Sabtu, 04 Juli 2020

Peneliti Klaim Vaksin COVID-19 Bisa Hasilkan Kekebalan Bertahun-tahun

Peneliti vaksin virus Corona COVID-19 mengatakan kemungkinan kekebalan yang dihasilkan vaksin Corona nantinya bisa bertahan hingga beberapa tahun.
"Vaksin punya cara yang berbeda untuk berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh. Kami pun mengikuti orang-orang yang terlibat dalam studi kami menggunakan jenis teknologi yang sama untuk membuat vaksin selama bertahun-tahun, dan respon imun yang terlihat masih kuat," kata Profesor Gilbert, yang dikutip dari Daily Star, Jumat (3/7/2020).

"Hal ini masih harus terus diuji sampai kami mendapat data yang benar. Tetapi, kami optimis bisa mendapatkan durasi kekebalan yang bagus berdasarkan penelitian sebelumnya, setidaknya untuk beberapa tahun," lanjutnya.

Profesor Gilbert mengatakan kekebalan yang didapat dari vaksin ini mungkin akan jauh lebih baik, dibandingkan imunitas yang didapatkan secara alami oleh tubuh. Ia pun berharap vaksin ini bisa segera tersedia dan menyelamatkan masyarakat di Inggris

Ketua gugus tugas vaksin di Inggris, Kate Bingham, juga berharap vaksin tersebut bisa tersedia di awal tahun depan. Ia pun menambahkan mungkin vaksin Oxford menjadi salah satu vaksin dengan hasil yang efektif.

Ada Lebih dari 70.000 Kasus DBD di RI, Penanganannya Terhambat Corona

Kasus penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) kian meningkat di tengah pandemi Corona. Bahkan, menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, saat ini sudah ada lebih dari 70 ribu kasus DBD di Indonesia.
"Kasus DBD di Indonesia minggu dari minggu ke 1 sampai dengan minggu ke 27 dari tahun 2020 jumlah kasus DBD lebih dari 70.000 kasus. Kasusnya tersebar di 34 provinsi dan 465 kabupaten/kota dengan jumlah kematian hampir 500 orang," kata anggota tim komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro, lewat siaran BNPB, Jumat (3/7/2020).

Tak hanya itu, kasus penularan DBD pun mayoritas terjadi di wilayah yang juga memiliki kasus COVID-19 di Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Lampung, dan Sulawesi Selatan.

dr Reisa menjelaskan, penyebab utama dari tingginya kasus penularan DBD adalah terhambatnya penanganan penyakit ini akibat pembatasan kegiatan di masyarakat selama pandemi Corona berlangsung.

"Di situasi pandemi ini, para petugas kesehatan yang biasanya memantau DBD dalam sistem door to door mendistribusikan larvasida kepada penduduk yang juga dikenal sebagai juru pemantau jentik atau jumantik menyebabkan kinerjanya terhambat selama pandemi," jelasnya.

"Kewajiban kebersihan yang biasanya rutin dilakukan satu bulan sekali terhambat karena pembatasan kegiatan masyarakat akibat merebaknya COVID-19," pungkasnya.

Kasus Baru Virus Corona Tambah 1.301 Per 3 Juli, Ini Sebarannya

 Indonesia kembali mengumumkan adanya penambahan kasus baru virus Corona COVID-19. Saat ini sebanyak 1.301 kasus baru positif sehingga total ada 60.695 kasus. Hingga Jumat (3/7/2020), ada sebanyak 27.568 pasien sembuh dan 3.036 meninggal dunia.
"Untuk hari ini kasus positif sebanyak 1.301 orang, sehingga akumulasinya menjadi 60.695 orang," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona COVID-19, Achmad Yurianto, Jumat (3/7/2020).

Berikut detail sebaran virus Corona di Indonesia per 3 Juli:

Aceh: 1 kasus

Bali: 66 kasus

Banten: 21 kasus

Bengkulu: 6 kasus

DI Yogyakarta: 4 kasus

DKI Jakarta: 140 kasus

Jawa Barat: 28 kasus

Jawa Tengah: 134 kasus

Jawa Timur: 353 kasus

Kalimantan Timur: 13 kasus

Kalimantan Tengah: 50 kasus

Kalimantan Selatan: 110 kasus

Kepulauan Riau: 3 kasus

Nusa Tenggara Barat: 23 kasus

Sumatera Selatan: 36 kasus

Sumatera Barat: 10 kasus

Sulawesi Utara: 19 kasus

Sumatera Utara: 33 kasus

Sulawesi Tenggara: 11 kasus

Sulawesi Selatan: 180 kasus

Riau: 4 kasus

Maluku Utara: 10 kasus

Maluku: 7 kasus

Papua Barat: 5 kasus

Papua: 26 kasus

Sulawesi Barat: 1 kasus

Gorontalo: 5 kasus
https://indomovie28.net/god-of-gamblers/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar