Otoritas kesehatan nasional China mengatakan pada Senin (11/1/2020), tim ahli internasional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertugas menyelidiki asal-usul virus Corona COVID-19 akan tiba di China pada 14 Januari.
"Tim WHO akan melakukan kerja sama penelitian tentang asal-usul COVID-19 dengan para ilmuwan China," jelas Komisi Kesehatan Nasional China dalam sebuah pernyataan dikutip dari laman Channel News Asia pada Selasa, 12 Januari 2021.
Namun, komisi tersebut tidak menjelaskan secara detail jadwal perjalan tim WHO ke China yang beranggotakan 10 orang tersebut.
Saat tiba di China, tim peneliti akan menjalani karantina COVID-19 selama dua minggu, dan disebut akan mengunjungi Wuhan dalam perjalanan mereka.
Beberapa negara seperti Australia dan Amerika Serikat (AS) telah menyerukan penyelidikan independen tentang asal-usul COVID-19. Pihak Australia telah mendesak pemerintah China untuk segera memberi akses tim peneliti WHO untuk masuk ke negaranya.
Sementara, AS menyerukan agar penyelidikan yang dipimpin WHO dapat dilakukan dengan transparan. AS juga mengkritik ketentuan-ketentuan WHO, yang memungkinkan para ilmuwan China untuk melakukan tahap pertama penelitian.
Menjelang datangnya tim peneliti tersebut, Beijing dianggap telah berusaha membentuk narasi tentang kapan dan di mana pandemi COVID-19 dimulai. Menteri Luar Negeri China Wang Yi, mengatakan, 'semakin banyak penelitian' menunjukkan bahwa Virus Corona itu muncul di berbagai wilayah.
COVID-19 saat ini diketahui telah menyebar ke berbagai negara di dunia. Berdasarkan data dari Worldometers per Selasa (11/1/2020, kasus positif COVID-19 secara global telah mencapai 90.687.987. dengan 1.943.090 kasus kematian.
https://nonton08.com/movies/the-guys-2/
Efikasi 94 Persen, Vaksin Corona Moderna Diklaim Bikin Kebal COVID-19 Setahun
Vaksin Corona buatan Moderna disebut bisa memberikan kekebalan terhadap COVID-19 selama setahun, kata Chief Executive Officer (CEO) Moderna Inc, Stéphane Bancel.
Dikutip dari Reuters, perusahaan bioteknologi tersebut yakin bahwa teknologi baru yang digunakan dalam pengembangan vaksin COVID-19 Moderna yakni mRNA mampu mengatasi varian baru Corona yang telah muncul di beberapa negara.
Moderna menggunakan metode mRNA sintetis untuk meniru permukaan Virus Corona dan mengajari sistem kekebalan untuk mengenali dan menetralkannya.
Perusahaan tersebut berharap mampu mengirimkan 600 juta hingga 1 miliar dosis vaksin COVID-19 Moderna pada 2021. Moderna Inc juga memerkirakan penjualan vaksin Corona buatan mereka mencapai US$ 11,7 miliar untuk tahun ini, berdasarkan perjanjian pembelian di muka yang telah ditandatangani pemerintah.
"Tim merasa sangat nyaman dengan rekam jejak yang kami miliki sekarang bahwa kami berada di jalur yang tepat untuk memberikan setidaknya 600 juta dosis," kata Stephane.
Sebelumnya vaksin Corona Moderna disebut memiliki efikasi sebesar 94 persen. Vaksin Moderna juga tidak menimbulkan masalah keamanan yang akan mencegah badan memberikan otorisasi penggunaan darurat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar