Zaman Perang Dunia Kedua, Pulau Lastavica di Montenegro dikenal sebagai penjara dan penyiksaan. Kini, pulau itu akan dijadikan resort mewah.
Pulau Lastavica di Montenegro lekat dengan sejarah panjang Perang Dunia Kedua yang memilukan. Tepat di pulau itu berdiri Benteng Mamula yang dahulu berfungsi sebagai penjara di era diktator Benito Mussolini.
Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Senin (18/3/2019), kini ada wacana baru untuk menyulap pulau tersebut jadi resort mewah seperti diberitakan media The Sun.
Sebuah perusahaan Swiss bernama OHM Mamula Montenegro telah menggelontorkan dana senilai 15 juta Euro atau setara dengan 242 milyar, untuk membangun resort di pulau tersebut seperti diberitakan media The Telegraph.
Wacananya, bekas benteng di pulau tersebut akan dijadikan resort dengan fasilitas beach club, olahraga air dan restoran. Termasuk di dalamnya marina untuk kapal cruise dan galeri khusus berisi sejarah pulau tersebut.
Faktanya, pulau tersebut telah dihuni oleh sekitar 2.000 tahanan selama Perang Dunia Kedua. Di mana 130 di antaranya telah disiksa dan mati kelaparan di sana.
Apabila semua berjalan sesuai rencana, resort tersebut akan rampung pada pertengahan tahun 2021. Kamu berani menginap?
Mau Liburan ke Dieng Dalam Waktu Dekat, Ini yang Harus Disiapkan
Wisatawan yang mau liburan ke Dieng diimbau untuk menyiapkan perlengkapan jika turun hujan. Mengingat curah hujan di dataran tinggi dan tidak bisa diprediksi.
Kepala UPT Pengelola Obyek Wisata Banjarnegara Aryadi Darwanto mengatakan, curah hujan di dataran tinggi Dieng tidak sama dengan daerah lain. Untuk itu, sebaiknya wisatawan mempersiapkan perlengkapan jika turun hujan.
"Di Dieng itu tidak sama dengan daerah lain. Kadang di daerah sekitar hujan di Dieng justru panas. Jadi sebaiknya untuk membawa perlengkapan hujan seperti payung atau jas hujan agar bisa menikmati obyek wisata di dataran tinggi Dieng," ujarnya saat dihubungi detikcom, Senin (18/3/2019).
Sebagian besar, obyek wisata di dataran tinggi Dieng merupakan pesona alam sehingga berada di luar ruangan. Misalnya, Kawah, kawasan Candi Arjuna, Tlaga Merdada, Sumur Jalatunda dan lainnya.
"Untuk yang di dalam ruangan paling hanya Museum Kaliasa," sebutnya.
Meski demikian, Aryadi menuturkan tingkat kunjungan ke Dieng tidak terpengaruh dengan tingginya curah hujan. Terbukti, dalam delapan hari terakhir pendapatan di atas Rp 300 juta.
"Musim hujan seperti ini tidak ada pengaruhnya. Karena banyak rombongan dari Jakarta dan kota-kota lain mampir sebelum ke Yogyakarta misalnya. Meski, rata-rata hanya ke Kawah dan kawasan Candi," paparnya.
Sedangkan untuk akses jalan menuju obyek wisata yang kerap tertutup longsor juga tidak terlalu berpengaruh. Pasalnya, saat terjadi longsor, warga TNI/Polri dan berbagai relawan langsung membersihkan.
"Memang musim hujan akses ke Dieng kadang longsor, tetapi warga sekitar dan beberapa relawan TNI/Polri langsung membersihkan. Jadi tidak selang lama bisa dilewati lagi," terangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar