteri. Kematian karena kekerasan dikesampingkan karena tidak ada senjata ditemukan atau tanda-tanda peperangan. Para korban juga dalam keadaan sehat ketika meninggal sehingga penyebabnya bukan wabah penyakit. https://bit.ly/2XyHSR7
Ada teori bahwa mereka terjebak cuaca buruk dan meninggal dunia. Mitos lokal menyebutkan, mereka adalah peziarah yang karena hal tertentu membuat dewa marah, lalu dihukum hingga tewas. Namun semua teori yang sejauh ini telah dimunculkan belum memuaskan.
Juli 2019 Cetak Rekor Suhu Terpanas Sepanjang Masa
Juli 2019 adalah bulan paling panas yang pernah tercatat sepanjang masa. Itu adalah kepastian dari lembaga cuaca Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Seperti biasa, mereka mencatat temperatur udara setiap bulan dan membandingkannya dengan data ratusan tahun ke belakang sampai 1880.
Dikutip detikINET dari Live Science, Minggu (18/8/2019), rata-rata suhu global Juli kemarin 0,95 derajat Celcius lebih tinggi dibanding rata-rata temperatur abad ke-20 di angka 15,8 derajat Celcius. Juga lebih tinggi 0,03 derajat Celcius dibanding rekor sebelumnya pada Juli 2016.
Rekor temperatur udara itu tak terlalu mengejutkan mengingat ada gelombang panas masif melanda Eropa dan Greenland tempat miliaran ton es mencair. Masih menurut NOAA, es di area Arktik dan Antartika juga mencapai rekor terendah dalam 41 tahun terakhir.
Temperatur rata-rata paling tidak normal terjadi di Alaska, Kanada barat dan Rusia tengah, di mana suhu paling tidak 2 derajat Celcius lebih hangat.
Aktivitas manusia dituding menjadi penyebab makin panasnya suhu Bumi. Misalnya penggunaan bahan bakar minyak yang tak terkendali serta penggundulan hutan.
"Gas rumah kaca memerangkap panas di atmosfer, yang mengandung konsekuensi. Membakar bahan bakar fosil mengubah arah masa depan planet kita. Bagaimana masyarakat menanggulanginya adalah tantangan besar," cetus James Butler dari NOAA. https://bit.ly/337Pb3m
Tidak ada komentar:
Posting Komentar