Kamis, 21 November 2019

Wacana Manusia 'Mutan' untuk Tinggali Mars

Beberapa pihak termasuk NASA dan SpaceX berencana untuk mendaratkan manusia di planet Mars, bahkan membangun koloni di sana. Salah satu masalah terbesarnya adalah bagaimana memastikan manusia bisa bertahan hidup di sana.

Dikutip detikINET dari International Business Times, lingkungan Mars yang begitu tandus dan dingin, belum lagi atmosfer yang amat tipis serta radiasinya berbahaya, sangat tidak ramah bagi manusia.

Secara psikologis, jarak yang begitu jauh dari Bumi, sekitar 3 tahun perjalanan, juga berbahaya bagi mental. Maka, ilmuwan ini melontarkan wacana kontroversial untuk merancang manusia 'mutan' yang diubah secara genetik agar mampu survive di planet Merah.

Menurut Chris Mason, ahli genetik dari Weill Cornell University, New York, manusia yang diubah secara genetik bisa menjawab tantangan di antariksa. Bahkan tak hanya untuk ke Mars, tapi lebih jauh lagi di sistem Tata Surya walau untuk itu, masih dibutuhkan waktu lama.

"Mungkin 20 tahun dari sekarang, saya berharap kita bisa berada dalam tahap di mana kita bisa menjadikan manusia yang dapat lebih baik dalam bertahan di Mars," sebutnya.

Skenarionya misalnya dengan 'mematikan' gen spesifik. Bahkan tengah dieksplorasi untuk mengkombinasikan DNA spesies seperti tardigrade, hewan terkuat di dunia, dengan sel manusia sehingga lebih tahan terhadap efek antariksa seperti radiasi.

Pengubahan gen akan membuat manusia bisa menjelajah lebih jauh di luar angkasa. Agar lebih etis, manusia yang diubah gennya ini tetap bisa hidup sebagaimana biasa di Bumi dan mampu bertahan dengan baik di Mars.

Wacana itu ditanggapi beragam, ada yang mempertanyakan apa jadinya manusia jika diubah gennya. "Horor dimulai. Dalam 500 tahun ke depan kita sudah tak seperti manusia," sebut seorang netizen.

"Apa yang paling bisa kita lakukan adalah dengan tidak merusak planet ini, bukannya malah mencari planet yang lain," tulis komentar berikutnya. https://bit.ly/37lvJUp

Gawat, Serangan Ransomware Makin Marak di Indonesia

 Aktivitas serangan siber dalam bentuk ransomware tengah meningkat belakangan ini. Bahkan, sebulan terakhir ini di Indonesia diperkirakan ada ratusan serangan ransomware yang sukses.

Hal ini diutarakan Alfons Tanujaya, pengamat keamanan siber Vaksincom, yang menyebut pengguna internet harus mewaspadai meningkatnya serangan siber dalam bentuk aktivitas ransomware.

"Banyak sekali (serangan ransomware-red). Perkiraan kami di Indonesia dalam 1 bulan terakhir terjadi ratusan infeksi ransomware yang sukses," ujar Alfons ketika dihubungi detikINET.

Serangan ransomware yang sukses yang dimaksud oleh Alfons ini adalah serangan yang berhasil menginfeksi dan mengenkripsi data di komputer korbannya. Seperti diketahui, ransomware adalah jenis malware yang bisa 'menyandera' file milik penggunanya.

Penyanderaan yang dimaksud di sini adalah dengan mengenkripsi file tersebut sehingga tak bisa diakses lagi oleh si pemilik. Untuk membuka enkripsi ini, pengguna memerlukan 'kunci' yang bisa didapat dengan membayarkan uang tebusan ke penyebar ransomware.

Pernyataan Alfons ini sejalan dengan laporan analisis dari Bitdefender yang menyebutkan pertumbuhan serangan ransomware belakangan ini semakin besar dan diperkirakan bakal makin sulit dilawan.

Menurut Bitdefender, dari semua serangan cyber yang ada, ransomware adalah jenis serangan yang pertumbuhannya sangat pesar secara year on year. Pertumbuhan malware penyandera ini mencapai 74,2%.

Sebenarnya jumlah laporan serangan ransomware sempat menurun pada pertengahan pertama 2019, yang disebabkan oleh grup hacker di balik ransomware GandCrab mengurangi intensitas serangannya.

Namun sejak itu laporan serangan ransomware melesat kembali, setelah ada ransomware baru yang banyak digunakan dan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh GandCrab. https://bit.ly/347l7Gy

Ilmuwan Menduga Alien Intai Bumi dari Asteroid

Alien bisa saja mengintai Bumi dengan perangkat robot yang ditempatkan di asteroid dekat. Begitu teori yang baru saja dikemukakan oleh ilmuwan fisika asal Amerika Serikat, James Benford.

Gagasan bahwa alien memanfaatkan wahana antar bintang untuk mengobservasi dan memonitor makhluk hidup lain pertama kali dikemukakan oleh ilmuwan universitas Stanford, Ronald Bracewell, pada tahun 1960.

Sekarang, fisikawan James Benford menyatakan kandidat lokasi pengawasan itu kemungkinan berada di asteroid. Tidak sembarang asteroid, melainkan yang bergerak dalam waktu yang sama dengan Bumi mengitari Matahari.

Dikutip detikINET dari Mirror, kurang dari 20 obyek angkasa semacam itu ditemukan. Terdekat adalah asteroid kecil yang dinamai 2016 HO3.

2016 HO3 telah mengitari Bumi hampir selama seabad. NASA bahkan menyebutnya sebagai 'teman konstan Bumi'.

"2016 HO3 memutar di sekitar planet kita, namun tidak pernah bergerak sangat jauh di saat keduanya mengitari Matahari," kata peneliti NASA, Paul Chodas.

Menurut Benford, dekatnya jarak itu membuatnya menjadi tempat yang ideal bagi alien untuk menempatkan perangkatnya dan mengintai manusia.

"Obyek dekat Bumi itu menyediakan cara ideal untuk melihat dunia kita dari obyek natural yang aman," demikian tulisnya dalam sebuah publikasi. "Hal itu menyediakan keperluan alien, material, lokasi yang kuat dan persembunyian," paparnya.

Dia menyarankan agar asteroid dekat Bumi semacam itu diinvestigasi lebih lanjut. Penelitian bisa dilakukan secara jarak jauh ataupun mengunjunginya langsung dengan wahana antariksa.

Tentu tidak semua ilmuwan sepakat dengan teori Brendford. "Seberapa mungkin wahana alien ada di obyek co orbital itu, jelas sangat cenderung tidak mungkin," ujar Paul Davies, ahli antariksa dari Arizona State University.

"Namun jika ongkosnya sangat kecil untuk melihatnya, kenapa tidak? Bahkan meski kita tak menemukan alien, barangkali ada sesuatu yang menarik," imbuhnya. https://bit.ly/35mDd7D

Nah, China berencana untuk menyambangi asteroid tersebut pada tahun 2022. Mungkin saat itulah, misterinya akan terjawab.

Tak Ingin Manusia Punah karena Asteroid, NASA Ambil Langkah Ini

NASA makin serius menanggulangi ancaman asteroid yang bisa membahayakan Bumi. Lembaga antariksa Amerika Serikat itu berencana untuk meluncurkan teleskop antariksa untuk mengamati asteroid yang berbahaya sebagai bagian sistem pertahanan planet ini.

Dikutip detikINET dari Business Insider, teleskop bersangkutan akan menggunakan radiasi infrared untuk mendeteksi panas dari bebatuan yang berkeliaran di antariksa. Sebutannya adalah Near-Earth Object Surveillance Mission (NEOSM).

"Ini adalah langkah besar tentang takdir manusia, karena dinosaurus tentunya tidak punya program survei asteroid untuk melindungi diri mereka," kata Richard Binzel, profesor ilmu planet di MIT.

Ia merujuk pada punahnya dinosaurus yang diduga kuat karena hantaman dahsyat asteroid. Kejadian semacam itu berpotensi terjadi kembali suatu saat di masa depan sehingga manusia harus mengambil langkah antisipasi semacam ini.

"Mengetahui apa yang ada di luar sana adalah sesuatu yang telah diadvokasi komunitas ilmu planet selama hampir 30 tahun. Jadi ini adalah sebuah langkah terobosan," tandasnya.  https://bit.ly/2XwFvhO