Jumat, 08 Januari 2021

Soal Reaksi Alergi Parah Pasca Vaksinasi COVID-19, CDC: Sangat Jarang

 Pejabat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan, reaksi alergi yang parah pasca vaksinasi COVID-19 yang disebut anafilaksis memang bisa terjadi. Tetapi, kasusnya masih sangat jarang.

Menurut direktur Pusat Nasional untuk Imunisasi dan Pernapasan CDC Dr Nancy Messonnier, CDC telah mendokumentasikan 21 kasus yang dikonfirmasi dari reaksi alergi parah setelah vaksinasi COVID-19. Reaksi alergi yang terjadi rata-rata mencapai tingkat 11,1 reaksi parah per satu juta dosis yang diberikan.


Kebanyakan orang yang mengalami gejala tersebut 15 menit setelah vaksinasi. Beberapa pasien juga memiliki riwayat alergi atau reaksi alergi terhadap produk medis, makanan, dan sengatan serangga.


Sebagai perbandingan, pasien yang mengalami anafilaksis saat diberikan vaksin flu mencapai 1,3 per 1 juta dosis. Namun, Messonnier mencatat tingkat reaksi alergi parah dari vaksin COVID-19 bisa 10 kali lebih tinggi, tapi ia yakin itu masih sangat jarang.


Beberapa waktu lalu, sebagian kasus alergi parah terjadi pada para penerima vaksin Corona yang dikembangkan oleh Moderna dan juga Pfizer-BioNTech. Namun, mereka tidak bisa memastikannya karena belum memiliki cukup data.


"Saat ini, kami benar-benar tidak memiliki cukup data untuk mengatakan adanya perbedaan risiko (antara vaksin Pfizer dan Moderna), itulah mengapa rekomendasi kami berlaku untuk kedua vaksin tersebut," jelasnya yang dikutip dari Fox News, Kamis (7/1/2021).


Para pejabat CDC berulang kali menekankan, manfaat potensial dari vaksinasi COVID-19 lebih besar daripada risiko serius yang muncul akibat penyakit COVID-19.


"Namun, tidak berarti bahwa kami tidak bisa melihat potensi kejadian kesehatan yang serius di masa depan," ujar Messonnier.


"Ada upaya luar biasa yang sedang dilakukan saat ini untuk memahami apa yang mungkin jadi penyebab reaksi alergi parah ini dengan kedua vaksin itu. Ada banyak hipotesis tentang hal itu," imbuhnya.


CDC menegaskan, hal yang terpenting adalah jika terjadi reaksi langsung atau alergi terhadap dosis pertama Pfizer atau vaksin Moderna tidak diperbolehkan menerima dosis kedua. Hal ini juga berlaku untuk mereka yang alergi terhadap bahan-bahan yang terkandung dalam vaksin tersebut.

https://nonton08.com/movies/the-lady-in-the-car-with-glasses-and-a-gun/


Satgas COVID-19: Jika PPKM Tidak Berlaku, Masyarakat akan Sulit Dapat RS


Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Pulau Jawa-Bali akan berlaku pada 11 Januari 2020 selama dua pekan ke depan. Ini dilakukan demi menekan jumlah kasus penularan virus Corona COVID-19.

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, mengatakan jika 'rem' ini tidak dilaksanakan, maka dikhawatirkan banyak orang akan kesulitan untuk mencari fasilitas pelayanan di rumah sakit.


"Bisa saja bed-nya itu ada, tapi SDM-nya ini yang nggak ada, karena untuk memiliki dokter yang jumlahnya banyak itu sulit, apalagi jumlah kematian dokter juga semakin tinggi," kata Wiku dalam konferensi pers BNPB pada Kamis (7/1/2021).


"Jadi kalau nggak direm, maka masyarakat nggak akan dapat fasilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit, bed-nya bisa ada, tetapi tidak ada SDM-nya," lanjutnya.


Sebelumnya, Wiku menjelaskan bahwa saat ini sudah banyak rumah sakit di Pulau Jawa-Bali yang tingkat keterisiannya sudah di atas 70 persen, baik di ruang isolasi maupun ICU.


"Sekarang rata-rata sudah di atas 70 persen di banyak daerah dan ini sangat berbahaya," ujarnya.


Wiku pun mengimbau agar setiap kepala daerah dapat dengan tegas dalam menerapkan PPKM ini, supaya jumlah kematian pasien Corona tidak semakin bertambah dan banyak pasien yang bisa dirawat dengan baik, sehingga angka kesembuhan jadi meningkat.

https://nonton08.com/movies/appropriate-behavior/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar