Ilmuwan China secara sembunyi-sembunyi telah menemukan strain baru virus Corona 7 tahun lalu, mirip SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Investigasi The Sunday Times menyebut virus tersebut disimpan di sebuah lab di Wuhan.
Strain ini ditemukan di sebbuah tambang tembaga di barat daya China. Diyakini sebagai petunjuk terkuat untuk mengungkap kapan sebenarnya pandemi bermula.
Pada 2012, 6 orang dilaporkan mengalami demam, batuk dan pneumonia usai bekerja di tambang. Separuh di antaranya fatal.
Disebutkan, hasil tes antibodi menunjukkan 4 di antaranya positif. Sedangkan dua lainnya meninggal sebelum tes dilakukan.
Dr Shi Zhengli yang dijuluki 'wanita kelelawar' oleh koleganya di Wuhan Institute of Virology (WIV) pada Februari menulis laporan akademis paling luas pada saat itu.
Laporan yang dipublikasikan di Nature mengungkap bahwa WIV memiliki sampel dari kelelawar yang dinamakan RaTG13. Deskripsi genetik menyebut ada 96,2 persen kemiripan dengan COVID-19.
Kabar ini terungkap setelah pada April lalu presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan punya kepercayaan diri tingkat tinggi bahwa COVID-19 berasal dari WIV. China telah melakukan investigasi terkait klaim ini.
Pada 1 dari 10 Pasien Corona, Indra Perasa dan Penciuman Hilang Permanen
Satu dari 10 pasien virus Corona disebut kehilangan indra perasa dan penciuman secara permanen. Gangguan pada indra perasa dan penciuman ini dikenal sebagai anosmia dan termasuk gejala virus Corona COVID-19 yang diakui secara resmi.
Gejala virus Corona terkait gangguan indra perasa dan penciuman sering disebut sebagai tanda awal seseorang terinfeksi Corona. Namun, baru-baru ini sebuah penelitian menyebut gejala Corona ini bisa dialami secara permanen.
Para peneliti mensurvei 187 warga Italia positif Corona tetapi tidak dirawat di rumah sakit. Peserta diminta untuk menilai perkembangan kemampuan indra penciuman dan perasa mereka sendiri ketika pertama kali sejak dinyatakan positif Corona.
Hasil yang dipublikasikan dalam JAMA Otolaryngology menemukan bahwa 113 peserta melaporkan perubahan serius terkait indra penciuman dan perasa mereka saat mengidap virus Corona. 55 orang di antaranya dilaporkan pulih dari gejala Corona tersebut. Sementara 46 orang lainnya mengatakan kemampuan indra pencium dan perasa mereka jauh membaik sejak pertama kali dinyatakan positif Corona.
Namun, ada 12 orang mengaku mereka masih mengalami gangguan indra perasa dan penciuman bahkan semakin parah. Mereka yang melaporkan gejala parah mengatakan perlu waktu lebih lama untuk pulih kembali.
Para peneliti memperingatkan bahwa ribuan pasien virus Corona yang pulih dapat menghadapi kehilangan kemampuan untuk mencium atau merasakan sesuatu dalam jangka panjang. Dr Joshua Levy, seorang spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Emory, mengatakan ada 'intervensi yang sangat rendah' untuk pasien yang mengalami anosmia.
"Banyak pasien Corona yang mungkin untuk pengobatan gejalanya tidak terselesaikan," tulis Dr Joshua, dikutip dari Daily Star.
"Mereka yang belum pulih harus mempertimbangkan untuk menjalani 'pelatihan penciuman' demi melatih kembali kemampuan penciuman mereka. Diyakini beberapa orang mengidap anosmia sebagai gejala virus Corona karena virus tersebut telah merusak saraf yang mempengaruhi indra penciuman," lanjut Dr Joshua.
https://cinemamovie28.com/cast/teun-kuilboer/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar