Gwyneth Paltrow merilis lilin beraroma area intim atau vagina pada awal 2020 kemarin. Kini salah seorang pekerjanya mengungkap kisah di balik pembuatan lilin tersebut.
"Untuk tim Goop, mencium aroma vagina Gwyneth adalah bagian dari keseharian kami di kantor," begitu kata kepala desainer dan merchandise dari Goop, Shaun Kearney.
Goop merupakan brand gaya hidup yang didirikan Gwyneth Paltrow pada 2008. Brand Goop menjual berbagai hal mulai dari baju, produk makeup, skincare hingga lilin beraroma aneh, salah satunya wangi Miss V.
Dalam wawancara dengan Closer, Shaun Kearney mengatakan, ada alasan kenapa Gwyneth Paltrow sampai melakukan hal ekstrem saat merilis sebuah produk. Menurutnya, sosok mantan istri Chris Martin itu adalah perwujudan dari brand Goop. "Oleh karena itu dia ingin memastikan keontetikan produk yang dirilisnya," kata Shaun.
Lilin beraroma intim yang dirilis Gwyneth Paltrow dinamai dengan nama yang juga kontroversoal. Lilin bernama 'This Smells Like My Vagina' itu dijual seharga US$ 75 atau sekitar Rp 1 jutaan.
Seperti apa aroma lilin This Smells Like My Vagina? Saat merilis lilin tersebut, aktris Avengers tersebut mengatakan lilin terbarunya memiliki campuran aroma geranium, citrus bergamot, cedar, mawar damask dan benih kapasan.
Gwyneth Paltrow pun menjelaskan alasannya merilis lilin beraroma Miss V. "Karena wanita selama ini diberitahu untuk malu dengan bagian tertentu tubuhnya. Jadi dengan menyalakan lilin bernama This Smells Like My Vagina ini, dan menaruhnya di meja, ini seperti sebuah pernyataan yang 'punk rock'," ujarmya.
Petaka Belanja Online, Tas Kulit Rp 280 Juta Dimusnahkan Petugas Bea Cukai
Malang betul nasib perempuan ini. Ia terpaksa merelakan tas seharga ratusan juta rupiah yang dibelinya secara online kepada petugas Bea Cukai Australia karena tak memiliki izin.
Tas tersebut diketahui berasal dari sebuah butik Saint Laurent di Prancis. Terbuat dari kulit buaya, nilai tas itu mencapai 26 ribu dolar Australia atau sekitar Rp 280 juta.
Setibanya di Perth, tas tersebut dilarang keluar dari bandara karena sang pembeli tak bisa menunjukkan izin resmi kepada petugas. Alhasil, tas mewah itu harus dimusnahkan. Demikian BBC mengabarkan, Jumat (4/9/2020).
Australia memberlakukan aturan ketat terkait impor barang-barang yang terbuat dari material seperti kulit buaya. Barang tersebut baru bisa masuk ke perbatasan Australia jika pengimpor memiliki izin yang dikeluarkan oleh pemerintah Australia lewat Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Adapun pembuatan izin menelan biaya 70 dolar Australia atau Rp 750 ribu.
Menteri Lingkungan Australia Sussan Ley menyatakan, kejadian yang dialami wanita tersebut seharusnya bisa menjadi peringatan keras bagi masyarakat agar berpikir dua kali sebelum membeli barang yang mengandung unsur hewani.
"Kita harus lebih bijak terhadap produk yang kita beli secara online mengingat pembatasan perdagangan produk hewan sangat penting demi melestarikan hewan-hewan yang terancam punah," kata Sussan.
Bagi mereka yang ketahuan melakukan impor secara ilegal, akan dikenakan denda senilai 222 ribu dolar Australia. Ancaman 10 tahun penjara juga menanti.
Pemerintah Australia mengatakan, sangat berkomitmen dalam mendeteksi kasus-kasus perdagangan produk binatang yang ilegal. Barang tersebut mencakup barang fashion, material bulu, hingga cendera mata untuk turis.
https://kamumovie28.com/bonus/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar