Senin, 25 Januari 2021

Keterisian Bed di Atas 77 Persen, Pasien Wisma Atlet Kini Tak Didominasi OTG

 Saat ini tingkat keterisian pasien di RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet terus mengalami fluktuasi. Sebelumnya, jumlah keterisian mencapai sekitar 80 persen, sedangkan saat ini menurun di angka 77,63 persen.

Jika dilihat dari jumlah hunian yang tersedia yaitu 5.994 tempat tidur, kini sudah terisi sebanyak 4.653 pasien. Jumlah ini juga tidak terlepas dari pasien-pasien yang dikirim dari puskesmas atau rumah sakit yang mengirim ke RS Darurat Corona Wisma Atlet ini.


Dilihat dari jumlah pasien ini, koordinator RS Darurat Wisma Atlet, Mayor Jenderal TNI dr Tugas Ratmono, SpS, mengungkapkan pasien Corona yang saat ini dirawat di sana lebih banyak dari kelompok yang bergejala atau simtomatik.


"Kami lihat, dulu tipenya (pasien) yang tanpa gejala itu lebih banyak daripada yang bergejala. Nah, belakangan ini malah yang bergejala lebih banyak dari yang tanpa gejala," jelas dr Tugas dalam siaran pers di kanal Youtube BNPB, Senin (25/1/2021).


Melihat ini, dr Tugas mengatakan harus mengambil sikap untuk mengantisipasi peningkatan jumlah pasien. Caranya, semua tower yang ada di Wisma Atlet yang berjumlah 4 tower akan digunakan untuk merawat pasien-pasien yang bergejala.


Sedangkan untuk yang bergejala ringan, bergejala ringan dengan penyakit komorbid, dan pasien tanpa gejala (OTG) akan dialihkan. Pasien-pasien tersebut akan dialihkan ke tower 8 dan 9 yang berada di Pademangan.


"Ini jadi suatu koordinasi atau strategi yang saat ini bisa membantu kami. Paling tidak, tidak mencapai angka yang lebih dari 80 persen di sana," kata dr Tugas.


"Langkah ini dilakukan supaya semua pelayanan (kesehatan) itu teratasi dengan baik, tenaga kesehatan tidak terbebani, walaupun angka 70-80 ini angka yang krusial dalam konteks memerlukan beban tenaga yang sangat tinggi," lanjutnya.

https://tendabiru21.net/movies/mba-married-by-accident/


Bima Arya Khawatir COVID-19 Kini Dianggap Seperti Penyakit Flu Biasa


Wali Kota Bogor, Bima Arya, mengakui bahwa tingkat kedisiplinan terhadap protokol kesehatan semakin rendah. Terlihat dari perbandingan reaksi masyarakat di awal masa pandemi dengan reaksi belakangan ini.

"Saya sering kali sedih dengan kondisi sekarang. Dulu bulan Maret-April ketika saya di RS, melihat keluar jalanan sepi. Padahal di Kota Bogor sendiri pertambahannya masih sedikit... Hari ini Kota Bogor sudah di atas 100 (kasus COVID-19) per hari, tetapi warganya bukan semakin disiplin malah sebaliknya," kata Bima dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Senin (25/1/2021).


Rasa jenuh terhadap pandemi dan fakta banyak pasien yang bisa sembuh dikhawatirkan membuat COVID-19 kini dianggap seperti penyakit flu biasa.


Padahal dengan semakin banyak kasus maka kejadian orang-orang kritis yang membutuhkan perawatan juga akan semakin bertambah. Pada akhirnya ada kemungkinan datang momen seorang pasien tidak mendapat perawatan yang dibutuhkan karena rumah sakit penuh.


"Saya mengkhawatirkan warga ini menganggap sudah seperti flu biasa. Sudah banyak lingkaran terdekatnya yang kena, sudah banyak yang sembuh, sehingga mereka kemudian menganggap 'ya sudah kena mah kena,'" lanjut Bima.


"Ini berbahaya. Karena kita tidak pernah tahu kita kebagian 'paket' yang mana. Bisa 'paket hemat/ringan' tanpa gejala yang seminggu sembuh. Atau banyak juga kasus yang sebetulnya berat sekali, beberapa hari saja kemudian meninggal karena virus loadnya tinggi," pungkas pria yang dulu diketahui sempat terinfeksi COVID-19 ini.


Bima sekali lagi mengingatkan bahwa kondisi darurat pandemi masih belum selesai. Jangan sampai rasa bosan jadi alasan untuk lalai.

https://tendabiru21.net/movies/make-money/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar