Di media sosial ramai perdebatan mengenai kematian para pasien yang terinfeksi virus Corona COVID-19. Sebagian netizen berpandangan virus ini tidak menyebabkan kematian, alasannya karena para pasien meninggal akibat hal atau penyakit penyerta lain yang sudah dimiliki.
"Kematian murni akibat COVID itu tidak ada. Tapi Covid itu memperburuk keadaan masyarakat yang lemah imun dan daya tubuhnya," kata salah satu pengguna Facebook.
Terkait hal tersebut, influencer kesehatan dr I Made Cock Wirawan mengatakan logika "COVID-19 tidak menyebabkan kematian" seperti menyebut tidak ada yang meninggal karena human immunodeficiency virus (HIV). Menurut dr Made pandangan itu keliru dan berbahaya karena bisa membuat orang-orang jadi semakin abai.
"Mengapa saya analogikan dengan HIV? Ya karena kondisi ini mirip dengan infeksi HIV. Virus penyebab AIDS ini tidak secara langsung membunuh orang yang diinfeksinya, tapi membuat penyakit yang sebelumnya tidak parah atau biasa menjadi mematikan," kata pria yang mengelola akun Twitter @blogdokter ini pada detikcom beberapa waktu lalu.
Dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan RI, data dari 337 pasien Corona COVID-19 yang meninggal pada 3 Juni lalu menunjukkan 110 orang tidak memiliki komorbid atau penyakit penyerta.
Sebanyak 118 pasien positif COVID-19 lainnya yang meninggal memiliki komorbid tunggal dan 109 pasien berstatus multi komorbid.
Ahli Ingatkan Bahaya Penyakit Pernapasan Lain usai Lockdown Dicabut
Para ahli mengingatkan penyakit pernapasan lain yang sama berbahayanya dengan virus Corona COVID-19 usai lockdown dicabut. Hal ini dikaitkan dengan banyaknya bangunan yang semula kosong ditempati lagi.
"Ketika pembatasan lockdown mulai meningkat di seluruh dunia, banyak orang akan kembali ke bangunan yang ditinggalkan yang telah dibiarkan tidak terawat selama berbulan-bulan," jelas Profesor Anne Clayson, Associate Professor dari Occupational Hygiene and Occupational Health, University of Manchester.
"Bangunan-bangunan seperti itu telah menjadi tempat berkembang biaknya infeksi, dan bisa jadi menyimpan penyakit seperti penyakit legionnaire," kata Prof Clayson, dikutip dari The Sun.
Profesor Anne Clayson menyoroti bahwa penyakit legionnaires disebabkan oleh menghirup percikan air yang mengandung bakteri legionella pneumophilia. Meskipun menurutnya ini sangat jarang terjadi, tetapi risikonya menjadi tinggi ketika kembali beraktivitas di bangunan yang sudah berbulan-bulan kosong saat pembatasan Corona.
Legionnaires disebutnya menyebabkan pneumonia berat. Gejalanya juga mirip dengan virus Corona COVID-19.
"Mereka termasuk demam, batuk kering, sesak napas dan nyeri otot," jelas Prof Anne Clayson.
Sepak Terjang dr Reisa, Jubir Baru COVID-19 yang Pernah Dalami Forensik
dr Reisa Broto Asmoro kini ramai jadi perbincangan netizen semenjak ikut mendampingi dr Achmad Yurianto dalam perkembangan kasus Corona Indonesia. Tidak hanya parasnya yang cantik, dr Reisa juga ternyata punya segudang pengaman sebagai dokter, bahkan sempat terjun dalam dunia forensik.
dr Reisa Broto Asmoro kini diketahui telah resmi tergabung dalam Tim Komunikasi Gugus Tugas COVID-19. Seperti apa sih perjalanan dr Reisa dalam karirnya selama ini?
1. Terkenal sebagai presenter dr OZ Indonesia
dr Reisa Broto Asmoro mulanya dikenal sebagai presenter dr OZ Indonesia. Tepatnya di tahun 2014, pada program acara Trans TV.
2. Kuliah kedokteran
dr Reisa yang lahir pada 28 Desember 1985 di Malang memiliki nama asli Reisa Kartika Sari. Ia dikenal dalam layar kaca setelah menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan dan Universitas Indonesia.
3. Pernah terjun di dunia forensik
Siapa yang menyangka, dokter cantik satu ini sempat terlibat dalam dunia forensik. Setelah lulus, dr Reisa Broto Asmoro pernah bekerja sebagai tenaga medis forensik di RS Polri Raden Said Sukanto, Kramat Jati.
Tidak hanya itu, ia bahkan sempat menjadi salah satu anggota DVI (Disaster Victim Identification) yang salah satunya terlibat dalam proses investigasi korban Sukhoi dan beberapa bom terorisme di Jakarta.
4. Menikah di tahun 2012
dr Reisa menikah di tahun 2012. dr Reisa menikah oleh salah satu anggota keraton Solo, yaitu Kanjeng Tedjodiningrat Broto Asmoro. dr Reisa pun mendapatkan gelar Kanjeng Mas Ayu Tumenggung, namun dr Reisa lebih senang menuliskan namanya dengan Reisa Broto Asmoro mengikuti nama keluarga sang suami.
5. Aggota dan Pengurus PB IDI
dr Reisa Broto Asmoro juga masih masuk dalam Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI). Beliau masih menjabat sebagai anggota bidang Keseketariatan, Protokoler, dan Public Relation Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).
https://cinemamovie28.com/black-clover-episode-18-subtitle-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar