Rabu, 22 Januari 2020

Pasangan Turis Tewas Misterius Saat Liburan di Fiji

Pasangan turis dari Texas, AS tewas secara misterius saat sedang liburan di Fiji. Penyelidikan sedang berlangsung untuk mengungkap misteri itu.

Pasangan wisatawan bernama David dan Michelle Paul dari Texas, Amerika Serikat ditemukan tidak bernyawa saat sedang liburan di Fiji. Kuat dugaan mereka terserang virus yang sampai saat ini belum terungkap.

Dikumpulkan detikcom dari beberapa sumber, Selasa (11/6/2019), kematian pasangan David dan Michelle ini sudah diinfokan ke keluarga yang bersangkutan. Otoritas setempat mengatakan lokasi kematian mereka berada di Viti Levu, pulau utama di Fiji.

"Kami mengungkapkan duka cita yang mendalam kepada pihak keluarga atas kehilangan ini. Kami terus memonitor otoritas lokal untuk menginvestigasi penyebab kematian," ujar juru bicara State Departement Fiji.

Saudara Ipar Michelle, Tracey Calanog menyebut bahwa pihak keluarga menduga pasangan David dan Michelle meninggal dunia karena terserang semacam virus.

"Mereka tahu ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam tubuh mereka. Mereka sempat pergi ke rumah sakit kok," kata Tracey.

Tracey juga menyebut pasangan David dan Michelle sehat-sehat saja sebelum meninggal dunia. David sendiri adalah seorang mantan tentara AU, sedangkan Michelle adalah ibu rumah tangga beranak satu.

Pihak keluarga menyebut jenazah David dan Michelle belum akan dipulangkan ke Amerika Serikat sebelum diketahui penyebab kematian mereka berdua.

Maskapai Ini Izinkan Pilot dan Pramugari Tampilkan Tato

Maskapai Air New Zealand akan punya kebijakan baru. Mereka mengizinkan seluruh stafnya menampilkan tato demi mengekspresikan diri dan budaya.

Dilansir dari BBC, Selasa (11/6/2019) kebijakan baru tersebut akan berlaku mulai 1 September 2019 mendatang. Sebabnya, kebanyakan staf dari maskapai Air New Zealand adalah orang asli suku Maori alias penduduk asli Selandia Baru yang punya budaya tato.

Usut punya usut, soal tato di maskapai Air New Zealand sudah jadi kontroversi sejak dulu. Maskapainya melarang tato dan mendapat kritikan dari orang-orang Selandia Baru. Malah, maskapainya kerap menggunakan aspek lain dalam budaya Maori, seperti bahasa dan simbol-simbol, dalam strategi pemasaran.

Bagi suku Maori sendiri, tato lebih dari sekadar seni. Tato merupakan simbol atau lambang yang menandai garis keturunan dan warisan budaya.

"Kami ingin membebaskan semua staf kami, termasuk pemakai seragam seperti awak kabin, pilot, dan staf pelayanan pelanggan di bandara, untuk pertama kali dapat menampilkan tato ketika mereka mengenakan seragam," kata Direktur Eksekutif Air New Zealand, Christopher Lux

Hasil riset maskapai Air New Zealand, satu dari lima warga Selandia Baru memiliki setidaknya satu tato, dengan lebih dari 35% orang berusia 30 tahun ditato.

Orang keturunan suku Maori di Selandia Baru membuat tato atau moko dengan membenamkan pahat ke dalam kulit. Tato yang dibuat pun sarat dengan tradisi, menandai keterkaitan seseorang dengan keluarga dan identitas budaya mereka. Moko seorang pria cenderung menutup wajah, sedangkan moko perempuan menghiasi dagu.

Kebijakan pencabutan larangan bertato di maskapai Air New Zealand ditempuh setelah melakukan riset selama lima bulan yang melibatkan pelanggan dan para staf.

Akan tetapi, pihak maskapainya menegaskan tato yang ditampilkan adalah tato yang tidak menyinggung. Contohnya seperti perkataan kasar, gambar cabul dan lain sebagainya.

Manakala sebuah tato sulit dimaknai apakah menyinggung atau tidak, pihak maskapai akan membentuk Panel Kajian Tato. Itu untuk membantu karyawan dan manajer menentukan apakah sebuah tato sesuai dengan kebijakan maskapai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar