Beberapa pihak termasuk NASA dan SpaceX berencana untuk mendaratkan manusia di planet Mars, bahkan membangun koloni di sana. Salah satu masalah terbesarnya adalah bagaimana memastikan manusia bisa bertahan hidup di sana.
Dikutip detikINET dari International Business Times, lingkungan Mars yang begitu tandus dan dingin, belum lagi atmosfer yang amat tipis serta radiasinya berbahaya, sangat tidak ramah bagi manusia.
Secara psikologis, jarak yang begitu jauh dari Bumi, sekitar 3 tahun perjalanan, juga berbahaya bagi mental. Maka, ilmuwan ini melontarkan wacana kontroversial untuk merancang manusia 'mutan' yang diubah secara genetik agar mampu survive di planet Merah.
Menurut Chris Mason, ahli genetik dari Weill Cornell University, New York, manusia yang diubah secara genetik bisa menjawab tantangan di antariksa. Bahkan tak hanya untuk ke Mars, tapi lebih jauh lagi di sistem Tata Surya walau untuk itu, masih dibutuhkan waktu lama.
"Mungkin 20 tahun dari sekarang, saya berharap kita bisa berada dalam tahap di mana kita bisa menjadikan manusia yang dapat lebih baik dalam bertahan di Mars," sebutnya.
Skenarionya misalnya dengan 'mematikan' gen spesifik. Bahkan tengah dieksplorasi untuk mengkombinasikan DNA spesies seperti tardigrade, hewan terkuat di dunia, dengan sel manusia sehingga lebih tahan terhadap efek antariksa seperti radiasi.
Pengubahan gen akan membuat manusia bisa menjelajah lebih jauh di luar angkasa. Agar lebih etis, manusia yang diubah gennya ini tetap bisa hidup sebagaimana biasa di Bumi dan mampu bertahan dengan baik di Mars.
Wacana itu ditanggapi beragam, ada yang mempertanyakan apa jadinya manusia jika diubah gennya. "Horor dimulai. Dalam 500 tahun ke depan kita sudah tak seperti manusia," sebut seorang netizen.
"Apa yang paling bisa kita lakukan adalah dengan tidak merusak planet ini, bukannya malah mencari planet yang lain," tulis komentar berikutnya. https://bit.ly/37lvJUp
Gawat, Serangan Ransomware Makin Marak di Indonesia
Aktivitas serangan siber dalam bentuk ransomware tengah meningkat belakangan ini. Bahkan, sebulan terakhir ini di Indonesia diperkirakan ada ratusan serangan ransomware yang sukses.
Hal ini diutarakan Alfons Tanujaya, pengamat keamanan siber Vaksincom, yang menyebut pengguna internet harus mewaspadai meningkatnya serangan siber dalam bentuk aktivitas ransomware.
"Banyak sekali (serangan ransomware-red). Perkiraan kami di Indonesia dalam 1 bulan terakhir terjadi ratusan infeksi ransomware yang sukses," ujar Alfons ketika dihubungi detikINET.
Serangan ransomware yang sukses yang dimaksud oleh Alfons ini adalah serangan yang berhasil menginfeksi dan mengenkripsi data di komputer korbannya. Seperti diketahui, ransomware adalah jenis malware yang bisa 'menyandera' file milik penggunanya.
Penyanderaan yang dimaksud di sini adalah dengan mengenkripsi file tersebut sehingga tak bisa diakses lagi oleh si pemilik. Untuk membuka enkripsi ini, pengguna memerlukan 'kunci' yang bisa didapat dengan membayarkan uang tebusan ke penyebar ransomware.
Pernyataan Alfons ini sejalan dengan laporan analisis dari Bitdefender yang menyebutkan pertumbuhan serangan ransomware belakangan ini semakin besar dan diperkirakan bakal makin sulit dilawan.
Menurut Bitdefender, dari semua serangan cyber yang ada, ransomware adalah jenis serangan yang pertumbuhannya sangat pesar secara year on year. Pertumbuhan malware penyandera ini mencapai 74,2%.
Sebenarnya jumlah laporan serangan ransomware sempat menurun pada pertengahan pertama 2019, yang disebabkan oleh grup hacker di balik ransomware GandCrab mengurangi intensitas serangannya.
Namun sejak itu laporan serangan ransomware melesat kembali, setelah ada ransomware baru yang banyak digunakan dan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh GandCrab. https://bit.ly/347l7Gy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar