Hingga hari Kamis (11/6/2020), sudah 2.000 pasien yang terinfeksi virus Corona COVID-19 meninggal dunia. Jumlah tersebut sekitar 5,7 persen dari total kasus yang terkonfirmasi.
Juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona, Achmad Yurianto, mengatakan pada hari Kamis (11/6/2020), terdapat penambahan 979 kasus baru. Ini artinya total sudah ada 35.295 kasus yang terkonfirmasi.
"Dari contact tracing yang kita lakukan sering kali kita tidak bisa mengidentifikasi siapa yang kontak dekat dengan dia (pasien positif -red) karena berasal dari kerumunan. Kita lihat beberapa kejadian kerumuman masyarakat di pasar kemudian di tempat-tempat tertentu, ini yang memberikan ruang memungkinkannya proses penularan," kata Achmad Yurianto dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB.
Provinsi Jawa Timur (Jatim) jadi wilayah yang berkontribusi angka kematian terbanyak dengan 553 kasus per 11 Juni 2020. Berikutnya disusul DKI Jakarta dengan 537 kasus kematian dan kemudian Jawa Barat dengan 161 kematian.
Dari jumlah kasus yang terkonfirmasi, sebanyak 12.646 pasien atau sekitar 35,8 persen berhasil sembuh.
Kasus ABG Bunuh Bocah, Dokter Singgung Kerusakan Saraf Otak
Beberapa waktu lalu muncul kabar mengejutkan mengenai seorang remaja yang mengaku membunuh bocah berusia lima tahun di Jakarta Pusat. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, dari RS Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi, Bogor, mengatakan kekerasan adalah sebuah proses kompleks yang terjadi di otak. Ada beberapa penyebab perilaku kekerasan terjadi.
"Di dalam otak ada bagian top down dan bottom up yang berfungsi sebagai pembuat keputusan, kontrol diri dan pusat emosi. Kerusakan pada sirkuit saraf otak dapat menyebabkan kegagalan pada fungsinya mengontrol perilaku," katanya kepada detikcom.
Kerusakan pada sirkuit saraf di otak dapat menyebabkan terjadinya kegagalan pada dua area otak tersebut. Jika otak menjadi hiper responsif, ada pemicu sedikit saja bisa langsung memicu emosi.
"Ini semualah yg kemudian berujung pada terjadinya sebuah perilaku kekerasan/agresivitas," lanjut dr Lahargo.
Dijelaskan juga ada beberapa hal yang dapat menyebabkan sirkuit otak terganggu sehingga memunculkan perilaku kekerasan, di antaranya:
- Faktor genetik dalam keluarga dengan riwayat perilaku kekerasan
- Adanya tumor otak, trauma kepala
- Gangguan metabolik, penyakit fisik
- Pemakaian alkohol, narkoba
- Riwayat menjadi korban perlakuan kekerasan baik verbal, fisik, maupun seksual
- Menyaksikan perilaku kekerasan dalam kehidupan sehari hari di rumah atau lingkungan sekitar
- Menjadi korban bullying
- Paparan media mengenai kekerasan di film, games, tontonan youtube, TV, medsos, dan lain-lain
- Stresor psikososial dalam kehidupan sehari-hari
Bukan Menghindari Corona, Wanita Ini Malah Jilati Fasilitas Umum
Seorang presenter radio asal Swiss melakukan sesuatu hal yang aneh. Bukannya menghindar dari virus corona COVID-19 yang sedang mewabah, ia malah mencari keberadaanya. Ia menjilati berbagai fasilitas umum, seperti tempat sampah, tiang, mesin tiket, dan tombol yang ada di dalam bus.
Banyak orang yang merasa terganggu dengan perilaku wanita ini. Mereka mengatakan bahwa aksi tersebut tidak lucu, bahkan menjijikan.
"Anda benar-benar membuat saya jijik! Saya harap Anda dan radio Anda mendapat sanksi berat," tulis salah satu netizen yang dikutip dari Daily Star.
"Terlepas dari virus ini, apa yang kamu lakukan benar-benar menjijikkan. Dan lebih menjijikkan, karena orang lain harus menyentuh permukaan (yang dijilat) itu," ujar netizen lainnya.
Menanggapi hal itu, si presenter radio tersebut mengatakan bahwa sebelum menjilatnya, permukaan itu sudah steril. Ia sudah benar-benar membersihkannya sebelum melakukan aksinya itu.
"Itu semua sudah disanitasi dan aman," ujar presenter tersebut.
Tindakan ini ternyata merupakan salah satu kampanye dari radio Swiss agar lebih berhati-hati terhadap virus tersebut. Namun, aksi itu malah mendapat banyak komentar negatif.
https://indomovie28.net/cast/scott-yaphe/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar