Pandemi COVID-19 sudah berlangsung setahun dan masih dibutuhkan peranan masyarakat untuk menuntaskan ini. Berikut caranya dari segi psikologis.
Psikolog klinis dan forensik Kasandra Putranto menjelaskan bahwa pergeseran sebenarnya memang selalu terjadi.
"Sebenarnya dengan atau tanpa pandemi telah terjadi pergeseran, artinya sudah ada perubahan baik dari ekonomi, IT, teknologi dan dengan kebutuhan masyarakat yang selalu berkembang. Jadi memang ada perubahan perilaku ya," ujarnya dalam acara 'Gojek Transport Outlook 2021: Makin Aman dengan GoRide dan GoCar', Kamis (14/1/2021).
Namun dari sisi psikologi, dengan adanya pandemi, perubahan ini lebih banyak terpicu. Ini dikarenakan transformasi dunia membuat masyarakat lebih membutuhkan hal-hal yang bisa memberikan jaminan dan rasa aman.
"Dari penelitian terhadap kejadian pandemi, ada tiga hal yang harus diperhatikan," ucap Kasandra.
1. Memutus rantai penyebaran (3M)
Ia mengatakan diperlukan kreativitas dan dorongan individu untuk berupaya menghentikan penyebaran SARS-CoV-2 atau virus corona.
"Sudah ada perkembangan dan inovasi yang dilakukan oleh Gojek dan secara keseluruhan. Tapi saya juga tahu kalau mitra Gojek punya ide individual yang tujuannya pun sama, memutus rantai penyebaran," tutur Kasandra.
2. Rantai kehidupan manusia tidak terputus
"Kita harus memastikan komunitas kita, masyarakat kita tetap bisa tersambung rantai kehidupannya dengan kepastian ekonomi. Masyarakat Indonesia itu sangat kreatif dengan tetap berusaha dan selalu menjalankan protokol kesehatan, ini menjadi tanggung jawab kita bersama," sarannya.
Namun ia cukup optimistis melihat kepedulian masyarakat yang terlihat. Salah satunya dengan pemberian tip yang berdasarkan data juga ternyata mengalami kenaikan.
3. Menjaga diri dari hoax
"Kelihatannya remeh tapi penting, kita harus mempertahankan diri dari hoax dan fitnah. Ketika mobilitas turun, karena ada yang work from home, tapi di rumah justru lebih banyak menonton media sosial yang memberikan informasi kurang tepat," katanya.
Sebagai psikolog klinis, Kasandra mengimbau masyarakat untuk tidak menyerap begitu saja dan bertanggung jawab terhadap berita yang diterima atau disebarkan. Apalagi bila berita tersebut menimbulkan kecemasan yang mana berperan dalam penurunan imunitas. Padahal kita ketahui, ketika imunitas turun, kesempatan untuk terpapar virus atau patogen menjadi lebih tinggi.
"Apabila ingin menyelesaikan masalah pandemi, kita tahu sendiri dari Maret 2020 menjalani yang disebut PSBB ketat, PSBB transisi dan lainnya, pada dasarnya ini tiga hal yang harus dilakukan," tegasnya.
https://kamumovie28.com/movies/rafathar/
Hijrah ke Telegram, Migrasi Digital Terbesar Sepanjang Masa!
Pendiri dan CEO Telegram, Pavel Durov, kembali angkat bicara soal melesatnya angka download layanannya itu secara signifikan. Bahkan pria kelahiran Rusia ini menyebutnya sebagai migrasi digital terbesar yang pernah terjadi selama ini.
"Sejak postingan terakhir saya, gelombang masif user baru yang sudah terjadi ke Telegram terus berakselerasi. Kita mungkin saja menyaksikan migrasi digital terbesar dalam sejarah manusia," tulis Durov di akun Telegram-nya.
Sejak kebijakan privasi baru di WhatsApp bikin cemas user, Telegram dan juga Signal memang ketiban berkah dengan jutaan user anyar bergabung memakai aplikasi mereka. Durov pun memanfaatkan momentum ini untuk terus mempromosikan Telegram.
Menurutnya baru-baru ini, dua presiden mulai membuka channel Telegram, yaitu Presiden Brasil yang beralamat di @jairbolsonarobrasil serta Presiden Turki di alamat @RTErdogan.
Menurut Durov, sebelumnya sudah ada cukup banyak kepala negara ada di Telegram. Misalnya Perdana Menteri Singapura, Presiden Perancis, Presiden Taiwan sampai Perdana Menteri Israel. Akun milik mereka telah terverifikasi.
"Kami merasa terhormat bahwa pemimpin politik, dan juga banyak organisasi publik, bergantung pada Telegram untuk melawan misinformasi dan menyebarkan kesadaran tentang isu-isu penting di masyarakat mereka," cetus Durov.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar