Senin, 14 September 2020

Kisah Pria 6 Bulan Berjuang Lawan Corona, Gejala Tak Kunjung Hilang

Seorang pria berusia 27 tahun masih belum pulih setelah terinfeksi virus Corona sejak enam bulan lalu. Ia menjadi salah satu dari 600 ribu orang yang mengalami efek jangka panjang virus Corona COVID-19.
Pria bernama Charlie Russell ini terinfeksi Corona pertama kalinya pada Maret 2020 lalu. Di hari ke-182, kondisinya masih belum pulih dan tidak bisa melakukan hal-hal yang umumnya orang lakukan, seperti berlari seperti biasa, pergi ke klub, bahkan bekerja.

"Jika saya tahu bahwa saya akan sesakit ini, saya akan menganggap semuanya (tentang virus) jauh lebih serius di bulan Maret," kata Russell, dikutip dari The Guardian, Senin (14/9/2020).

"Tetapi semua yang kami dengan saat itu adalah, jika kamu terinfeksi dan kamu masih muda, kemungkinan besar tidak memiliki gejala sama sekali. Atau hanya akan sakit selama beberapa minggu saja," imbuhnya.

Namun sampai saat ini, Russell masih mengalami nyeri dada, migrain yang menyiksa, sesak napas yang parah, pusing dan kelelahan yang termasuk dalam gejala jangka panjang akibat virus Corona.

Sebelum sakit, Russell bekerja sebagai fotografer khusus drama atau teater. Tetapi, ia sudah tidak bekerja usai sakit karena Corona sejak 14 Maret 2020 lalu.

Saat terinfeksi, ia sakit selama dua minggu dan sempat membaik. Sampai akhirnya Russell mengalami nyeri dada yang mengerikan.

Rasanya seperti seseorang sedang duduk di atas saya," ujarnya.

Setelah merasakan gejala tersebut, dokter memerintahkan dirinya untuk melakukan tes antibodi, memastikan bahwa Russell terinfeksi virus atau tidak. Sampai akhirnya Russell menjadi salah satu dari 500 pasien yang berperan dalam uji klinis terkait dampak COVID-19.

"Saat orang menolak untuk memakai masker atau bahkan untuk mematuhi aturan jarak sosial, itu sangat, sangat, sangat membuat frustasi. Saya hanya ingin menyadarkan mereka dan berkata 'saya sudah hidup dengan ini (virus) selama enam bulan'," tegas Russell.

"Saya rasa banyak anak muda berpikir jika virus ini tidak mempengaruhi dirinya secara langsung, hampir tidak sama sekali. Teman-teman saya masih pergi ke klub, pergi makan malam, dan tidak menganggapnya serius. Saya mengkhawatirkan mereka," sambungnya.

Kata Pakar Soal Dugaan Virus Corona Menular Lewat Makanan

Sebelumnya sebuah studi menemukan jejak Corona pada makanan beku. Sebenarnya bisa tidak sih virus Corona menular lewat makanan?
Sejumlah peneliti meragukan kemungkinan akan penularan virus Corona COVID-19 dari makanan. Makanan dinilai sangat tidak mungkin menjadi sumber kontaminasi infeksi virus Corona COVID-19.

The International Commission on Microbiological Specifications for Foods (ICMSF) mengatakan bahwa bukti bahwa virus Corona bisa mengkontaminasi makanan atau kemasan sangat sedikit.

Temuan tersebut selaras dengan laporan sebelumnya dari Food and Drug Administration (FDA) yang menyebutkan bahwa tidak ada risiko nyata terinfeksi virus Corona COVID-19 dari makanan atau kemasannya.

"Sampai saat ini, belum ada bukti bahwa makanan, kemasan makanan, atau cara penanganan makanan menjadi sumber atau jalur penularan COVID-19," tulis ICMSF, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari laman CNN.

ICMSF mengajak masyarakat agar tetap tenang. Mereka mengatakan, tidak ada makanan yang harus dianggap sebagai risiko penularan COVID-19.

"Meski kemungkinan orang bisa makan sesuatu yang terkontaminasi virus Corona itu ada, tapi kami tak pernah melihat kasus seperti itu," tambah ICMSF.

Meski demikian, masyarakat tetap diajak untuk selalu menerapkan praktik kebersihan makanan yang baik.

Kekhawatiran atas penularan COVID-19 melalui makanan dimulai pada bulan Maret 2020 lalu. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada New England Journal of Medicine menemukan virus Corona COVID-19 dapat terdeteksi pada sejumlah jenis permukaan dalam beberapa lama.
https://cinemamovie28.com/captain-sabertooth-and-the-magical-diamond/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar