Kamis, 21 November 2019

Psikotropika Dijual di Lapak Online, Dokter Jiwa Singgung Peran BPOM

Maraknya psikotropika yang dijual secara bebas di lapak-lapak online dinilai meresahkan. Jika obat ini sampai digunakan tanpa aturan yang tepat, tentu dapat membahayakan pemakainya.

dr Andri, SpKJ, FACLP, psikiater di Klinik Psikosomatik RS OMNI mengatakan, obat psikotropika tidak boleh digunakan secara sembarang. Bahkan dengan resep dokter jiwa sekalipun, penggunaan obat jenis ini sangat dibatasi.

"Karena banyaknya penyalahgunaan ini, kita berharap ada peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di sini. Dalam hal ini, BPOM bertugas untuk menangani dan mengawasi peredaran obat di Indonesia," ujarnya.

Dalam praktik keseharian, pengawasan obat di apotek bisa dilakukan dengan cara mendatanginya. Namun, untuk perdagangan lewat online, mungkin akan memerlukan tanggung jawab yang lebih besar.

"Kalau mengawasi apotek biasa yang buka praktiknya setiap hari, bisa lebih mudah dengan datang langsung ke tempat itu. Tapi, kalau yang online seperti ini, pasti tanggung jawabnya lebih besar dan tidak mudah. Ibaratnya 'patah satu, hilang berganti' pasti akan bermunculan lagi jika tidak dituntaskan," tutur dr Andri.

Selain itu, permasalahan penjualan obat bebas melalui toko online juga akan menjadi permasalahan di kalangan masyarakat. Supaya masyarakat paham, dr Andri selalu rutin membagikan edukasi atau ilmu agar mereka tahu menggunakan obat dengan bijak. https://bit.ly/2OvRAjl

Banyak Beredar di Toko Online, Roaccutane untuk Obat Jerawat Aman Nggak Sih?

Remaja khususnya perempuan, penampilan menjadi hal yang paling diperhatikan. Keberadaan jerawat bisa menjadi hal yang dapat mengganggu penampilannya. Dalam mengatasinya, sebagian dari mereka mengikuti tips atau saran dari beauty vlogger maupun selebgram. Namun, harus hati-hati, terkadang saran tersebut bisa tidak cocok untuk kita.

Salah satu obat ampuh untuk mengobati jerawat adalah roaccutane. Roaccutane merupakan obat yang mengandung isotretinoin, yaitu turunan dari vitamin A. Obat ini berfungsi secara sistematik untuk mengurangi gejala jerawat yang sudah tidak merespon lagi terhadap antibiotik atau terapi topikal lainnya.

Menurut dokter kulit Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), dr Susie Rendra, SpKK, roaccutane merupakan obat jerawat yang sangat bagus, tetapi memiliki dampak dan efek samping yang banyak juga.

"Roaccutane ini memang bagus banget. Tapi kalo kamu baca isotretinoin, ini dapat memberikan efek yang besar, salah satunya pada kondisi psikologi pemakainya," katanya pada detikcom di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (12/9/2019).

Kandungan isotretinoin dalam obat ini memang sangat bagus untuk mengobati jerawat. Tetapi, menimbulkan efek samping pada keadaan psikologi, salah satunya meningkatkan angka depresi.

"Kita sebut isotret, karena itu kandungan utamanya, salah satu efek samping untuk pemakainya ya depresi. Tapi, nggak selalu orang yang minum roaccutan atau isotret ini pasti depresi. Ada juga efek samping lainnya seperti purging atau keluar banyak biji-biji jerawat, walaupun tidak banyak yang mengalami keadaan seperti ini," jelas dr Susie.

dr Susie menjelaskan, obat ini sebenarnya tidak masuk di Indonesia dan tidak pernah diizinkan beredar oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Saya nggak tahu jelas kenapa isotretinoin tidak masuk ke Indonesia, karena di luar negeri semuanya masuk seperti Malaysia dan Singapura. Yang jelas, produk ini memang tidak pernah diizinkan beredar oleh BPOM. Kalau pun ada di toko-toko online, itu pasti dari black market. Kita kan nggak bisa tahu kan itu produk asli atau tidak," tukasnya.

"Jika ditanya aman atau tidak menggunakan obat ini, buktinya dipakai di berbagai negara kok. Cuma lebih baik lagi kalau kita mencari cara lain yang lebih aman untuk mengobati jerawat itu," imbuhnya.

Penggunaan roaccutane pada remaja harus selalu dipantau. Ini dilakukan untuk mencegah terjadi dampak selain hilangnya jerawat pada wajahnya. dr Susie menyarankan, mengobati jerawat bisa menggunakan antibiotik ataupun hormonal yang memang lebih aman.

"Kalau ditanya gantinya, isotret tidak bisa digantikan. Tapi ingat, mengatasi jerawat tidak mesti pake isotretinoin, kecuali kasus yang berat ya. Istilahnya mah, tak ada rotan, akar pun jadi. Pengobatan pertama bisa pakai antibiotik. Jika tidak sembuh juga apalagi pada perempuan, bisa mengobati secara hormonal menggunakan obat KB. https://bit.ly/37pwk7g

Kabar Gembira bagi Pejuang Asam Lambung, Ranitidin Boleh Dipakai Lagi!

Obat asam lambung ranitidin sebelumnya ditarik dari peredaran oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena kekhawatiran cemaran zat N-Nitrosodimethylamine (NDMA). Cemaran ini dalam pemakaian jangka panjang dikaitkan dengan risiko kanker.

Namun demikian dalam surat edaran terbaru tanggal 20 November 2019, BPOM memutuskan untuk kembali mengizinkan peredaran beberapa obat. Alasannya karena obat-obat ranitidin itu terbukti tidak tercemar NDMA melebihi ambang batas.

"Dalam rangka kehati-hatian dan perlindungan kepada masyarakat, pada tanggal 11 Oktober 2019 Badan POM telah memerintahkan seluruh industri farmasi pemegang izin edar untuk menghentikan sementara produksi, distribusi, dan peredaran produk ranitidin," tulis BPOM dalam surat yang ditujukan untuk asosiasi profesi.

"Produk ranitidin yang tidak tercantum dalam Lampiran, dinyatarakan ditarik (recall) dari peredaran serta dilakukan pemusnahan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya, industri farmasi dapat memproduksi kembali dan mengedarkan produknya setelah memastikan bahwa hasil produksinya tidak mengandung NDMA melebihi ambang batas yang diperbolehkan," lanjut BPOM.

Total ada sekitar 37 obat ranitidin yang dapat diedarkan kembali. Ada produk obat yang seluruh betsnya dapat langsung diedarkan tapi ada juga produk yang sebagian betsnya harus ditarik dan dimusnahkan.

"Masyarakat dapat mengetahui informasi terkait produk-produk ranitidin melalui website Badan Pom atau melalui aplikasi Cek BPOM. Badan Pom akan terus memperbaharui informasi sesuai dengan daya yang terbaru," tulis surat edaran. https://bit.ly/2OuqF7m

Jual Beli Obat Keras Online Masih Marak, BPOM Dinilai Kurang Efektif

Dalam mengatasi peredaran bebas obat secara online, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) menilai upaya yang dilakukan pemerintah masih kurang efektif, terutama dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Saya lihat juga BPOM sudah berupaya untuk menangani masalah ini, semua market place dirangkul. Tapi, kayaknya nggak begitu efektif kan," ujar Sekretaris Jenderal (IAI), Noffendri Roestam pada detikcom, Jumat (15/11/2019).

Menurut Noffendri, dalam menindak penjualan obat di toko online ini, IAI tidak bisa melakukannya sendiri. Ia mengaku, pihaknya telah menjalani upaya untuk mengatasinya sesuai dengan alur yang berlaku.

Pihak IAI selalu melapor ke pemerintah terkait penemuan situs atau lapak online yang menjual obat secara bebas. Setelah itu, baru dioper ke tangan BPOM yang harus melalui koordinasi dengan pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), untuk proses pemblokiran.

"Sudah sesuai alur yang berlaku. Tapi, seperti yang saya bilang, mesti dijalani (upaya) secara paralel. Jadi nggak hanya perusahaannya yang diingatkan, tapi masyarakatnya juga. Dalam hal ini, pemerintah juga bisa rangkul organsasi profesi, seperti IAI dan difasilitasi oleh media," jelasnya.

Sementara itu, IAI sendiri telah melakukan upaya dengan terus mengedukasi masyarakat dan sarana seperti apotek, dalam penjualan serta pembelian obat yang harus disertai resep. Ia merasa, jika terus-menerus hanya menutup akun yang menjual obat bebas itu tidak ada habisnya.

"Kalau cuma terus menutup akun yang jual jadi capek sendiri, kalau masyarakatnya nggak mengerti," kata Noffendri. https://bit.ly/2KDy6b5