Sabtu, 01 Agustus 2020

Tunggu Hasil Tes, Menkes Akan Jemput 78 WNI di Kapal Pesiar Jepang

Jumlah penumpang kapal pesiar Diamond Princess yang positif virus corona COVID-19 telah mencapai 355 orang. Di dalam kapal pesiar tersebut, terdapat sekitar 78 WNI yang menjadi Anak Buah Kapal. Sampai saat ini disebut bahwa mereka dalam keadaan sehat.
Untuk rencana penjemputan, Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto menyebut pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan. Jika negatif, Menkes akan menjemput mereka untuk dipulangkan.

"Untuk di Yokohama kebetulan saya bersama protokoler Kemenlu tunggu hasil PCR-nya. Kalau itu negatif, saya juga akan ke sana mengecek dan menjemputnya," tutur Menkes Terawan di Kantor Staf Presiden, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (17/2/2020).

Meski demikian, Menkes akan melakukan koordinasi dahulu dengan ototitas kesehatan setempat. Ia juga menyebut pemerintah menunggu hasil resmi pemeriksaan dari Kementerian Kesehatan Jepang beserta surat keterangan yang menyatakan WNI di sana dalam keadaan sehat sebelum dipulangkan.

"Kami butuh sertifikasi sehingga kalau di sini nanti sehat ngapain diobservasi lagi? Sudah cukup kalau sehat. Karena itu dipastikan lagi apakah diperkenankan untuk melakukan pengecekan dan penjemputan," pungkasnya.

Bikin Ribet, Pengisian 'Health Alert Card' di Bandara Dikeluhkan

Sebagai antisipasi masuknya virus corona COVID-19, Kementerian Kesehatan RI membagikan Health Alert Card (HAC) atau kartu kewaspadaan kesehatan di setiap pintu masuk negara. Termasuk juga di bandara, HAC wajib diisi oleh setiap penumpang pesawat dari daerah yang terdampak wabah penyakit.
Kartu ini disimpan selama 14 hari dan ditunjukkan ke petugas kesehatan jika dalam periode tersebut mengalami keluhan. Pasien dengan kartu tersebut artinya punya riwayat bepergian ke daerah yang terdampak COVID-19.

"Pemberian ini merupakan standar internasional. Di dalam kartu tersebut disebutkan bahwa dalam 14 hari sejak kedatangan ke Indonesia manakala sakit, atau merasakan panas dan gejala influenza maka Kementerian Kesehatan mengimbau mereka untuk ke rumah sakit atau Puskesmas dan menunjukkan kartunya," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Ahmad Yurianto.

Dalam praktiknya, pengisian HAC ini dirasa merepotkan oleh sebagian penumpang. Selain karena makan waktu, juga terkesan hanya formalitas karena informasi yang ada dalam kartu tersebut diisi sendiri oleh penumpang dan tidak diperiksa lagi.

"Habis itu dikasih ke petugas, dan nggak diapa-apain," kata Kristo, seorang karyawan di Jakarta yang baru-baru ini baru pulang dari luar negeri.

Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI), Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH berpendapat, yang terpenting dalam pengisian HAC adalah edukasi tentang penularan penyakit. Sebab kenyataannya, memang tidak semua penumpang membaca informasi yang ada dalam HAC saat mengisi dan menyimpannya.

"(Seharusnya) Tidak hanya diberikan alert card, tapi kumpulkan saja semuanya pada saat pesawat turun untuk dilakukan edukasi," jelasnya.
https://kamumovie28.com/zero-no-tsukaima-s2-episode-10/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar