Nama seorang pelajar asal Kabupaten Gunungkidul mendadak viral karena unik. Pasalnya, namanya adalah Dita Leni Ravia, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, memiliki makna 'diikat menggunakan tali rafia'.
Perempuan yang kerap disapa Leni (17) ini membenarkan nama lengkapnya adalah Dita Leni Ravia. Menurutnya, nama tersebut pemberian ibunya.
Nama merupakan pemberian dari orang tua untuk anaknya, yang di dalamnya tersingkap doa dan harapan. Namun, bagaimana jadinya bila nama anak memiliki arti tertentu yang memancing olok-olok?
Veronica Adesla, seorang psikolog klinis dari Personal Growth, mengatakan potensi bullying terhadap nama seseorang mungkin saja terjadi. Terlebih jika memiliki kandungan makna tertentu yang dianggap negatif.
Akan tetapi, menurut Veronica semua tergantung dari respons masing-masing orang individu. Termasuk dalam kasus nama unik yang viral tersebut.
"Ketika kita besar, kita tentu perlu berpikir secara rasional dalam menyikapi bila terjadi bullying. Yang pertama adalah pahami dan ingat kembali makna di balik nama yang diberikan orang tua. Bila tidak tahu, maka bertanyalah pada orangtua," saran Vero.
"Yang kedua, bersikaplah asertif. Bila memang merasa terganggu, sampaikan bahwa kamu tidak menyukai perilaku tersebut dan minta untuk tidak diulang kembali," pungkasnya.
Punya pengalaman dibully karena nama unik? Ceritakan di komentar ya.
WHO: Angka Kematian Virus Corona Bisa Naik Lagi, Ini Alasannya
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai angka kematian Corona di dunia mulai meningkat lagi di kala puncaknya disebut terjadi pada April lalu. Sementara bulan Juni, banyak kasus yang terkonfirmasi positif sedangkan angka kematian Corona menurun.
"Seharusnya tidak menjadi 'kejutan' jika angka kematian global virus Corona mulai meningkat lagi. Untuk bulan Juni, dilaporkan kasus COVID-19 di seluruh dunia telah meningkat sementara korban jiwa telah menurun," jelas Dr Mike Ryan, direktur eksekutif program darurat WHO, mengatakan pada konferensi pers di kantor pusat Jenewa, Selasa, dikutip dari CNBC International.
Namun, para pejabat WHO memperingatkan bahwa ada jeda antara meningkatnya kasus Corona dengan angka kematian yang tinggi. Butuh berminggu-minggu setelah terinfeksi virus Corona untuk mengidap gejala parah dan berpotensi meninggal akibat virus Corona.
"Beberapa di antaranya mungkin keterlambatan, kita mungkin melihat kematian mulai naik lagi karena kita hanya benar-benar mengalami peningkatan yang cepat dalam kasus selama lima hingga enam minggu terakhir," kata Ryan.
"Aku tidak berpikir itu akan menjadi kejutan jika kematian mulai meningkat lagi. Ini akan sangat disayangkan, tetapi itu mungkin terjadi," lanjut Ryan.
Virus Corona telah menewaskan lebih dari 538.700 orang di seluruh dunia dan setidaknya 130.300 di Amerika Serikat (AS), menurut data Universitas Johns Hopkins.
"Jika Anda membayangkan bahwa di suatu tempat di bulan April dan Mei kami menangani 100.000 kasus per hari, hari ini kami menangani 200.000 kasus per hari, dan itu bukan murni hasil pengujian," kata Ryan.
Ryan menambahkan, bagaimanapun, bahwa ada kemajuan dalam merawat pasien virus Corona dalam menerima pengobatan dengan cepat. Beberapa obat, seperti dexamethasone telah efektif merawat pasien Corona dengan gejala parah dan ketika pengujian meningkat, jumlah kematian menjadi proporsi yang lebih kecil dibandingkan dengan kasus positif Corona.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa sementara kematian global menunjukkan tanda-tanda naik turun, tetapi tidak dapat diartikan hal tersebut sebagai penanganan pandemi Corona sudah terkendali.
"Leveling dari jumlah kematian secara global adalah karena beberapa negara telah memiliki kasus Corona sebelumnya, tetapi di banyak negara kasus Corona justru sedang meningkat," kata Tedros.
https://kamumovie28.com/star/nam-tae-boo/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar