Presiden Joko Widodo pada Senin (2/3) telah mengumumkan adanya kasus positif virus corona Covid-19 di Indonesia. Dua pasien adalah warga Depok yang kini tengah dirawat di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta Utara.
Setelah kabar RI positif virus corona merebak, banyak masyarakat yang menjadi panik dan membuat spekulasi sendiri. Sebelumnya Kementerian Kesehatan mengaktifkan layanan Hotline Virus Corona di Pusat Krisis Kemenkes pada nomor:
021-5210411 dan 081212123119
Tim detikcom mencoba menghubungi kedua nomor yang tertera. Sayangnya kedua layanan yang disebut akan aktif 24 jam dan berlaku sejak Januari lalu saat ini tidak bisa dihubungi.
Beberapa masyarakat juga mengeluhkan hal serupa. Meski sudah berkali mencoba, kedua layanan hotline tidak bisa dihubungi.
"Fungsi adanya nomor itu apa kalau nggak bisa di call? Harusnya sih bisa di telepon ya namanya juga crisis center harusnya aktif 24 jam! Ini ditelepon aja nggak bisa," keluh Ardi, pegawai swasta, kepada detikcom. Ia menuturkan sudah mencoba sejak Senin lalu namun tetap tak tersambung
Perihal tidak aktifnya layanan hotline virus corona Kementerian Kesehatan, Kepala Pusat Krisis Kemenkes menyebut kedua nomor yang tertera masih aktif dan masyarakat tetap bisa menghubungi.
"Aktif kok mbak. Cuman memang telepon yang masuk banyak terutama sejak ada positif corona di Indonesia," kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, Budi Sylvana.
Pasien Virus Corona di RSPI Sulianti Saroso Membaik, Masih Tunggu Tes Kedua
Dua pasien positif virus corona COVID-19 yang saat ini dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso semakin membaik. Gejala yang muncul mulai hilang, tinggal batuk-batuk.
"Yang dua sampai hari ini berarti hari keempat ya, alhamdulillah semakin membaik. Kalau kemarin itu tinggal batuk-batuk sedikit, sekarang pun begitu," jelas Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianto Saroso, dr. Mohammad Syahril, Sp.P, Rabu (4/3/2020).
Berdasarkan penuturan dr Syahril, kedua pasien positif sudah tidak demam ataupun sesak napas. Keduanya masih bisa berkomunikasi baik dengan keluarganya.
Namun, untuk bisa memulangkan mereka, pihak rumah sakit masih harus melalukan cek ulang. Jika hasil akhir negatif, baru bisa dipulangkan.
"Dari tanggal 2, lima hari kemudian akan kita cek ulang. Kalau dia negatif, kemudian 5 hari (dites lagi) negatif baru dipulangkan. Jadi tetap hasil laboratorium sebagai parameter untuk memulangkan pasien tersebut," katanya.
Jika dihitung dari 2 Maret lalu, tes kedua kemungkinan akan dilakukan pada 7 Maret mendatang.
Tenaga Kesehatan Kurang Masker, WHO Minta Industri Tingkatkan Produksi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Selasa (3/3/2020) mengakui adanya krisis alat pelindung diri seperti masker, respirator, kacamata, pelindung wajah, dan gaun medis. Hal ini akibat kepanikan masyarakat global yang memborong alat di tengah wabah virus corona COVID-19.
Dampaknya tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan profesi medis lain yang sebetulnya paling membutuhkan alat pelindung tersebut jadi tak kebagian. WHO memprediksi minimal dibutuhkan sekitar 89 juta masker setiap bulan untuk merespons wabah COVID-19.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengimbau industri dan pemerintah negara-negara membantu mengatasi hal tersebut dengan meningkatkan produksi alat pelindung hingga 40%. WHO sendiri mengaku sudah berusaha mengirimkan bantuan setengah juga set alat pelindung ke 47 negara yang dinilai paling membutuhkan.
"Tanpa sumber pasokan (alat kesehatan -red) yang aman, ada risiko nyata untuk petugas kesehatan di seluruh dunia. Industri dan pemerintah harus bertindak cepat meningkatkan pasokan, mempermudah ekspor, dan memberlakukan langkah-langkah untuk menghentikan spekulasi serta penimbunan," kata Tedros seperti dikutip dari situs resmi WHO, Rabu (4/3/2020).
"Kita tidak bisa menghentikan wabah COVID-19 tanpa melindungi tenaga kesehatan terlebih dahulu," pungkasnya.
https://cinemamovie28.com/cast/henry-martin-leyva/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar