Bagi para pasutri yang lama tak memiliki momongan, mereka bisa mencoba program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Meskipun biaya yang dikeluarkan tak sedikit, metode ini bisa dijadikan solusi agar segera memiliki anak.
Program bayi tabung menjadi teknologi reproduksi berbantu (TRB) dengan cara mengawinkan sperma dalam jumlah tertentu dengan sel telur. Hasil perkawinan ini akan diletakkan dalam sebuah cawan dan banyak metode bayi tabung yang berhasil hingga sukses melahirkan.
Ada beberapa kisah unik mengenai program bayi tabung, termasuk kasus embrio tertukar hingga mendapat anak kembar delapan. Bagaimana kisahnya?
1. Embrio tertukar
Menikah sejak 2012 dan belum memiliki momongan, pasutri berinisial AP dan YZ memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung di sebuah klinik kesuburan. Proses bayi tabung berjalan lancar hingga sang istri yang keturunan Asia berhasil mengandung anak kembar.
Namun, keanehan terjadi pasca ia melahirkan. Ternyata, AP melahirkan sepasang bayi dari pasangan lain karena pihak klinik salah memasukkan embrio ke rahimnya. Ia melahirkan dua bayi non-Asia yang masing-masing memiliki genetik pasien lain di klinik tersebut.
Pasangan asal New York ini mengajukan gugatan ke pihak klinik karena merasa telah dibohongi. Mereka sangat kecewa dan mengalami kerugian baik secara fisik maupun emosional, karena sudah cukup lama menantikan anak.
Mereka menuduh klinik tersebut melakukan malapraktek medis dan kelalaian, hingga mereka rugi Rp1,4 miliar. Tak sampai di situ, AP dan YZ dipaksa untuk menyerahkan kedua bayi mereka kepada orang tua genetik asli.
Ada juga yang mendapatkan bayi kembar 8 lewat bayi tabung. Bagaimana kisahnya?
KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA
https://movieon28.com/movies/notes-on-a-scandal/
Vaksin Pfizer 'Memakan Korban Jiwa', Begini yang Sesungguhnya Terjadi
Vaksin Pfizer dilaporkan 'memakan korban jiwa'. Inggris mencatat ada laporan 2 warganya menunjukkan reaksi alergi terhadap vaksin Pfizer untuk virus Corona.
Warga Inggris yang merupakan tenaga medis itu menerima suntikan vaksin Pfizer pada Selasa (8/12/2020). Keduanya dirawat setelah mendapat suntikan vaksin Corona dari Pfizer.
Dikutip BBC, kondisi kesehatan kedua tenaga medis itu kini sudah membaik. Kepala National Health Service (NHS), Professor Stephen Powis memastikan hal itu.
Dua tenaga medis itu diketahui memiliki riwayat alergi. Akibatnya keduanya mengalami gejala reaksi anafilaksis yang umumnya memicu ruam kulit, sulit bernapas, hingga turunnya tensi darah.
Dikabarkan juga ada 6 orang meninggal selama uji coba tahap akhir vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19, seperti dikutip Reuters.
Namun dari 6 orang yang meninggal selama uji coba vaksin Pfizer-BioNTech, hanya 2 dari mereka yang diberi vaksin.
Sementara 4 orang lainnya diberi larutan garam dan air plasebo yang aman. Tidak ada hubungan kausal yang ditemukan antara vaksin dan kedua kematian tersebut.
Kasus kematian yang terjadi dinilai sejalan dengan angka kematian normal untuk populasi umum.
Terdapat juga 4 kasus Bell's Palsy (kelumpuhan wajah sebagian), tetapi tidak dianggap disebabkan oleh vaksin.
Pihak berwenang menyatakan gejala tersebut akan diawasi saat vaksin untuk COVID-19 didistribusikan.
Karena itu, otoritas kesehatan Inggris mengimbau, orang yang memiliki alergi terhadap obat dan makanan atau anafilaksis dilarang disuntik vaksin Pfizer.
Dosis kedua tidak boleh diberikan kepada siapa pun yang telah mengalami anafilaksis setelah pemberian dosis pertama vaksin ini.
Di sisi lain, FDA atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat mengungkapkan efek samping sementara dari vaksin Pfizer-BioNTech umum terjadi.
Artinya tidak ada masalah keamanan spesifik yang diidentifikasi yang akan menghalangi penerbitan izin penggunaan darurat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar