Dua pasien positif virus corona COVID-19 yang saat ini dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso semakin membaik. Gejala yang muncul mulai hilang, tinggal batuk-batuk.
"Yang dua sampai hari ini berarti hari keempat ya, alhamdulillah semakin membaik. Kalau kemarin itu tinggal batuk-batuk sedikit, sekarang pun begitu," jelas Direktur Utama Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianto Saroso, dr. Mohammad Syahril, Sp.P, Rabu (4/3/2020).
Berdasarkan penuturan dr Syahril, kedua pasien positif sudah tidak demam ataupun sesak napas. Keduanya masih bisa berkomunikasi baik dengan keluarganya.
Namun, untuk bisa memulangkan mereka, pihak rumah sakit masih harus melalukan cek ulang. Jika hasil akhir negatif, baru bisa dipulangkan.
"Dari tanggal 2, lima hari kemudian akan kita cek ulang. Kalau dia negatif, kemudian 5 hari (dites lagi) negatif baru dipulangkan. Jadi tetap hasil laboratorium sebagai parameter untuk memulangkan pasien tersebut," katanya.
Jika dihitung dari 2 Maret lalu, tes kedua kemungkinan akan dilakukan pada 7 Maret mendatang.
Tenaga Kesehatan Kurang Masker, WHO Minta Industri Tingkatkan Produksi
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Selasa (3/3/2020) mengakui adanya krisis alat pelindung diri seperti masker, respirator, kacamata, pelindung wajah, dan gaun medis. Hal ini akibat kepanikan masyarakat global yang memborong alat di tengah wabah virus corona COVID-19.
Dampaknya tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, dan profesi medis lain yang sebetulnya paling membutuhkan alat pelindung tersebut jadi tak kebagian. WHO memprediksi minimal dibutuhkan sekitar 89 juta masker setiap bulan untuk merespons wabah COVID-19.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengimbau industri dan pemerintah negara-negara membantu mengatasi hal tersebut dengan meningkatkan produksi alat pelindung hingga 40%. WHO sendiri mengaku sudah berusaha mengirimkan bantuan setengah juga set alat pelindung ke 47 negara yang dinilai paling membutuhkan.
"Tanpa sumber pasokan (alat kesehatan -red) yang aman, ada risiko nyata untuk petugas kesehatan di seluruh dunia. Industri dan pemerintah harus bertindak cepat meningkatkan pasokan, mempermudah ekspor, dan memberlakukan langkah-langkah untuk menghentikan spekulasi serta penimbunan," kata Tedros seperti dikutip dari situs resmi WHO, Rabu (4/3/2020).
"Kita tidak bisa menghentikan wabah COVID-19 tanpa melindungi tenaga kesehatan terlebih dahulu," pungkasnya.
Total 5.000 Kasus Covid-19, RS di Korea Selatan Kehabisan Tempat Tidur
Salah satu negara di Asia yang terkena dampak terburuk Covid-19 adalah Korea Selatan. Saat ini di Negara Ginseng tersebut semakin banyak warga yang positif Covid-19.
Virus ini sangat cepat menyebar di seluruh negara. Dilaporkan oleh Today Online, pada Rabu (4/3) tercatat lebih dari 516 kasus baru virus corona di Korsel dengan jumlah keseluruhan saat ini mencapai 5.328 dan 32 kematian.
"Kami membutuhkan langkah-langkah khusus di saat darurat seperti ini," sebut Perdana Menteri Korea Selatan, Chung Sye-kyun, dalam sebuah pertemuan.
Rumah sakit di daerah paling terdampak, Daegu, disebut hampir kekurangan sumber daya. Lebih dari 2,300 pasien masih menunggu untuk dirawat di rumah sakit.
Presiden Korea, Moon Jae In, telah menyatakan sikap 'perang' terhadap virus tersebut. Memohon maaf atas kekurangan masker dan menjanjikan dukungan untuk usaha kecil yang terdampak akibat Covid-19.
https://cinemamovie28.com/cast/aleksandr-fursenko/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar