Di tengah pandemi COVID-19, toko-toko sepeda di Kota Solo semakin ramai didatangi pengunjung. Bahkan antrean calon pembeli sudah terlihat di beberapa toko sebelum buka.
Seperti di Toko Rukun Makmur, Jalan Slamet Riyadi, Solo, pengunjung sudah antre 30 menit sebelum toko buka pukul 09.00 WIB. Pemandangan tersebut terlihat sejak awal-awal Solo berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB).
"Awal pandemi itu penjualan sempet turun drastis sampai sekitar 10 hari. Tapi setelah itu malah ramai," kata pemilik Toko Rukun Makmur, Meiko Rahadiwijaya, Kamis (11/6/2020).
Saat toko istirahat di siang hari pun pemandangan juga terlihat sama. Pengunjung tampak ramai menunggu toko buka kembali.
Sehari itu penjualan bisa 70-80 unit. Sekarang yang banyak dicari sepeda lipat
Saking ramainya, toko memberlakukan pembatasan pengunjung yang masuk. Hanya 20 hingga 25 orang yang boleh masuk ke dalam toko. Sisanya menunggu di luar.
"Kita imbau jaga jarak. Biasanya satu keluarga kan bawa anak, jadi orang. Saya imbau sebenarnya jangan ramai-ramai, makanya saya batasi," ujar dia.
Menurutnya, dalam sehari penjualan sepeda di tokonya mencapai 80 unit. Kebanyakan membeli sepeda di kisaran harga Rp 2 juta hingga Rp 5 juta.
"Sehari itu penjualan bisa 70-80 unit. Sekarang yang banyak dicari sepeda lipat," katanya.
Tak hanya di toko besar, tempat servis sepeda dan toko berskala kecil pun ramai didatangi pengunjung. Seperti di toko dan jasa servis sepeda Pak Min 2, Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo.
Pemilik toko, Andri Prasetyo, mengatakan sampai kewalahan melayani pengunjung. Dia bahkan sempat menutup jasa servis.
"Paling ramai itu setelah lebaran, ada yang beli sepeda, ada yang servis. Kita sempat buat tulisan tidak menerima servis karena memang ramai banget," ujar Andri.
Dia mengaku bersyukur, ketika banyak usaha kesulitan di tengah pandemi, justru tempat usahanya ramai.
"Padahal dulu biasa-biasa. Ramai hanya setelah lebaran. Tapi sekarang ramai terus, anak-anak sampai orang tua semua bersepeda," tutupnya.
Istilah OTG (Orang Tanpa Gejala) dan Penjelasan WHO
Ada beberapa istilah terkait dengan virus corona. Tidak hanya ODP, PDP, Suspect hingga Kluster tetapi juga OTG. Beberapa waktu lalu, Kemenkes menambahkan kategori kelompok orang tanpa gejala (OTG).
OTG adalah seseorang yang tidak bergejala dan memiliki risiko telah tertular dari orang yang konfirmasi covid-10. Dimana OTG memiliki kaitan erat dengan kasus konfirmasi atau pasien positif covid-19.
Namun baru-baru ini, sebuah penyataan kontroversial kembali dilontarkan oleh ilmuwan WHO. Kepala unit penyakit emerging dan zoonosis WHO, Maria Van Kerkhove menyebut penularan virus Corona COVID-19 pada orang tanpa gejala (OTG) tampaknya jarang terjadi.
Akan tetapi kurang dari 24 jam, WHO meluruskan pernyataan tersebut. Dijelaskan bahwa masih banyak hal yang tidak diketahui soal ini. Klarifikasi ini menyusul kritik dari berbagai kalangan mengenai penyataan bahwa penularan virus covid-19 pada orang tanpa gejala (OTG) corona jarang terjadi.
Van Kerkhove menjelaskan, penyataan tersebut bukan merupakan kebijakan WHO. Ia memberikan pernyataan tersebut semata-mata untuk menjawab sebuah pertanyaan 'kompleks' dan akhirnya memicu kesalahpahaman.
Menurutnya, istilah 'sangat jarang' ini merujuk pada sebuah subset penelitian dari beberapa data yang belum dipublikasi.
Sedangkan Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Mike Ryan mengatakan, masih banyak yang perlu dipelajari terkait penyebaran virus corona. Termasuk penularan virus dari orang tanpa gejala corona (OTG).
https://indomovie28.net/cast/darryl-wilson/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar