Rabu, 16 September 2020

Eksperimen Data Center Bawah Laut Microsoft Sukses

Pada 2018 lalu Microsoft bereksperimen dengan membuat data center yang ditenggelamkan di laut Skotlandia. Kini, data center tersebut akhirnya kembali naik ke permukaan.
Menurut Microsoft, data center yang merupakan bagian dari Project Natick tersebut dianggap sukses. Tingkat kegagalan di data center tersebut hanya seperdelapan dari data center yang ada di darat, dan itu adalah peningkatan yang drastis.

Hal ini cukup krusial karena jika sampai ada kerusakan di data center tersebut, maka perbaikannya akan sulit dilakukan karena tersimpan di dalam laut, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (16/8/2020).

Data centernya dianggap berhasil, meski awalnya terlihat aneh. Namun, dengan data center yang disimpan di bawah air itu, penggunaan energinya lebih irit karena suhunya lebih rendah.

Lalu data center yang ada di darat juga bisa mengalami masalah korosi atau karat dari kombinasi oksigen dan kelembaban. Namun karena data centernya disimpan di ruangan kedap udara di bawah air, temperatur dan kelembabannya bisa dijaga.

Selain itu, lokasinya pun bisa lebih fleksibel, utamanya untuk area yang berlokasi di dekat laut yang membutuhkan ketersediaan data center.

Microsoft sendiri mulai menjajaki ide membuat data center di bawah laut sejak 2015. Saat itu mereka menenggelamkan data center di pesisir California, Amerika Serikat selama beberapa bulan. Tujuannya adalah untuk mencari tahu apakah komputer bisa bertahan disimpan di bawah laut.

Kini tim Project Natick milik Microsoft itu punya target selanjutnya. Yaitu menunjukkan apakah server-server itu bisa mudah ditarik dan didaur ulang setelah masa pakainya habis.

Raksasa Teknologi China Berbondong ke Singapura, Kenapa?

 Singapura tampaknya ketiban untung setelah berbagai raksasa teknologi China memilih negara tetangga itu sebagai salah satu markas besar. Pertimbangannya adalah keunggulan Singapura, aksi agresif India dan Amerika Serikat pada aplikasi China serta memudarnya reputasi Hong Kong.
Setelah Alibaba Group Holding dan induk TikTok, ByteDance, berencana membangun pusat operasinya di Singapura, kini giliran Tencent menyusul. Manajemen Tencent telah berbicara dengan otoritas Singapura mengenai niat tersebut.

Seperti dikutip detikINET dari South China Morning Post, publisher PUBG Mobile dan aplikasi messaging WeChat itu tengah mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian operasi bisnis keluar China. Nah, Singapura pun menjadi tujuan mereka.

Para raksasa teknologi China memang belakangan makin melirik kawasan Asia Tenggara di saat Amerika Serikat, India dan beberapa negara lain kian ketat mengawasi mereka. India telah melarang PUBG besutan Tencent sampai TikTok karena alasan keamanan nasional. Sedangkan AS mengancam akan mencekal TikTok dan WeChat jika tidak dijual ke perusahaan setempat.

Adapun Asia Tenggara merupakan pasar besar dengan 650 juta pengguna smartphone sehingga amat potensial. Singapura khususnya menarik perhatian tidak hanya bagi perusahaan China, tapi jika perusahaan barat karena sistem keuangan dan hukum mereka yang maju.

Sebenarnya ada Hong Kong sebagai alternatif karena kawasan ini mirip dengan Singapura kemajuan maupun infrastukturnya. Akan tetapi Hong Kong dinilai makin tidak ramah di mana sering terjadi demonstrasi sebagai protes cengkeraman China yang makin kuat.

Sebelumnya, ByteDance telah berencana menggelontorkan beberapa miliar dolar ke Singapura dan membuka ratusan lapangan kerja dalam periode tiga tahun. Sementara Alibaba telah menghabiskan USD 4 miliar demi mengambil kontrol penuh Lazada, yang berbasis di Singapura.
https://cinemamovie28.com/white-house-down/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar