Aplikasi medsos Parler di Amerika Serikat tak diberi tempat di Google Play Store, App Store, dan Amazon karena dianggap menjadi penyebar kebencian dan kekerasan. Para pendukung Donald Trump pengguna Parler bedol desa ke medsos lain.
Usai Parler Tumbang, aplikasi jejaring sosial lain yang dianggap bisa mewadahi kebebasan berpendapat diserbu pengguna. Melansir TechCrunch, Selasa (12/1/2021), aplikasi seperti MeWe dan Clouthub mencatatkan peningkatan jumlah unduhan signifikan setelah Parler didepak dari tiga vendor besar tersebut.
MeWe telah beroperasi sejak 2012. Berdasarkan data Apptopia, secara keseluruhan aplikasi ini telah didownload sebanyak 16 juta kali di berbagai platform.
Sejak momen pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) pada Oktober hingga November 2020, terpantau ada peningkatan signifikan jumlah pengunduh MeWe. Aplikasi ini dipilih oleh pengguna -disinyalir banyak pendukung Donald Trump- yang merasa dibatasi aktivitasnya oleh media sosial mainstream seperti Facebook dan Twitter.
Mereka aktif menyebarluaskan suara dukungan untuk Trump hingga argumen soal kecurangan di Pilpres Mengutip TechCrunch, pihak MeWe menyatakan sejak Parler diblokir dari Play Store, AppStore, dan Amazon, mereka kedatangan sekitar 1 juta pengguna baru dari lintas platform.
Bahkan, per Senin (11/1), MeWe mencatat rata-rata 20 ribu pengguna baru masuk setiap jamnya. Banyaknya pengunduh MeWe membuat aplikasi tersebut masuk ke peringkat 10 besar top charts AppStore AS. Pada Minggu (10/1), MeWe menduduki peringkat 7 kategori aplikasi gratis di Play Store AS.
Aplikasi lain yang naik daun usai Parler tumbang, yakni Clouthub. Aplikasi yang baru beroperasi pada Januari 2019 ini muncul sebagai jejaring sosial untuk bersosialisasi dan membina jaringan politik. Mereka mengusung misi bisa membuat aspirasi semua orang didengar.
Sejak Rabu (6/1) Apptopia mencatat eskalasi jumlah pengunduh Clouthub yang signifikan. Dalam kurun waktu sepekan, ada 31 ribu lebih pengundung Clouthub yang diperkirakan mencari alternatif untuk mengeluarkan aspirasi setelah FB dan Twitter memperketat fitur moderasinya pasca kerusuhan di Gedung Capitol.
Kedatangan banyak pengguna baru membuat Clouthub kewalahan. Techcrunch melaporkan proses signup dan login ke aplikasi ini sering kali mengalami connection timeout. Adapun pada Senin (11/1), Clouthub bercokol di posisi 11 chart AppStore AS kategori aplikasi gratis.
https://trimay98.com/movies/the-proposal/
Antara Signal dan Telegram Mana yang Lebih Aman?
WhatsApp belum lama ini mengenalkan kebijakan privasi baru yang dinilai kontroversial. Banyak pengguna WhatsApp yang memprotes kebijakan tersebut dan ramai-ramai mencari aplikasi messaging alternatif.
Saat ini ada dua aplikasi yang menjadi tujuan hijrah utama pengguna WhatsApp yaitu Telegram dan Signal. Keduanya sama-sama mengandalkan privasi dan keamanan sebagai fitur.
Tapi, seberapa aman Telegram dan Signal dibandingkan dengan WhatsApp? Setelah sebelumnya mengulik jumlah data yang dikumpulkan lima aplikasi messaging populer, kali ini kita akan mengulas fitur keamanan Telegram dan Signal secara lebih mendalam.
Telegram
Mengutip The Next Web, Rabu (13/1/2021) salah satu fitur andalan Telegram adalah pengguna yang ingin menambahkan pengguna lain hanya perlu menggunakan username, tidak perlu memberikan nomor teleponnya.
Jika melihat kebijakan privasinya, Telegram mengumpulkan nomor telepon dan kontak pengguna saat mendaftar pertama kali. Selain itu, mereka juga bisa mengakses username dan foto profil pengguna, serta data perangkat dan alamat IP untuk moderasi konten.
Jika pengguna menggunakan two-factor authentication lewat email, Telegram juga akan merekam data tersebut. Tapi aplikasi buatan Pavel Durov ini mengatakan data tersebut tidak digunakan untuk menampilkan iklan ke pengguna.
Perlu diketahui bahwa Telegram adalah layanan messaging berbasis cloud. Artinya, pengguna bisa mengakses akun yang sama di banyak perangkat sekaligus dan semua percakapannya selalu tersinkronisasi, tidak seperti WhatsApp.
Meski Telegram menggunakan enkripsi client-to-server, tapi percakapan di dalamnya tidak dilindungi enkripsi end-to-end secara default. Artinya, secara teknis siapapun yang bisa mengakses server Telegram bisa membaca percakapan pengguna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar